Aih! Saya kira ini akan mudah.
Nyatanya tidak. Terlalu banyak musisi menarik dari Jawa Timur— ndahneo seantero Indonesia. Di Malang saja, kita punya Sal Priadi, Coldiac, Iksan Skuter, sampai kugiran terbaik sepanjang masa: Tani Maju. Belum menghitung kota-kota lain.
Saya butuh waktu tiga minggu untuk menyusun senarai ini. Mulai dari riset, mencari info sana-sini, hingga—tentu saja—mendengarkan lagu-lagu mereka, sebelum masuk pada kesimpulan: “Kayaknya 5 musisi ini cukup menarik dinanti deh.”
Selamat membaca!
1. holigrey (Mojokerto)

https://www.youtube.com/watch?v=KgI_3EF0Ols
“Rasa takut keraguan seakan menjauh.
Tutur kata cukup ringan namun tak terbantah.
Bekerja seperti hidup ‘tuk seribu tahun,
Bersyukur seperti mati esok, itulah dirinya.”
Kita bisa berdebat soal seisi senarai ini. Tetapi yang jelas: holigrey adalah batu manikam dari Jawa Timur. Kuartet reggae-kreasi ini kelewat canggih, baik secara musik maupun lirik. Aldio Khalisa (vokalis-gitaris) adalah salah satu lirikus Indonesia favorit saya. Sementara Candra Megah (gitaris, sekarang bassist) adalah produser yang punya visi musik yang cukup menarik. Oh, kabarnya, mereka akan merilis album penuh tahun ini.
Intinya sih satu: saya harap Anda segera meninggalkan tulisan ini dan mendengarkan mereka sekarang juga. Cepat!
- Rekomendasi Lagu: “Tidak Apa-apa Untuk Tidak Melakukan Apa-apa”
2. Ismam Saurus(Lumajang)

https://youtu.be/6SsNa7mNc6Y?si=fNnECOAuKGSc9nZU
Album pertama Ismam Saurus, Orang Desa (2021) tidak terlalu berkesan untuk saya. Tetapi album keduanya, Pelita (yang baru dirilis bulan Mei 2026 kemarin) beda cerita.
Entah apa dan bagaimana, ada “kedewasaan” tersendiri yang terpancar di seisi album ini. Dia tak perlu lagi membuktikan “Aku orang desa”— berikut segala sesuatu yang (dikesankan) ada di sekitarnya. Itu menurut saya sebuah hal baik. Secara musik tidak banyak berubah: berbasis akustik, namun dengan beberapa kejutan di sana-sini. Saya tak punya pembanding selain album Sweet Baby James (James Taylor) atau Rocky Mountain High (John Denver). Bedanya, lirik-lirik Ismam lebih “membumi”, dibandingkan lirik-lirik James Taylor yang kadang getir atau John Denver yang lebih lanskap-nostalgis.
Baca Juga : Kalender Hijriah Juni 2026, Lengkap dengan Jadwal Puasa Sunnah dan Tanggal Tahun Baru Islam 1448 H
Tak ketinggalan, dia menghadirkan Iksan Skuter dan Nosstress sebagai kolaborator di dua trek di album ini. Sila dengarkan seisi albumnya.
- Rekomendasi Lagu: ““Kisah Cinta Di Atas Motor”
3. Eastcape (Malang)

https://youtu.be/RUayGp1jO9A?si=JEqhqrsmvKh-bvqx
Di sebuah acara, saya sempat melempar sebuah guyonan ke bocil-bocil skena: “Postinglah Eastcape di TikTok, niscaya kamu auto FYP.” Tentu ini berbasis data. Kita bisa melihat bagaimana tumpah-ruah emosi di setiap konsernya; seakan mereka nabi musika yang turun ke dunia ‘tuk tenangkan duka lara.
“Awalnya kaget ngelihat temen-temen singalong bahkan sampai nangis di gigs-gigs Eastcape,” tutur Jul (vokalis), “Tapi itu berarti lagu-lagu kami relate sama mereka. Sesuatu yang bikin kami bersyukur.”
Selain gelombang subkultur midwest-emo yang masih ngetren di Indonesia, lirik-lirik self-deprecating ternyata mereka punya daya tarik sendiri. “Goodbye Summer” dan “Hope You Found Me”, dua lagu mereka masing-masing mendulang 3,5 juta dan 3,3 juta streams di Spotify (data 18 Mei 2026). Single anyar mereka, “Regret”, baru saja dirilis akhir tahun lalu. Kabarnya sih mereka mau ngalbum. Kita tunggu saja.
- Rekomendasi Lagu: “Regret"
4. The Caroline’s (Surabaya)
https://youtu.be/2u0KugScg2A?si=X46w13ILfV_39sEf
Pop-centil (twee-pop) mungkin bukan cangkir teh saya, tetapi saya suka lagu-lagu berlirik bagus. Itulah kenapa saya bisa mendengarkan The Caroline’s dengan khidmat. Mereka punya frasa-frasa brengsek seperti “dunia belum berakhir, tetapi waktu telah berhenti” yang bikin auto makdheg– bahkan sebelum mendengarkan lagunya.
Kekecewaan umur 20-an akan diri sendiri, sekitar, dan tata ruang bernama kota itu begitu kentara di album mereka, mediocre twenties in a not-so-metropolitan setting. Pendek kata, ada lema-lema keterasingan di balik nuansa ceria musik mereka; sesuatu yang mengingatkan saya pada modus operandi musikal The Smiths.
Baca Juga : 20 Wilayah Terpanas di Indonesia, Jawa Timur Masuk Daftar?
Oh, saya berharap mereka membuat lebih banyak lagu berbahasa Indonesia. Biaya rekaman– apalagi bikin album– emang mahal. Tapi tak ada salahnya berharap, tho?
- Rekomendasi Lagu: "dunia belum berakhir, tetapi waktu telah berhenti"
5. Diossoulo (Kediri)

https://youtu.be/V5jjCzJucts?si=AvVIbY3ofYRjtxGB
Diossoulo adalah proyek tunggal dari Pradio Manggara Putra, frontman kawula rock asal Kediri, IGMO. Konon, ia adalah piranti “pelampiasan” akan lagu-lagu yang tidak bisa masuk ke bandnya itu. Mengutip kata-katanya, “IGMO adalah titik tengah, sedang Diossoulo adalah ekstrem kiri dan kanan pengkaryaanku. Dia bisa begitu simpel namun bisa saja begitu kompleks.”
Dalam bahasa bayi, musiknya bisa sesunyi Nick Drake juga mampu seliar Gentle Giant.
Untuk mencerna maksudnya, sila dengarkan EP berjudul Portrait of Cloistered Space. Kebetulan dia baru merilisnya tanggal 27 Mei 2026. Fresh from the oven!
Rekomendasi Lagu: “Cloistered Space Survival II”
-KMPL- (@randy_kempel)
**
Tentang Penulis
Randy Levin Virgiawan, akrab disapa KMPL adalah pendengar musik asal kota Kediri. Sehari-hari ia bekerja sebagai praktisi musik sembari menulis berbagai hal: esai, puisi, hingga lirik lagu. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di TEMPO, Whiteboardjournal, Sudutkantin, dan banyak lainnya.
Buku puisi pertamanya, pelarian-pelarian terbit pada bulan Mei 2026. Naskahnya tentang Tani Maju dimuat pada buku Ritmekota: Kumpulan Tulisan Musik dari Kota Malang yang diterbitkan Pelangi Sastra pada tahun 2019.
Jejaring sosial: @randy_kempel