JATIMTIMES - Datangnya bulan suci Ramadan menjadi salah satu yang paling dinantikan. Pasalnya, di bulan tersebut umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Ibadah puasa tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT tetapi juga momen untuk mengingatkan ibadah, memperbanyak sedekah, hingga memperbaiki diri. Pada bulan ini, umat muslim juga lebih banyak melaksanakan amalan-amalan baik.
Baca Juga : Tak Cukup Olahraga, Ahli Gizi Rekomendasikan 5 Suplemen untuk Menurunkan Berat Badan
Kemudian Ramadan dikenal sebagai bulan suci penuh ampunan dan pahala berlipat ganda. Maka dari itu, banyak umat yang memanfaatkan momennya untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Penentuan tanggal awal puasa 2025 di Indonesia biasanya dipastikan melalui hasil sidang isbat awal Ramadan 1446 Hijriah yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag RI).
Namun, berdasarkan penanggalan Hijriah, perkiraan waktu awal puasa Ramadan 2025 jatuh pada 1 Ramadan 1446 Hijriah atau Sabtu, 1 Maret 2025. Menjelang bulan Ramadan beberapa wilayah di Indonesia biasanya menggelar sejumlah tradisi menyambut Ramadan.
Tradisi-tradisi tersebut biasanya menjadi tanda awal dekatnya bulan Ramadan dan serta membawa suasana kebersamaan yang lebih meriah. Melansir dari beberapa sumber, berikut ini beberapa tradisi unik masyarakat Indonesia menyambut Ramadan.
Tradisi Unik Menyambut Bulan Suci Ramadan dari Berbagai Daerah di Indonesia
1. Beli Emas
Kebiasaan membeli perhiasan emas menjelang Ramadan telah dijalankan secara turun temurun oleh masyarakat Jawa Timur, terutama Banyuwangi, dan dianggap sebagai bagian dari budaya yang ada di daerah tersebut.
Beli emas sebenarnya adalah ungkapan rasa syukur dan bentuk menghargai diri atas jerih payah masyarakat setelah bekerja selama satu tahun, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk perhiasan emas. Tradisi unik ini sekaligus menjadi motivasi untuk terus semangat bekerja di tahun yang baru.
Setiap menjelang Ramadan toko emas di Jawa Timur mengalami peningkatan pembelian, puncaknya ketika menjelang Idul Fitri. Mayoritas membeli baru atau menukar perhiasan lama dengan perhiasan emas model terbaru.
Rata-rata mereka yang membeli karena ingin terlihat cantik dan berbeda saat lebaran. Apalagi, sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa Timur saat hari raya semua yang dimiliki harus serba baru. Selain itu, ada pula yang membeli untuk menjadi tabungan jangka panjang.
2. Papajar (Jawa Barat)
Papajar merupakan salah satu tradisi menyambut Ramadan yang ada di provinsi Jawa Barat. Biasanya tradisi papajar ini dilakukan oleh masyarakat muslim di daerah Sukabumi dan Cianjur.
Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-16. Biasanya turut diisi dengan rekreasi dan makan-makan sepekan sebelum berpuasa.
Papajar berasal dari kata "mapag pajar", dalam bahasa Sunda istilah ini cukup tua untuk menyambut kemunculan sesuatu, misalnya srangege ti langit, tangara raja papajar, dan lain sebagainya.
Diidentikkan dengan fajar karena papajar ini merupakan sambutan untuk terbitnya bulan Ramadan. Dalam kegiatan ini, biasanya keluarga membawa makanan sambil menggelar tikar dan makan-makan bersama.
3. Tabuh Bedug (Jawa Tengah)
Tradisi menyambut Ramadan yang satu ini digelar dengan bersholawat serta menabuh bedug itu sebagai tanda sukacita menyambut datangnya bulan Ramadan.
Kegiatan ini dilakukan oleh peserta yang berjalan sambil bersholawat di kompleks Masjid Menara Kudus, Desa Kauman, Kudus, Jawa Tengah. Kemudian peserta menabuh bedug di atas menara saat prosesi Tabug Bedug Blandrangan.
4. Mattunu Solong (Sulawesi Barat)
Tradisi menyambut Ramadan ini dilakukan di Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) yang telah dilakukan secara turun temurun dengan mengharapkan keberkahan dari Sang Pencipta.
Tradisi mattunu solong dilakukan dengan beramai-ramai menyalakan pelita (cahaya). Pelita yang telah ditempatkan pada seluruh bagian rumah, di antaranya pagar, halaman, anak tangga, pintu masuk hingga dapur.
