JATIMTIMES - Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) menjalankan misi kemanusiaan dengan mengirimkan 12 dokter umum ke Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang. Kali ini, RSTKA mengusung misi deteksi dini penyakit katastropik.
Ini sejalan dengan program Cek Kesehatan Gratis oleh Kementerian Kesehatan. Rombongan relawan ini berangkat dengan dilepas oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Prof. Budi Santoso. Dari 12 orang dokter umum itu, hanya ada dua orang yang merupakan alumni FK Unair, yaitu Dr. Nur Safitri dan Dr. Rizka Uswatun.
Baca Juga : Awas! Minuman Kemasan Manis Bisa Sebabkan Stroke hingga Diabetes
Lainnya dari luar Unair yakni Dr. Brenda Christie (Universitas Kristen Krida Wacana), Dr. Khusnul Yaqien (Universitas Muslim Indonesia), Dr. Faizuriah (Universitas Padjajaran), Dr. Dwi Ariesta (Universitas Kristen Duta Wacana), Dr. Yusuf Al Malik (Universitas Palangka Raya), Dr. Sonia Ednia (Universitas Sriwijaya), Dr. Puspa Pelita (Universitas Kristen Duta Wacana), Dr. Azmi Arraga (Universitas Brawijaya), Dr. Jean Gabrielle (Universitas Brawijaya).
“RSTKA bukan hanya milik Unair, tetapi sudah menjadi milik Indonesia. Lebih tepatnya persembahan Unair untuk Indonesia,” ungkap Dekan FK Unair Prof. Budi Santoso melalui keterangan tertulis, Senin (17/2/2025).
Salah seorang relawan, Dr. Fairuziah yang juga alumni FK Universitas Pajajaran, menuturkan sebelumnya,dia menjalani internship di Garut, karena orang tuanya maunya internship di daerah yang dekat Bandung tempat mereka tinggal. Sementara dia ingin bekerja di daerah terpencil.
“Akhirnya kesampaian juga, ini akan menjadi bekal yang sangat berharga, bila nanti bekerja sebagai dokter di daerah terpencil,” ucapnya dengan senyuman yang lepas dan mata berbinar.
Baca Juga : Ampuh Atasi Masalah Wajah, Perawatan Pakai Phenol Peel Berujung Kematian? Begini Penjelasannya
Koordinator Lapangan Misi Mandangin Dr. Yohanes Eka mengatakan, sebenarnya ada 83 relawan dokter umum yang mendaftarkan diri untuk misi yang akan dilakukan selama satu minggu itu. Tetapi hanya 12 yang diberangkatkan. “Maunya kita berangkatkan semua, karena semua yang mendaftar memang layak sih. Tunggu saja misi yang berikutnya,” jelasnya.
“Kami fokus pada daerah kepulauan karena tidak mudah menghadirkan sarana diagnostik sekaligus dokter ahli di pulau-pulau terpencil. Dengan Rumahsakit Kapal yang kami miliki, kita bisa lakukan pemeriksaan gratis sekaligus penanganannya pulau-pulau yang sulit dijangkau,” sambung Dr. Yohanes.