free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Ruang Sastra

Zuhud

Penulis : Nyaris Penulis - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

24 - Feb - 2025, 18:58

Loading Placeholder
Bendera duka saat sosok ayah dari Nyaris Penulis telah wafat yang dikibarkan ketika masa berkabung. (Foto: Dokumentasi Nyaris Penulis)

JATIMTIMES - Cerpen berjudul Zuhud merupakan kelanjutan dari alur cerita sebelumnya. Yakni Cerpen berjudul Disleksia. Mengkisahkan perjuangan seorang bocah pengidap gangguan belajar namun bercita-cita berprofesi yang sejatinya berlawanan dengan disleksia yang menderanya.

Namun keajaiban doa dan ketekunannya ternyata mengantarkannya pada terwujudnya mimpi tersebut. Hingga akhirnya, perjalanannya merangkai mimpi berpacu dengan usia orang tuanya yang ternyata telah lansia.

Baca Juga : Disleksia

Terwujudnya sebagian mimpi, asa, dan cita-cita yang dititipkan Tuhan kepadanya pada akhirnya menyudutkan pada sebuah persoalan baru. Saat di mana, bocah yang kini telah dewasa tersebut, akhirnya menjumpai apa itu yang dimaksud "Zuhud". Pelajaran yang ia pelajari usai ayahnya meninggal dunia pada usianya yang telah senja.

Bagaimana kisah selanjutnya, berikut alur ceritanya:

-----------------------------------------------------

Siang itu, sekitar pukul 12.00 WIB, 3 Februari 2025. Aku mendapat kabar ayahku mendadak sakit dan harus segera dilarikan ke rumah sakit.

Kabar yang aku terima dari tetangga, ayahku harus dilarikan ke rumah sakit karena mendadak serangan jantung dan sudah kritis. Tanpa berfikir panjang, pesan tersebut aku sampaikan kepada saudara kandungku. Mbak dan masku yang sama-sama di perantauan.

Kami saat itu kaget. Sebab, ayahku tak punya riwayat sakit jantung. Lantaran tak ada waktu luang, kami bertiga saling berbagi tugas. Kakak pertamaku, yaitu mbak, bertugas mengamankan kondisi kedua orang tua kami melalui telepon. Setidaknya memastikan ayah mendapatkan penanganan medis.

Sementara aku dan kakak keduaku, yakni masku, bertugas balik kampung karena ibu kami juga telah lansia. Mustahil bisa urus administrasi agar ayahku bisa segera terlayani di rumah sakit.

Seolah semesta mendukung, Pimpinan Redaksi (Pimred) waktu aku izin menjenguk orang tuaku langsung menyetujui. Padahal, belum lama, sekitar empat hari sebelumnya, aku baru saja selesai mengambil jatah cuti untuk menjenguk orang tuaku.

Bergegaslah pulang ke rumah. Ku ambil pakaian ganti seadanya. Beruntung, di rumah ada dua jenis kendaraan. Mobil dan sepeda motor yang sama-sama butut tapi masih layak dikendarai. Sempat terpikir bawa mobil untuk pulang, jaga-jaga kalau ayah sudah boleh rawat jalan, bisa pulang ke rumah tanpa harus pesan taksi online. Seperti sebelum-sebelumya saat sempat rawat inap di rumah sakit.

Tapi niat itu ku urungkan. Aku pulang pakai sepeda motor. Pertimbangannya, agar cepat sampai ke kampung halaman, terus ke rumah sakit menjenguk ayahku.

Secara normal, seharusnya perjalanan butuh waktu 5 jam. Tapi entah kenapa, saat itu jalanan sepi, tidak hujan. Alhasil, aku bisa "menjambak" gas hingga kecepatan maksimal. Pada akhirnya, aku tiba di rumah sakit yang ada di kampung halamanku dengan waktu yang hanya 3,5 jam.

Meskipun terasa sedikit capek, sebab, di tengah kerja lanjut perjalanan sejauh kurang lebih 170 kilometer. Jarak itu adalah dua kali lipat area peliputan ku yang seharinya terkadang bisa mencapai 50-80 kilometer.

Setibanya di rumah sakit aku tak kunjung menemukan di mana ayahku di rawat. Meski kucari hingga nyaris 1 jam. Di tengah kegundahanku, pada saat itu aku melihat bangunan masjid. Di situ tempatku menghela nafas sembari mengugurkan kewajiban sebagai umat muslim.

