free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Ekonomi

Pengusaha Malang Bicara Tren Industri Advertising dan Packaging

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

16 - May - 2026, 18:24

Loading Placeholder
Pengusaha advertising dan food packaging asal Malang, Rachmad Santoso (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di tengah gempuran digitalisasi dan ketidakpastian ekonomi global, industri advertising maupun food packaging di Kota Malang dinilai masih memiliki prospek besar. Namun, perubahan pola pasar membuat pelaku usaha harus bergerak lebih adaptif, detail, dan memiliki manajemen yang kuat agar mampu bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.

Pandangan itu disampaikan pengusaha advertising dan food packaging asal Malang, Rachmad Santoso. Menurutnya, industri percetakan saat ini tidak lagi sekadar berbicara soal produksi, tetapi juga soal ketahanan organisasi dan kemampuan membaca perubahan pasar.

Baca Juga : Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Malang Ungguli Nasional, Ini Kata Bupati Sanusi

Rachmad menilai ada tiga faktor utama yang menjadi penopang industri percetakan dan packaging. Faktor pertama adalah kekuatan mesin produksi, kedua kekompakan tim kerja, dan ketiga kemampuan manajerial yang mencakup marketing, produksi, hingga pengelolaan keuangan.

“Percetakan itu sejatinya lini jasa. Yang paling utama ya kekuatan mesin produksi, teamwork, dan kelincahan manajerial. Itu sangat menentukan,” katanya saat diwawancarai, Sabtu, (16/5/2026).

Ia mengaku tantangan di industri packaging jauh lebih kompleks dibanding saat dirinya masih fokus di commercial printing. Menurutnya, perputaran bisnis di sektor packaging jauh lebih cepat dengan nilai transaksi yang besar sehingga membutuhkan kewaspadaan tinggi dalam pengelolaan usaha.

“Kalau dulu di commercial printing masih lebih santai. Sekarang di packaging, perputaran uangnya cepat sekali. Bahan baku, kesiapan mesin, kesiapan tim, semuanya harus benar-benar diperhatikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sektor food packaging menjadi salah satu lini usaha yang diyakini akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Alasannya sederhana, kebutuhan makanan tidak pernah berhenti dan persaingan produk di pasar semakin tinggi. Dalam kondisi itu, kemasan menjadi elemen penting yang menentukan keputusan konsumen.

Menurut Rachmad, kemasan tidak hanya berfungsi membungkus produk, tetapi juga menjadi alat komunikasi visual yang mampu memengaruhi psikologi pembeli di rak supermarket maupun toko modern.

Packaging sangat menentukan mata orang tertuju pada produk. Kadang orang akhirnya membeli karena kemasannya menarik, gampang dibawa, gampang disimpan, dan terlihat lebih meyakinkan,” katanya.

Ia menyebut tren packaging saat ini mulai bergerak ke arah yang lebih ramah lingkungan. Jika beberapa tahun lalu flexible packaging berbahan plastik berkembang sangat pesat, kini kondisi mulai berubah akibat isu ekologis dan mahalnya bahan baku plastik yang terdampak situasi geopolitik global.

Rachmad menjelaskan, perang dan ketidakstabilan ekonomi dunia ikut memengaruhi harga minyak serta bahan turunan seperti nafta yang menjadi komponen utama plastik. Dampaknya, biaya produksi kemasan berbahan plastik meningkat signifikan.

Paper packaging menurut saya akan berkembang lebih besar lagi. Sekarang masyarakat juga mulai terbiasa dengan konsep eco-friendly. Sedotan plastik mulai ditinggalkan, kantong kresek juga mulai dikurangi,” ujarnya.

Ia melihat perubahan perilaku konsumen pasca pandemi COVID-19 turut mempercepat transisi menuju kemasan berbahan kertas dan material yang lebih berkelanjutan. Banyak pelaku usaha kini mulai membangun citra bisnis yang peduli lingkungan karena dianggap lebih relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.

Di sisi lain, Rachmad juga menyoroti perkembangan industri advertising luar ruang yang mulai mengalami perubahan pola. Menurutnya, iklan digital memang memberi tekanan besar terhadap bisnis billboard dan baliho konvensional, tetapi bukan berarti pasar reklame luar ruang hilang sepenuhnya.

Baca Juga : Golkar DPRD Jatim Ingatkan Pemprov Tak Terjebak Statistik, Kantong Kemiskinan Masih Nyata

Advertising offline masih dibutuhkan. Memang lebih selektif sekarang, tapi tetap ada pasar untuk produk-produk yang sudah scale up dan membutuhkan branding besar ke masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan pelaku usaha kini lebih berhati-hati dalam memilih titik pemasangan reklame. Selain karena biaya yang semakin tinggi, regulasi pemerintah terkait penataan kota dan isu lingkungan juga membuat pemasangan billboard tidak bisa lagi dilakukan secara masif seperti dulu.

“Sekarang orang beriklan pasti memilih lokasi yang benar-benar strategis. Perizinan juga makin ketat karena ada tuntutan penataan kota dan kenyamanan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Rachmad, tren tersebut membuat industri advertising harus mampu beradaptasi dengan konsep kota modern yang lebih tertata dan ramah lingkungan. Ia menilai sinkronisasi antara pemerintah, operator reklame, dan pengguna iklan menjadi penting agar pembangunan kota tetap memiliki arah yang jelas.

Meski perkembangan videotron mulai terlihat di sejumlah kota besar, Rachmad mengaku masih berhati-hati untuk masuk ke bisnis tersebut di Malang. Ia menilai karakter Kota Malang belum sepenuhnya berada pada level metropolitan yang mampu menopang investasi videotron dalam skala besar.

“Sempat kepikiran bikin videotron berjalan atau mobile videotron, tapi mungkin lebih cocok di kota seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, atau Denpasar yang ritme bisnisnya lebih metropolitan,” katanya.

Di tengah seluruh dinamika tersebut, Rachmad menekankan satu hal penting dalam dunia industri, yakni penghargaan terhadap seluruh elemen pekerja dalam organisasi. Menurutnya, setiap divisi memiliki peran besar terhadap keberlangsungan produksi, termasuk petugas limbah B3 maupun tim keselamatan kerja.

“Sekecil apa pun peran seseorang di dalam usaha itu punya dampak besar. Orang yang mengurusi limbah B3 atau K3 misalnya, itu sangat penting. Kalau tidak berjalan baik, bisa terjadi kecelakaan kerja dan masalah produksi,” ujarnya.

Ia berharap pelaku industri percetakan, packaging, maupun advertising mampu terus bertransformasi mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama perusahaan.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi

--- Iklan Sponsor ---