free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Serba Serbi

Lafal Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh dan Cara Pelaksanaannya

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

23 - Feb - 2025, 07:18

Loading Placeholder
Potret keluarga muslim berbuka puasa dengan kurma. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Membaca niat merupakan syarat utama dalam melaksanakan puasa Ramadan. Hal ini telah disepakati oleh empat imam mazhab. Namun, terdapat perbedaan pandangan di antara mereka terkait bagaimana cara melafalkan niat. Tiga mazhab selain Malikiyyah mewajibkan pembacaan niat setiap malam sebelum berpuasa. 

Sementara itu, menurut pendapat Malikiyyah, cukup membaca niat satu kali di awal Ramadan dengan cara menjamak (mengumpulkan) niat untuk sebulan penuh. Niat ini dilakukan pada malam pertama Ramadan tanpa perlu mengulanginya di malam-malam berikutnya. 

Baca Juga : 146 Gempa Bumi Terjadi di Jatim dan Sekitarnya Jelang Akhir Februari

Di Indonesia, meskipun mayoritas penduduknya menganut mazhab Syafi’i, praktik niat sebulan penuh ini sering digunakan. Para kiai dan masyayikh membimbing umat untuk mengadopsi pandangan mazhab Maliki dalam hal ini. Di banyak masjid dan mushala, pada malam pertama Ramadhan, masyarakat diajak bersama-sama melafalkan niat puasa sebulan penuh sesuai mazhab Malikiyyah. 

Namun, bukan berarti setelah membaca niat di awal Ramadhan seseorang tidak perlu lagi berniat setiap hari. Masyarakat tetap dianjurkan untuk membaca niat harian sebagai bentuk kehati-hatian, agar jika suatu saat lupa melafalkan niat, puasanya tetap sah karena telah diniatkan secara keseluruhan di awal bulan. 

KH A. Idris Marzuqi, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dalam kitabnya Sabil al-Huda yang berisikan himpunan wadhifah dan amaliyah menegaskan: 

“Untuk berjaga-jaga agar puasa tetap sah ketika suatu saat lupa niat, sebaiknya pada hari pertama bulan Ramadhan berniat taqlid (mengikut) pada Imam Malik yang memperbolehkan niat puasa Ramadhan hanya pada permulaan saja. Dan adanya cara tersebut bukan berarti membuat kita tidak perlu lagi niat di setiap harinya, tetapi cukup hanya sebagai jalan keluar ketika benar-benar lupa.” (KH. A. Idris Marzuqi, Sabil al-Huda, hal. 51

Dalam kitabnya, beliau mencontohkan lafazh niatnya sebagai berikut: 

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى 

“Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti Imam Malik, fardhu karena Allah.” 

Baca Juga : Hujan Deras, Air Disertai Lumpur Meluap di Selecta, Seret Mobil hingga Rusak Pondok Ternak

Bagaimana Jika Tidak Bisa Berpuasa di Awal Ramadhan?

Lalu, bagaimana jika seseorang tidak bisa berpuasa di hari pertama Ramadhan, misalnya karena haid? Apakah ia masih bisa berniat puasa sebulan penuh setelahnya? 

Untuk menjawab hal ini, perlu dipahami alasan mengapa mazhab Malikiyyah memperbolehkan niat sekali untuk satu bulan. Menurut fuqaha Malikiyyah, puasa Ramadhan dianggap sebagai satu kesatuan ibadah tanpa jeda. Oleh karena itu, cukup satu niat di awal untuk mencakup seluruh bulan. 

Mazhab Maliki membedakan antara puasa yang wajib dilakukan secara berkelanjutan tanpa jeda, seperti Ramadhan, dan puasa yang tidak harus dilakukan terus-menerus, seperti qadha Ramadhan. 

Untuk jenis puasa pertama, karena dilakukan tanpa jeda, maka dianggap satu kesatuan dan bisa diniatkan sekaligus. Sedangkan untuk puasa jenis kedua, yang boleh diselingi hari tidak berpuasa, maka setiap harinya memerlukan niat tersendiri. 

Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi dalam al-Taj wa al-Iklil menjelaskan: 

ـ (وكفت نية لما يجب تتابعه) اللخمي: أما ما تجب متابعته كرمضان وشهري الظهار وقتل النفس ومن نذر شيئا بعينه ومن نذر متابعة ما ليس بعينه فالنية في أوله لجميعه تجزئه. 

“Dan cukup niat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam al-Lakhmi mengatakan, Adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadhan, dua bulan puasa dhihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernazar puasa pada hari tertentu, orang yang bernazar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya.” 

Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang baru bisa berpuasa setelah hari pertama tetap bisa berniat puasa sebulan penuh sesuai mazhab Maliki. Sebab, dalam pandangan ini, seluruh hari dalam bulan Ramadhan dianggap satu kesatuan ibadah. 

Demikian penjelasan terkait lafal niat puasa Ramadhan sebulan penuh dan cara pelaksanaannya. Semoga kita semua diberikan kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa tahun ini.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi

--- Iklan Sponsor ---