Setelahnya, aku bertanya ke seorang perawat. Jika sebelumnya, setiap perawat yang aku tanya di mana ayahku dirawat tak mengetahui, saat itu perawat yang terakhir ku temui tahu di mana ayahku dirawat.

Ternyata ayahku dirawat di ruang High Care Unit (HCU) Saraf. Di situ aku berpikir, sakit jantung kok di saraf?.

Namun, meski sempat ragu, aku akhirnya berlari ke ruang tersebut. Sebelumnya, ku telepon ibuku yang sempat panik seharian karena ayahku mendadak sakit.

Sambil terus terhubung melalui telepon, aku menelusuri setiap lorong rumah sakit. Hingga akhirnya, ku temukan ibuku.

Saat itu, hijabnya terlihat berantakan. Sebagian rambutnya terlihat menjulur ke luar. Tanda ibuku terlihat sangat panik saat bergegas ke rumah sakit mengendarai ambulans.

"Ayahmu kae pie le!? (Kondisi ayahmu kritis)," ucapnya lirih sambil menangis. Ku peluk ibuku sembari kutenangkan ia sebisaku. Aku kemudian diantar menemui ayahku.

Posisinya, ayah saat itu terbaring di kasur rumah sakit. Nafasnya tersengal-sengal dengan mulut dan hidung yang terfasilitasi alat bantu oksigen.

Aku pernah mengetahui ayahku yang memang sempat beberapa kali opname karena hipertensi. Tapi tak pernah keadaannya sekritis itu.

Aku hanya bisa menghela nafas. Sedikit tenang. Ku sapa ayahku. "Kakung, niki kulo (Ayah, ini aku, anakmu)," ucapku lirih.

Tanpa jawaban, dengan tatapan yang tak fokus memandang. Ayahku hanya diam. Namun, nafasnya terlihat lebih kencang saat tahu aku datang.

Tak lama, aku kemudian beranjak. Aku izin ke ibuku untuk menghubungi anak-anaknya yang lainnya. Pertama, aku menelepon kakak pertamaku yang tak bisa pulang ke kampung halaman. Itu jadi prioritas karena dia sedang hamil tua. Usia kandungan delapan bulan. Aku tak mau kakakku over thinking akan keadaan ayah, terlebih aku pernah tahu bagaimana gusarnya istriku saat hamil dulu.

Setelahnya, aku monitor melalui smartphone di mana posisi kakak keduaku. Itu aku lakukan untuk memastikan agar ibuku mau istirahat di rumah. Sebab, ibu tak mau pulang. Ingin menunggu suaminya.

Namun, setelah aku kabarkan jika kakak keduaku mau sampai di rumah sakit, ibuku pada akhirnya berkenan pulang sembari berkata. "Yawes ya le (yasudah nak), terus terang ibu memang butuh istirahat," ujarnya sembari beranjak pulang.

Tak lama kemudian. Tibalah kakakku yang ku panggil mas itu. Sepertiku, dia langsung menyapa ayah setibanya di ruang perawatan.

Saat itu sekitar pukul 22.00 WIB. Perutku mulai terasa lapar setelah seharian hanya sarapan. Namun ku tahan hingga akhirnya, menjelang dini hari aku pamit untuk pergi cari makan.

Namun, sebelum beranjak. Ayahku kondisinya menurun. Nafasnya semakin tersengal-sengal. Tak kuasa, akupun berlinang air mata. Teringat ucapan ayahku dulu. "Orang kalau mau nazak, itu kalau bisa ada yang membimbing. Karena itu momen krusial," ucapnya kepadaku saat aku masih remaja dan ayahku masih sehat dulu.

Pesan itu disampaikan ayah sesaat setelah orang tuanya alias kakek dan nenekku meninggal dunia dulu. Pesan itu yang kemudian berkecamuk di pikiranku. Masa iya, ayahku mau "pergi"?.

Di situlah awal momen haru, ku panggil masku yang duduk di sudut kasur rumah sakit di depanku. Ku sampaikan, "Mas, lihat Ayah, salah satu dari kita harus ada yang kuat. Kalau bukan aku ya kamu yang harus membimbing," ucapku dengan kalimat bahasa jawa halus.

Sempat tak percaya, mas saat itu mengabaikan ucapanku. Namun akhirnya, mungkin karena melihat ayah dengan kondisinya, dia akhirnya mencoba berlapang dada.

Kami pada akhirnya belajar mengucap talkin. Percayalah, sebelumnya masing-masing dari kami hanya pernah mempelajari itu, belum pernah praktik secara langsung.

