JATIMTIMES - Kerusakan fasilitas playground di Alun-Alun Kota Malang akhirnya terkuak. Dinas Lingkungan Hidup (Dlh) Kota Malang memastikan bahwa wahana yang mengalami kerusakan bukan fasilitas baru, melainkan modul lama yang sebelumnya tetap dipertahankan dalam proyek penataan.
Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, menjelaskan bahwa pembangunan playground memang menggabungkan sejumlah elemen lama dan baru. Dalam prosesnya, tidak semua fasilitas diganti total karena sebagian masih dianggap layak diperbaiki saat tahap perencanaan.
Baca Juga : Pihak Kecamatan Genteng Cari Win-Win Solution Pembangunan Gedung PT Wulandaya
“Playground itu kan ada beberapa tempat. Ada yang semua diperbaiki baru, ada yang diganti baru, dan ada sambungan lama yang tidak diganti tapi diperbaiki,” ujar Raymond.
Namun, kondisi di lapangan berubah saat proyek mulai dikerjakan. Modul lama yang semula dinilai masih bisa diperbaiki justru mengalami kerusakan yang semakin parah sehingga idealnya perlu diganti baru.
“Awalnya kondisi modul masih memungkinkan diperbaiki. Tapi saat pelaksanaan, kerusakannya semakin lebar, seharusnya diganti. Namun karena di anggaran tertulis perbaikan, maka tetap diperbaiki,” imbuhnya.
Raymond mengakui bahwa material playground berbahan resin memiliki keterbatasan, terutama ketika sudah mengalami kerusakan patah. Hal ini membuat daya tahan setelah perbaikan tidak bisa dijamin sepenuhnya.
“Jaminan ketahanan pasca perbaikan tidak bisa diberikan karena kondisi kerusakan patah pada playground existing,” jelasnya.
Meski demikian, DLH memastikan pihak vendor tetap bertanggung jawab atas kondisi tersebut selama masa pemeliharaan. Dalam waktu dekat, pengecekan ulang akan dilakukan untuk mempercepat proses perbaikan.
“Ini masih dalam masa pemeliharaan, jadi nanti vendor akan melakukan perbaikan. Dalam minggu ini akan dicek untuk segera diperbaiki,” katanya.
Selain faktor teknis, penggunaan fasilitas yang kurang tepat juga disebut turut mempercepat kerusakan. Minimnya pengawasan saat anak-anak bermain menjadi perhatian serius pihak DLH.
Baca Juga : Peringati Hardiknas, Pemkab Kediri Genjot Penanganan Anak Tidak Sekolah
“Yang kurang itu penjagaan saat anak-anak bermain. Ada yang seharusnya perosotan, tapi diinjak-injak, dilompat-lompatin. Itu tidak boleh,” ungkap Raymond.
Di sisi lain, DLH juga mencatat persoalan antrean yang tidak tertib. Karena tidak ada pembatasan waktu, banyak anak yang bermain terlalu lama sehingga menghambat pengguna lain.
“Karena gratis, anak-anak bisa bermain satu sampai dua jam dan tidak mau bergantian. Ke depan kami rencanakan sistem tiket supaya ada pembatasan waktu,” ujarnya.
Untuk mempercepat pemulihan fasilitas, sejumlah area playground akan ditutup sementara dalam beberapa hari ke depan. Langkah ini diambil agar proses perbaikan dapat dilakukan secara maksimal.
“Kita hentikan dulu beberapa hari untuk perbaikan. Ini yang rusak bukan yang baru, tapi yang lama yang diperbaiki,” pungkasnya.