5. Marpangir (Sumatera Utara)
Selanjutnya, di beberapa daerah di Sumatera Utara seperti Asahan dan Padangsidimpuan, terdapat tradisi marpangir. Marpangir dilakukan masyarakat setempat sebelum menyambut Ramadan.
Makna marpangir sebagai tradisi menyambut Ramadan diartikan sebagai bentuk pembersihan diri. Dalam pelaksanaannya marpangir diperlukan ramuan seperti bunga-bunga dan jeruk purut.
6. Malamang (Sumatera Barat)
Baca Juga : Pemkab Malang Matangkan Kesiapan Fasilitas untuk Sambut Porprov Jatim 2025
Secara harfiah, malamang adalah tradisi menyambut Ramadan dengan membuat lemang. Nantinya, tradisi ini dilakukan dengan mengumpulkan seluruh bahan masakan, seperti ketan, santan, daun pisang dan bambu. Bahan-bahan itu nantinya dimasak dengan api membara seperti membuat lemang pada umumnya.
7. Ziarah Kubro (Sumatra Selatan)
Kegiatan ziarah ini merupakan kegiatan zirah yang dilakukan secara massal ke makam-makam para ulama dan pendiri kesultanan Palembang Darussalam, atau kerap juga disebut 'waliyullah'.
Bukan hanya itu, ziarah kubro ini juga hanya dilakukan bagi laki-laki masyarakat Sumatera Selatan. Nantinya, para laki-laki yang berziarah akan beramai-ramai menuju makam ulama yang telah ditentukan. Tradisi menyambut Ramadan ini dilakukan di sejumlah daerah seperti Palembang, Kawah Tekurep, Seberang Ulu, Kambang Koci 5 Ilir, dan sebagainya.
8. Meugang (Aceh)
Di ujung Pulau Sumatera terdapat suatu tradisi menyambut Ramadan yang disebut dengan meugang. Meugang dilakukan oleh masyarakat Aceh dengan cara menyembelih kambing, kerbau, atau bahkan sapi sebelum memasuki bulan puasa.
Menurut cerita, tradisi yang dilakukan di daerah yang berjulukan Serambi Mekah ini telah ada sejak 1400 Masehi.
9. Pacu Jalur (Riau)
Masyarakat Riau menyambut Ramadan dengan tradisi pacu jalur. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1900-an.
Biasanya tradisi ini diadakan di Kabupaten Kuantan Singingi menggunakan kapal panjang yang digerakkan beberapa orang dewasa. Nantinya, setiap peserta akan bertanding menuju garis akhir dan para pemenang akan dilombakan hingga mendapatkan juara.
10. Bebantai (Jambi)
Tradisi menyambut Ramadan ini diartikan sebagai tradisi membantai atau memotong hewan seperti kerbau dan sapi dalam rangka menyambut datangnya Ramadan. Pelaksanaan bebantai juga dikenal sangat beragam, mengenai pelaksanaannya tradisi ini bisa dilakukan oleh lembaga keagamaan, perkumpulan masyarakat, dan perseorangan.
11. Belangiran (Lampung)
Secara harfiah, belangiran ini merupakan suatu tradisi menyambut Ramadan yang dilakukan dengan cara mandi suci. Tradisi ini dilakukan secara komunal bagi masyarakat Lampung. Di mana masyarakat Lampung yang melaksanakan belangiran akan mandi dengan syarat air langir, bunga tujuh rupa, setanggi, dan daun pandan.
12. Nyorog (DKI Jakarta)
Masyarakat Betawi, DKI Jakarta, memiliki tradisi nyorog dalam rangka menyambut Ramadan. Mengutip buku Ramadhan, Maaf Kami Masih Sibuk karya Rifa'i Rif'an,tradisi ini yaitu memberi bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua.
Tradisi menyambut Ramadan ini dilakukan secara turun-temurun. Meskipun, saat ini istilah nyorog sudah mulai menghilang namun kebiasaan mengirim bingkisan makanan sampai sekarang masih tetap terpelihara.
13. Padusan (Yogyakarta)
Masyarakat Yogyakarta menyambut Ramadan dengan padusan. Disebutkan dalam Ensiklopedia Islam karya Hafidz Muftisany, padusan adalah berduyun-duyun membasuh atau mandi di sumur atau sumber-sumber mata air. Tradisi ini juga dilakukan masyarakat Jawa Tengah.