Setelahnya, aku beranjak dari tempat duduk bagi keluarga yang menjaga pasien. Ku tepuk bahu dan dada ayahku. Sembari menahan tangis, usai mengelap air mata, kusampaikan: "Kakung, bilih sampun wedal'e njenengan sanjang nggih. (Ayah, jika memang sudah kehendak Tuhan, tolong kabari anakmu)," pintaku.

Setelahnya, ayah terlihat hendak menangis. Matanya terlihat berkaca-kaca. Aku semakin gundah. Dalam hati kubilang: "Tuhan, tolong jangan sekarang, aku belum siap," pintaku lagi.

Perlahan, keadaan ayahku meningkat. Mulai stabil, saturasi oksigen semakin tinggi. Dengan berat hati, aku dan mas bergantian beli makan. Aku kebagian yang pertama karena datang lebih dulu ke rumah sakit. Sedangkan mas, belum selera makan mengetahui kondisi ayah kami.

Saat itu, makan pun tak enak. Ku lihat jalanan yang ramai terasa sepi. Seisi warung yang riuh, terasa hampa. Yang ada hanya kepanikan. Tak henti-hentinya ku tanya ke mas, bagaimana kondisi ayah?. Ia menjawab, ayah baik-baik saja.

Usai makan aku kembali ke rumah sakit. Namun mas belum juga mau makan. Waktu menunjukkan menjelang subuh. Kepala masing-masing dari kami mulai terasa berat. Bukan lagi mata yang ingin terpejam, namun kepala juga mulai terasa "nut-nutan" karena saking mengantuknya kami seharian begadang.

Dengan bijaksana, mas menyuruhku istirahat. Dia tahu kalau sepertinya aku butuh tidur. Bergegaslah aku ke masjid kemudian ambil wudlu agar mata ini terjaga. Lagi-lagi, keunikan terjadi. Di mana, setiap ku melihat jam tangan yang ku kenakan, anehnya waktu selalu menunjukkan waktu yang tepat. Seperti pukul 22.00 WIB, 00.00 WIB, dan usai wudlu tersebut menunjukkan pukul 03.00 WIB.

Sempat terbesit pikiran, "Apa ini maksudnya Tuhan?". Namun pada akhirnya akupun terlelap sejenak hingga akhirnya adzan subuh berkumandang dan akupun terbangun.

Setelah kembali menggugurkan kewajibanku kepada Tuhan, bergegas aku ke ruang perawatan ayahku. Di sana masih ada mas yang masih terjaga.

Lagi-lagi dia menolak tidur. Namun akhirnya, dia beranjak karena waktu subuh hampir habis. Benar saja, tak lama setelahnya, ia kembali menemui ayahnya yang terbaring lemas.

Pagi itu, kami berbagi tugas. Siapa yang menjaga ayah dan pulang untuk menjenguk ibu di rumah. Karena memang kedua orang tua kami sama-sama telah lansia. Aku pada akhirnya kebagian pulang menjenguk ibu.

Setibanya di rumah, ibuku tak henti-hentinya menanyakan kondisi suaminya. Ku jawab bagaimana bingung. Aku jujur, kasihan, berbohong pun belum tentu menghibur. Akhirnya ku jawab jujur jika ayah masih kritis.

Di situ, ibu langsung kemas-kemas untuk pergi ke rumah sakit. Setibanya di sana, aku dan ibuku disambut mas yang terlihat matanya sembab. Antara terus-menerus menangis dan menahan kantuk.

Mengetahui hal itu, ibu menyuruh kami beristirahat. Akhirnya, kami tidur di depan ruang HCU karena memang di ruang perawatan hanya ada kursi. Tak bisa untuk meletakkan kepala dan punggung agar tertidur.

Pagi terlewat, siang, dan kemudian menjelang sore. Aku kemudian terbangun, itu memasuki hari kedua ayahku dirawat di rumah sakit. Setelah dengan rutinitas pada umumnya, aku kembali menemui ibuku usai sebelumnya mampir ke masjid.

Di sana, ibuku terlihat kelaparan. Padahal, kami telah menyiapkan makan. Ku tanya, kenapa tidak makan?. "Sungkan le, ayahmu gak iso dahar mosok aku maem neng ngarep'e. Sementara melu tirakat sek. (Tidak enak kalau aku makan tapi ayah tidak makan, sementara puasa dulu)," ujarnya.

