JATIMTIMES - Terobosan baru lahir dari Kota Malang di bidang teknologi komunikasi kebencanaan. Seorang warga, Arya Dega, bersama komunitas yang ia dirikan, menghadirkan sistem notifikasi gempa berbasis jaringan mesh yang tetap bisa berfungsi meski tanpa internet maupun sinyal seluler.
Inovasi tersebut diberi nama MeshNode WRS (Warning Relay System). Sistem ini dirancang sebagai solusi alternatif untuk memastikan informasi kebencanaan tetap tersampaikan kepada masyarakat saat jaringan komunikasi konvensional mengalami gangguan, terutama dalam situasi darurat.
Baca Juga : Guru Non-ASN Dilarang Mengajar di Sekolah Negeri? Ini Isi Lengkap SE Mendikdasmen 2026
Arya Dega, selaku pendiri MeshNode Indonesia, menegaskan bahwa sistem ini bukanlah alat peringatan dini gempa, melainkan sarana distribusi informasi resmi setelah dirilis oleh pihak berwenang.
"Sistem ini bukan peringatan dini gempa. Informasi dikirim setelah data resmi dirilis oleh BMKG. Fokus kami adalah memastikan informasi tetap bisa diterima meskipun jaringan internet atau seluler terganggu," Arya.
Dalam operasionalnya, MeshNode WRS mengambil data gempa resmi dari BMKG, kemudian menyebarkannya kepada pengguna melalui jaringan mesh berbasis teknologi meshtastic. Sistem ini memungkinkan perangkat saling terhubung secara langsung atau device-to-device tanpa bergantung pada BTS atau operator telekomunikasi.
Selama masih terdapat node aktif di dalam jaringan, informasi akan terus diteruskan dari satu perangkat ke perangkat lainnya. Skema inilah yang membuat sistem tetap berjalan meskipun koneksi internet terputus total.
Keunggulan tersebut menjadikan MeshNode WRS dinilai relevan untuk digunakan saat terjadi bencana alam ketika jaringan komunikasi kerap mengalami gangguan.
Tidak hanya informasi gempa. Sistem ini juga mampu menyertakan data potensi tsunami berdasarkan rilis resmi BMKG.
Baca Juga : Lupakan Kamera Mahal, AI Kini Bisa Bikin Video Viral dalam Hitungan Menit
Pengembangan MeshNode WRS sendiri tidak dilakukan secara individu. Arya menggandeng sejumlah pengembang dari berbagai daerah, seperti Indra Lesmana dari Bandung, Budi Kurniawan dari Padang, serta Yoga Sakti dari Klaten. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan distribusi data berbasis jaringan mesh yang bersifat terbuka dan dapat dimanfaatkan oleh komunitas luas.
MeshNode Indonesia juga membuka peluang partisipasi publik bagi masyarakat yang ingin ikut mengembangkan maupun menggunakan sistem tersebut. Diskusi teknis hingga panduan penggunaan dapat diakses melalui forum Discord bertajuk Ruang Diskusi Bersama, khususnya pada kanal #server-mqtt-map. Selain itu, pembaruan informasi terkait pengembangan proyek rutin dibagikan melalui akun Instagram resmi komunitas.
Sebagai komunitas yang fokus pada pengembangan teknologi komunikasi masa depan berbasis sistem terbuka, MeshNode Indonesia menilai kehadiran solusi alternatif seperti ini sangat penting untuk memperkuat ketahanan komunikasi masyarakat.
"Dengan hadirnya MeshNode WRS, kami berharap informasi kebencanaan tetap dapat dijangkau masyarakat luas, meski dalam kondisi darurat," tandasnya.