JATIMTIMES - Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring menyebut cuaca buruk menyebabkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Kabupaten Malang dan hasil tangkapan ikan para nelayan di Sendangbiru menurun.
Victor mengatakan, cuaca buruk di lautan lepas secara periodik setiap tahun terjadi pada Januari hingga Februari. Pada bulan-bulan di awal tahun ini merupakan tantangan bagi nelayan untuk melaut. Pasalnya, dengan cuaca yang buruk di laut selatan akan mememgaruhi hasil tangkapan ikan. "Kondisi itu menjadi gejala alam di laut selatan. Pendaratan di pelabuhan pada Januari 2025 cukup minim," ungkap Victor.
Baca Juga : Kuliner Malam Kota Batu Nasi Pecel Sambel Tumpang Bu Denok Jadi Jujugan Wisatawan
Pihaknya pun mencontohkan seperti ikan lemuru yang hasil tangkapannya hanya 10 ton pada Januari 2025 lalu. Selain itu, harga dari ikan lemuru saat ini di harga Rp 5.000 sampai Rp 7.000 per kilogram.
Menurut Victor, kondisi hasil tangkapan yang minim karena cuaca buruk ini juga memengaruhi capaian PAD Pemerintah Kabjpaten Malang. Pasalnya, hasil tangkapan ikan yang menurun akan memengaruhi capaian retribusi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pondokdadap Sendangbiru.
Pihaknya mengatakan, naik turunnya hasil tangkapan ikan ini memang merupakan siklus setiap tahun yang dihadapi para nelayan, khususnya di wilayah Malang Selatan. Mulai Maret sampai Agustus, tangkapan ikan para nelayan akan meningkat. Tetapi memasuki September sampai Desember hingga Februari hasil tangkapan ikan nelayan menurun.
Victor juga membeberkan, ketika cuaca mendukung untuk melaut, pasokan ikan dari hasil tangkapan para nelayan bisa mencapai 1 ton untuk semua kios di kawasan TPI Sendangbiru. Sedangkan, di tengah cuaca buruk ini, pasokan untuk masing-masing kios hanya 250 kilogram.
Selain itu, dengan hasil tangkapan ikan yang menurun juga memengaruhi harga jual dari ikan. Semisal ikan tuna untuk satu kilogram bisa mencapai Rp 30 ribu. Lalu, untuk ikan benggol Rp 15 ribu sampai Rp 17 ribu per kilogram.
Lebih lanjut, pihaknya mengatakan, bahwa di tengah cuaca buruk yang tidak menentu ini, nelayan sementara waktu akan berhenti untuk melaut dan lebih mengoptimalkan pekerjaan-pekerjaan selain melaut.
Baca Juga : MOHGA, Kepedulian Musisi terhadap Isu Lingkungan demi Malang yang Asri
Selain itu, meskipun hasil tangkapan ikan tidak maksimal, juga ada nelayan yang nekat untuk pergi melaut. Namun ada yang memilih pergi ke tengah laut walaupun ikan sulit ditangkap dan ada juga yang pergi melaut di tepi pantai untuk menangkap ikan.
Victor menuturkan, bahwa setiap nelayan khususnya di wilayah Malang Selatan sudah memiliki cadangan atau pilihan pekerjaan yang lain selain melaut untuk menangkap ikan. Karena, para nelayan juga menyadari bahwa cuaca buruk akan memengaruhi hasil tangkapan ikan para nelayan.
"Nelayan sudah memiliki cadangan untuk kehidupannya. Pada saat musim ikan, mereka akan menyimpan dalam bentuk uang dan barang sebagai cadangan saat musim paceklik," jelas Victor.
Sementara itu, menjndaklanjuti kondisi yang dihadapi oleh para nelayan di Malang Selatan, Victor menyebut Pemerintah Kabupaten Malang tidak dapat berbuat banyak untuk melakukan intervensi. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Malang hanya memberikan bantuan rutin untuk meningkatkan hasil tangkapan. Salah satunya memberikan pelayanan kebutuhan solar nelayan, melalui pemberian rekomendasi yang berlangsung setiap tiga bulan sekali.