Beruntung, setelah ku paksa, ibu akhirnya mau makan meski hanya secuil roti. Waktu terasa cepat berlalu, sore itu saudara dari keluarga ayahku datang menjenguk. Bergantian, rombongan menemui ayahku yang sebelumnya keluarga dari ibuku juga telah membantu mendampingi ibuku.

Aku bertugas menemui tamu karena memang tidak boleh ada banyak orang yang berkunjung. Entah kenapa, sekitar pukul 18.50 WIB, aku mulai tak fokus mengobrol dengan saudara. Pikiranku gusar ke mana-mana.

Baca Juga : Ini Bedanya Sanksi Jika Tidak Membawa dan Tidak Memiliki SIM

Beranjaklah aku, belum sampai tiba di ruang perawatan, aku bertemu ibuku. "Ayahmu kae pie le, kok ngedrop (bagaimana itu ayah, kok kondisinya menurun)," ujar ibu.

Sebelum ia menangis, ku dekap tubuh rentanya sembari kami melangkah kembali ke ruang perawatan. Di sana, sudah ada dokter jaga dan banyak perawat. Mereka berusaha sebisanya untuk mengembalikan kondisi ayah.

Mereka berkata, dosis obat sudah dilebihkan. Itu mekanisme medis yang sepertinya untuk memicu jantung agar berdetak lebih kencang karena kondisinya yang semakin lemah. "Dokter dan perawat hanya bisa memberi obat, selebihnya tergantung yang di atas (kehendak Tuhan)," tutur dokter.

Suasana semakin haru, dari yang semula dibatasi, kini siapapun keluarga ayah boleh menjenguk. "Jangan lupa untuk terus dibimbing ya!," celetuk dokter kepada keluarga dan anak-anaknya ayah.

Aku dan mas bersiap. Bukan bersiap untuk menerima keadaan. Tapi bersiap agar tidak menangis. Kami takut, kalau talkin dalam kondisi menangis, kalimat yang terucap jadi tidak jelas.

Aku teringat, ayah dulu sempat menyuruh dan mengizinkan aku belajar di pondok pesantren. Sehingga, saudara se-iman semasa di pondok itulah yang aku tanya soal bagaimana cara talkin yang baik dan benar?. Jawabannya pada intinya hanya: "Jalankan saja sesuai ilmu pondok," ujar mereka yang aku hubungi melalui pesan WhatsApp.

Sesuai petunjuk, kujalankan sebisaku. Di tengah kepanikan, tak henti-hentinya aku dan mas bergantian "membimbing". Ibu yang sempat tak kuasa, ku minta untuk jangan dipaksa kalau tidak kuat. Namun ternyata tegar, ibu memilih mendampingi ayah yang pada akhirnya menjemput akhir hayat.

Disela talkin berkumandang di telinga ayahku, kondisinya mendadak stabil. Kami senang. Mas mulai riang, ibu mulai tenang.

Bahkan aku sempat antara tidur dan tidak, berada tepat di samping telinga ayahku. Terus ku lantunkan kalimat talkin sesuai petunjuk yang ku dapat dari pesantren.

Sekitar dua jam kemudian. Kondisi ayah kembali menurun. Mas panggil dokter jaga yang kemudian datang bersama perawat. "Semoga mbah'e (ayah) bisa melewati ini, kondisinya bisa membaik. Jika tidak, saya harap keluarga bisa mengikhlaskan," tutur dokter.

Semakin kencang kalimat "bimbingan" itu kami lantunkan. Peraturannya masih sama, siapa yang tak kuat, siapa yang menangis, jangan "membimbing". Pada akhirnya, aku dan mas saling bergantian.

Dokter dan perawat yang sempat kembali ke ruangannya, akhirnya kembali lagi melihat kondisi ayah. Satu dari perawat tersebut terlihat menggenggam lampu senter. Aku semakin paham, ke mana arahnya dan untuk apa senter itu nantinya.

Ku coba tenang sebisaku, tak henti-hentinya kami berdua berdampingan. Aku dan mas mencoba kuat, tak menangis sedikitpun. Sekitar 30 menit kemudian, tepat pukul 21.40 WIB. Ada momen di mana aku tahu, "proses ayah telah tiada".

Berselang beberapa menit kemudian, kedua kalinya, perawat menyorot mata ayah menggunakan senter. Setelahnya, perawat menganggukkan kepala kepada dokter. Usai menghela nafas panjang, dokter itu mengatakan: "Niki mbah'e sampun boten wonten, keluarga ingkang ikhlas nggih (Ayah telah meninggal, tolong keluarganya mengikhlaskan!)," ujarnya lirih.

