JATIMTIMES - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang berencana menerbitkan buku tentang strategi penanganan anak tidak sekolah (ATS). Hal tersebut untuk dapat memberikan panduan penanganan ATS, baik bagi masyarakat maupun tenaga pendidik.
Selain itu menurut Kepala Disdikbud Kota Malang Suwarjana, penerbitan buku tersebut juga menjadi bukti konkret keseriusan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dalam menangani ATS. Bahkan menurutnya, daerah lain masih belum seserius Kota Malang dalam penanganan ATS.
Baca Juga : Wamendagri Bima Arya Minta Mas Ibin Kuatkan Sektor Pariwisata
"Makanya Kota Malang juga sering dijadikan rujukan bagaimana penanganan ATS. Daerah lain yang studi kasus ke sini, itu kasus ATS bisa sampai di atas 20 ribu," ujar Jana, sapaan akrabnya.
Catatan JatimTIMES, penanganan ATS di Kota Malang telah menunjukan progres yang signifikan. Hingga Februari 2025, jumlah ATS di Kota Malang telah berkurang lebih dari 50 persen, dari 6.600 anak pada Juni 2024 menjadi 3.406 anak saat ini.
Jana mengatakan, salah satu hal yang menjadi tantangan dalam melakukan penanganan ATS adalah bagaimana merubah pola pikir sebagian orang tua yang begitu saja memperbolehkan putra-putrinya berhenti sekolah untuk bekerja. Bahkan hal tersebut menurutnya telah membudaya.
"Bagaimana orang tua mau menyekolahkan anaknya. Bisa dan boleh bekerja, tetapi jangan sampai putus sekolahnya. Tunggu selesai dulu sekolahnya," jelas Jana.
Menurutnya, salah satu hal yang banyak menjadi penyebab anak enggan melanjutkan sekolah adalah lingkungan yang kurang mendukung. Ditambah lagi, biasanya seorang anak juga merasa lebih nyaman setelah bekerja, hingga enggan melanjutkan sekolah.
"Mungkin karena lingkungan. Sudah terlanjur nyaman bekerja, nyaman dengan lingkungannya," imbuhnya.
Baca Juga : Sering Diucapkan Jelang Datangnya Ramadan, Apa Arti Marhaban Ya Ramadan?
Selain itu, tantangan selanjutnya yakni pada perempuan yang telah menikah. Saat akan dilakukan penanganan, yang bersangkutan tidak mendapatkan restu dari sang suami untuk melanjutkan sekolah.
"Itu bisa saja (ditangani). Tetapi tetap kami upayakan untuk bisa kembali sekolah. Misalnya dengan mengambil paket belajar. Mungkin mereka belum merasakan kebutuhannya hari ini, tapi suatu saat kan kalau mau melamar kerja itu butuh ijazah," terang Jana.
Dirinya memastikan bahwa penanganan terhadap ATS terus dilakukan. Namun hal tersebut juga bergantung bagaimana masyarakat dalam menyikapinya. Termasuk sejumlah orang tua yang terkadang menginginkan anaknya segera bekerja.
"Terkadang orangtua itu kan pingin anaknya cepat kerja, praktis. Mereka tidak memikirkan efek kedepannya bagi si anak. Makanya kami galakkan penanganan anak tidak sekolah (ATS) di Kota Malang," pungkas Jana.