JATIMTIMES - Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan literasi digital di Kantor Kelurahan Klampok, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Kamis (16/4/2026). Melalui dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara bersama mahasiswa semester II, kampus tersebut menggelar sosialisasi bertema Mengenal dan Melawan Hoaks AI melalui Edukasi.
Kegiatan ini menyasar kalangan ibu-ibu PKK, petugas Posyandu, dan tenaga pendidik PAUD sebagai kelompok masyarakat yang aktif berinteraksi di ruang publik sekaligus pengguna media sosial dalam keseharian. Pemilihan sasaran itu dinilai strategis karena mereka memiliki peran penting dalam penyebaran informasi di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Baca Juga : Hari Otonomi Daerah ke-30, Bupati Situbondo Ajak Wujudkan Asta Cita dan Perkuat Sinergi Pusat-Daerah
Dosen pembimbing kegiatan, Ferida Asih Wiludjeng, S.Sos, M.AP, mengatakan perkembangan teknologi digital telah membawa banyak kemudahan, tetapi di saat bersamaan juga melahirkan tantangan baru berupa penyebaran informasi palsu berbasis kecerdasan buatan. “Teknologi harus dimanfaatkan untuk kemajuan, bukan menjadi alat penyebaran kebohongan. Karena itu masyarakat perlu dibekali kemampuan memilah informasi dan memahami risiko hoaks berbasis AI,” ujarnya.
Menurut dia, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence kini berkembang sangat cepat dan memengaruhi banyak aspek kehidupan. Teknologi tersebut digunakan dalam bidang pendidikan, kesehatan, bisnis, pelayanan publik, hingga komunikasi sehari-hari. Namun kemampuan AI dalam menghasilkan teks, gambar, suara, maupun video realistis juga berpotensi disalahgunakan.
Dalam pemaparannya, peserta dikenalkan pada fenomena deepfake, yakni manipulasi wajah atau suara seseorang dalam video sehingga tampak asli. Selain itu, peserta juga diberi contoh teks otomatis dan gambar rekayasa yang kerap dipakai untuk menyebarkan informasi menyesatkan.
Ferida menjelaskan, hoaks berbasis AI lebih berbahaya dibanding hoaks konvensional karena tampilannya semakin meyakinkan. Banyak orang bisa tertipu jika tidak memiliki kebiasaan memeriksa sumber informasi.
“Kalau dulu hoaks mudah dikenali dari tulisan yang berantakan, sekarang bentuknya bisa video rapi, suara mirip tokoh asli, atau gambar yang sangat realistis. Ini yang harus diwaspadai bersama,” katanya.
Bekali Warga Cara Mengenali Hoaks
Dalam sesi edukasi, peserta diajak memahami langkah sederhana mengenali hoaks AI. Di antaranya memeriksa sumber informasi, membaca isi pesan secara utuh, membandingkan dengan media terpercaya, serta memperhatikan kejanggalan visual atau narasi yang terlalu provokatif.
Mahasiswa juga mendampingi peserta dalam diskusi interaktif mengenai contoh-contoh informasi palsu yang sering beredar melalui grup percakapan maupun media sosial. Pendekatan ini membuat materi lebih mudah dipahami dan dekat dengan pengalaman sehari-hari warga.
Ferida menegaskan kebiasaan menahan diri sebelum membagikan pesan merupakan langkah paling sederhana namun sangat penting.
“Jangan langsung meneruskan informasi yang belum jelas. Pastikan dulu kebenarannya. Sikap sederhana seperti itu bisa mencegah kepanikan dan melindungi banyak orang,” ujarnya.

Peserta Antusias Ikuti Diskusi
Kegiatan berlangsung dinamis. Peserta aktif mengajukan pertanyaan, terutama mengenai cara membedakan video asli dan video rekayasa, keamanan data pribadi di internet, serta dampak psikologis jika seseorang menjadi korban fitnah digital.
Antusiasme peserta menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap literasi digital semakin tinggi. Di tengah arus informasi yang deras, warga membutuhkan panduan praktis agar tidak mudah terjebak berita bohong yang memicu keresahan sosial.
Baca Juga : Marak Diburu, Ini Alasan Ikan Sapu-Sapu Jadi Ancaman Menurut Pakar
Salah satu peserta dari unsur PKK mengaku materi tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Menurut dia, banyak pesan berantai di media sosial yang sulit dibedakan antara fakta dan manipulasi.
“Kadang kami menerima video atau informasi yang terlihat meyakinkan. Setelah ikut sosialisasi ini, kami jadi lebih paham pentingnya mengecek dulu sebelum percaya,” katanya.
Wujud Tridharma Perguruan Tinggi
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kampus tidak hanya berperan mencetak lulusan, tetapi juga hadir menjawab kebutuhan masyarakat melalui edukasi yang aplikatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui keterlibatan mahasiswa semester II, peserta didik diajak belajar langsung berinteraksi dengan masyarakat, memahami persoalan publik, serta mengasah kemampuan komunikasi dan pelayanan sosial.
Program Studi Ilmu Administrasi Negara Unisba Blitar menilai penguatan literasi digital masyarakat merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia. Warga yang cakap informasi akan lebih siap menghadapi perubahan teknologi sekaligus mampu menjaga ruang digital tetap sehat.
Ferida berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang sosialisasi, tetapi diteruskan ke lingkungan sekitar.
“Kami berharap ibu-ibu PKK, kader Posyandu, dan tenaga PAUD bisa menjadi agen edukasi di lingkungannya masing-masing. Jika pengetahuan ini menyebar, manfaatnya akan jauh lebih besar,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, Unisba Blitar menegaskan komitmennya mendukung pembangunan masyarakat yang cerdas, adaptif, dan tangguh menghadapi tantangan era digital.