Tangisan dari keluarga dan saudara ayah pecah. Aku hanya bisa memegang kelopak mata almarhum ayah yang sejatinya telah mulai terpejam. Kucium keningnya seperti saat sesekali aku "membimbingnya" tadi.

Entah kenapa, air mataku mendadak tak menetes. Ku tenangkan ibu dan mas yang ternyata sudah tegar. Aku kemudian bergegas pulang ke rumah duka setelah bagi tugas dengan mas yang mengurus jenazah almarhum di rumah sakit. Sebelumnya, aku juga sempat menyampaikan kabar duka kepada salah satu tetangga di kampung halamanku, yakni kediaman orang tuaku. Berharap kabar duka yang ku sampaikan tersebut bisa segera diteruskan kepada warga lainnya melalui pengeras suara di masjid. Sehingga jenazah almarhum ayah bisa segera terurus.

Saat perjalanan ke rumah, jalan yang ramai terasa sepi. Angin berhembus terasa menembus hingga ke tulang di sepanjang perjalanan. Pikiran kosong, yang ada seolah hanya kalimat. "Mana bisa aku yang berlumuran dosa menentang kehendak Tuhan".

Kalimat yang berputar di benakku itu seolah menjawab pertanyaanku dulu. Kenapa setiap orang tuanya "pergi", ayah tak pernah menangis di hadapanku dan keluarganya. Meski kami tahu, matanya saat momen kedua orang tuanya dulu meninggal selalu terlihat sembab.

Setibanya di rumah. Warga sudah ramai. Ku pikir itu wajar, karena mengurus jenazah adalah kewajiban satu kampung. Namun aku akhirnya heran, kenapa yang meninggal ayah tapi yang ditanya nama lengkap ibuku dan namaku.

Ternyata, kabar duka ayahku meninggal yang semula hanya diketahui salah satu tetangga, belum diumumkan ke masjid. "Tapi kok sudah seramai ini?," pikirku.

Ketika itu, waktu menjelang dini hari, aku lupa, tapi sepetinya sekitar pukul 22.30 WIB. Warga dengan cekatan membantuku membereskan rumah. Mulai dari mengangkat perabotan, menggelar tikar, menyiapkan tenda, menata kursi, hingga keperluan mengurus jenazah.

Tak lama usai disalatkan, sekitar tiga jam, makam ayahku telah siap. Aku dan keluargaku memilih untuk segera memakamkan almarhum ayah sesuai syariat agama.

Sebelum berangkat ke pemakaman, aku, mas, dan ibu saling menguatkan. Jangan sampai ada yang terlalu bersedih terlebih menangis saat di pemakaman almarhum.

Semula semua baik-baik saja. Namun akhirnya, tepat saat adzan yang dikumandangkan mas ia lantunkan, mas menangis. Kamipun ikut bersedih. Ternyata ayah telah pergi selamanya di dunia. Kalimat "Harap tenang sedang ada ujian" itu telah ayah lalui. Sekarang tiba waktunya "yang sudah selesai, boleh pulang".

Semenjak proses pemakaman, tak henti-hentinya orang takziah berdatangan. Tinggal di perumahan yang biasanya dikenal masyarakat umum terkesan acuh, ternyata banyak yang berduka atas kepergian ayah.

Kerabat dan saudara juga terus berdatangan dan bahkan hingga kini, saat cerita ini kurangkai pada saat berminggu-minggu setelah kepergianmu. Teman, rekan kerja almarhum dulu juga datang. Bahkan, orang-orang yang mungkin sebelumnya sempat memusuhi dan membenci juga ikut bertakziah.

Akupun mencoba menjalani wejangan ayah sebelum meninggal dulu. "Memberi kabar itu jangan yang sedih-sedih, tapi kabarkan penyelesaian. Sebab, walaupun berita kesedihan tapi kalau ada penyelesaian orang akan tetap senang," ujar ayah kala itu.

Alhasil, satu minggu kematianmu, ayah. Aku tak berkomunikasi secara terbuka di media sosial maupun pesan singkat. Kenapa?, aku belum siap mengabarkan kabar duka. Padahal sebenarnya sampai saat ini sejatinya aku juga belum siap.

Namun saat itu, sekitar seminggu berselang, terus menerus meratapi kepergianmu juga tak baik. Akhirnya ku pegang smartphone-ku, dan ku dapati ternyata banyak yang ikut berduka. Bahkan, sebagian dari teman-temanku, orang yang aku kenal, termasuk rekan kerjaku tersebut juga ikut takziah langsung ke rumah duka meski sebelumnya tak aku kabarkan langsung. Ingin rasanya kelak, kematiaku bisa seperti itu.

