JATIMTIMES - Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance kini menjadi salah satu ukuran penting kesejahteraan pekerja di berbagai negara. Di tengah tren kerja fleksibel dan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, banyak orang mulai menilai bahwa bekerja terus-menerus tanpa waktu istirahat bukan lagi standar ideal.
Namun, tidak semua negara berhasil menciptakan kondisi kerja yang sehat. Laporan Global Life-Work Balance Index 2025 yang dirilis Remote.com menunjukkan masih banyak negara dengan kualitas work-life balance rendah, termasuk beberapa negara dengan ekonomi besar dunia.
Baca Juga : Gubes UIN Maliki Malang Kritik Arah Pendidikan Indonesia: Anggaran Besar, Prestasi Rendah
Dalam riset tersebut, Remote.com menganalisis 60 negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar. Setiap negara diberi skor komposit dari 100 berdasarkan sejumlah indikator yang berhubungan dengan kesejahteraan pekerja.
Beberapa faktor yang dinilai antara lain:
• Jam kerja rata-rata per minggu
• Hak cuti tahunan berbayar
• Cuti sakit
• Cuti melahirkan
• Tingkat upah minimum
• Akses layanan kesehatan
• Indeks kebahagiaan masyarakat
• Keamanan negara
• Inklusivitas sosial
Semakin rendah skor yang diperoleh, semakin buruk kualitas keseimbangan hidup dan kerja di negara tersebut.
Amerika Serikat berada di posisi ke-59 dari 60 negara, atau menjadi negara dengan work-life balance terburuk kedua di dunia. Negara dengan ekonomi terbesar dunia itu hanya memperoleh skor 31,17.
Salah satu penyebab utamanya adalah tidak adanya kewajiban cuti berbayar dan cuti melahirkan secara federal. Kondisi ini membuat kesejahteraan pekerja dinilai belum menjadi prioritas utama.
Posisi AS juga terus merosot dalam tiga tahun terakhir:
• 2023: peringkat 53
• 2024: peringkat 55
• 2025: peringkat 59
Posisi paling bawah ditempati Nigeria dengan skor 30,07. Rendahnya akses kesehatan, minimnya perlindungan pekerja, serta tingkat keamanan yang rendah menjadi penyebab utama.
Selain itu, budaya kerja dengan tuntutan lembur dan tetap aktif di luar jam kerja juga memperburuk kondisi pekerja di negara tersebut.
Beberapa negara di Asia dan Timur Tengah juga masuk dalam daftar terbawah, seperti China, India, Qatar, hingga Uni Emirat Arab.
China memiliki rata-rata jam kerja 46,1 jam per minggu dengan cuti tahunan yang terbatas.
India mencatat jam kerja 45,7 jam per minggu dengan upah minimum sangat rendah.
Uni Emirat Arab bahkan hampir menyentuh 49 jam kerja per minggu.
Kabar baiknya, Indonesia tidak masuk dalam 20 negara dengan work-life balance terburuk dunia.
Indonesia memperoleh skor 51,22 dan berada di posisi 35 dari 60 negara. Posisi ini lebih baik dibanding Vietnam dan Thailand, namun masih berada di bawah Singapura dan Malaysia.
Baca Juga : Hari Pendidikan Nasional dan Janji yang Belum Tuntas
Negara dengan work-life balance terbaik tahun 2025 ditempati Selandia Baru dengan skor 86,59, disusul Irlandia dengan skor 81,17.
Daftar 20 Negara dengan Work-Life Balance Terburuk 2025
Berikut daftar lengkap berdasarkan laporan Remote.com:
• Nigeria
• Amerika Serikat
• Mesir
• Ethiopia
• Irak
• Pakistan
• Qatar
• Bangladesh
• China
• Maroko
• Iran
• Turki
• Aljazair
• Hong Kong
• Kazakhstan
• Uni Emirat Arab
• Meksiko
• Rusia
• Filipina
• India.
Laporan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan pekerja. Negara besar sekalipun masih bisa memiliki kualitas work-life balance yang rendah jika jam kerja terlalu panjang, hak cuti minim, dan perlindungan sosial belum memadai.