ولدتك أمك يابن آدم باكياً # والناس حولك يضحكون سرورا
فاجهد لنفسك أن تكون إذا بكوا # في يوم موتك ضاحكا مسرورا

“Kau terlahir dari rahim ibumu dengan keadaan menangis # Sementara orang-orang di sekeliling mu tertawa bahagia
Maka Zuhudlah untuk mu agar ketika mereka bersedih # di hari kematian mu kau lah yang tertawa bahagia".

Sya’ir tersebut dulu sempat Gus Dur lantunkan dan juga sempat di ulas pada website jabar.nu.or.id.

Sebenarnya sedih, kehilangan kok orang tua. Wejanganmu, sosokmu yang mencoba selalu ada meskipun hingga tua, hingga figur teman diskusi, nonton TV dan menyimak berita, dulu. Kini tenyata telah cepat berlalu.

Tapi mau bagaimana lagi?. Ini semua sudah menjadi ketetapan dan kehendak Sang Ilahi.

Husnul khatimah ayah, kakung. Terimakasih atas semuanya. Terimakasih telah mengajarkan dan membimbing banyak hal. Terimakasih telah memberitahu bagaimana caranya menjadi ayah. Terimakasih telah mengkiaskan kenapa laki-laki diciptakan dengan tulang lebih besar ketimbang perempuan, sebab agar kuat banting tulang bukan sebaliknya "tulang-tulung". Dan terimakasih atas semuanya.

Kini, anak yang mungkin sering membuatmu cemas sudah berada diposisimu saat jadi orang tua. Kini, anak yang kau ajarkan mandiri, sudah bertemu dengan sebagian kerasnya kehidupan. Kini, terkadang aku merasa ada kesan kontradiktif. 
orang-orang membaca sebuah karya dan berita yang notabene dari anak yang semasa kecilnya dan mungkin hingga kini masih didera disleksia. Semua itu, salah satunya berkat mu, ayah.

Istrimu, yaitu ibuku, kini baik-baik saja. Meski, sesekali terlihat dirundung pilu. Wajar, bersamamu selama kurang lebih 40-an tahun itu memang berat bagi ibu.

Anak-anakkmu, sesuai apa yang pernah ayah saksikan dulu, kini juga telah menemukan dunianya masing-masing. Sesuai wejanganmu, cari sendiri memang lebih baik ketimbang warisan, apalagi sampai rebutan, naudzubillah min dzalik. Anak-anakkmu lebih memilih saling mengingat wejanganmu sebagai warisan menjalani kehidupan. Ketimbang harta dunia yang engkau tinggalkan.

Terimakasih.

Kapundut 4 Februari 2025.
-Innalillahi wa inna ilaihi raji'un-

Karya: Nyaris Penulis

-----------------------------------------------------

Nyenengin di Hari Senin (Nyerpen) merupakan rubrik baru di JatimTIMES. Jika istiqomah, rubrik ini akan ditayangkan di setiap hari Senin pada saat jam hendak mulai beraktivitas (sekolah, kerja, dll) atau setelah beraktivitas. Harapannya, rubrik ini bisa merubah atau setidaknya "menghibur". Bahwasanya, hari Senin tak semenakutkan dan membosankan seperti yang ada di sebagian benak orang.

Rubrik atau konten tulisan pada Nyerpen ditulis oleh sosok dibalik Nyaris Penulis. Bagi pembaca yang memiliki visi yang sama, diperkenankan untuk mengirimkan bahan ceritanya melalui Email maupun akun media sosial resmi JatimTIMES.

Narasumber bisa berasal dari kalangan manapun. Mulai pejabat dan bahkan hanya sekedar yang merasa sebagai rakyat jelata.

Bagi kalian yang memiliki kisah nyata maupun fiksi, baik yang mengalaminya maupun mendengar dari narasumber langsung, dipersilahkan jika ingin dimuat dalam rubrik ruang sastra di website JatimTIMES.com.

Cerita nyata maupun fiksi bersifat umum. Bisa asmara, pemerintahan, politik, hukum dan kriminal, horor, spiritual dan bahkan sisi lain dari perspektif yang mungkin menarik untuk diceritakan. Terimakasih.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Nyaris Penulis

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

--- Iklan Sponsor ---