JATIMTIMES - Sebagai daerah dataran tinggi, Kota Batu tak lepas dari ancaman bencana hidrometeorologi. Hal ini yang diantisipasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu menuju masa puncak musim hujan yang diprediksi mulai terjadi saat pergantian tahun.
Ratusan titik rawan genangan dan material alam dibersihkan untuk mengurangi risiko bencana banjir bandang hingga longsor.
Baca Juga : Nelayan Panarukan Situbondo Dinyatakan Hilang, Tim Gabungan Lakukan Operasi SAR
"Saat musim hujan kita antisipasi bencana hidrometeorologi. Puncaknya kemungkinan antara Desember dan Januari pergantian tahun. Seperti dua tahun lalu saat tahun baru musim hujan, banyak pohon tumbang," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu Agung Sedayu saat ditemui, belum lama ini.
Ia menyampaikan, salah satu upaya antisipasi dengan melakukan susur sungai sekaligus membersihkan area yang dinilai menjadi langganan luapan air. Eksekusi pembersihan titik rawan untuk meminimalisir risiko potensi bencana itu difokuskan pada Kecamatan Bumiaji.
Susur sungai dan pembersihan ratusan titik itu terkelompokkan ke beberapa area ruas aliran sungai. Di antaranya Jurang Susuh Desa Giripurno, Sengonan Desa Tulungrejo, Curah Krecek Desa Sumbergondo dan Pusung Lading Desa Bulukerto.
"Kejadian kelam banjir bandang November 2021 sudah dipelajari. Material (bendung alam) dan genangan penyebab bencana sudah dilakukan sejak pembersihan susur sungai beberapa bulan lalu dan mitigasi 141 titik. Setelah pemetaan 138 sudah kita eksekusi," katanya.
Ia menerangkan, banjir karena adanya penyumbatan sampah yang mengalir dari area hutan ke sungai dekat pemukiman. Sehingga, fokus utama pembersihan itu difokuskan pada sungai di tengah hutan.
Baca Juga : Pertama dalam Sejarah 130 Tahun, Gunung Fuji Tak Bersalju, Apa Sebabnya?
Sementara itu, Pemkot Batu telah mengalokasikan anggaran susur sungai sebesar Rp 30 juta. Anggaran itu digunakan untuk membackup proses kegiatan, seperti makan minum, peralatan pembersihan, serta vitamin para personel.
Proses pembersihan keempat ruas sungai itu bersinergi dengan berbagai pihak. Seperti relawan taman hutan raya (tahura), Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perhutani), relawan bencana, linmas, dan masyarakat setempat. Sinergi tersebut juga memetakan titik potensi genangan air.
"Meski perkotaan, Kota Batu wilayahnya 57 persen masih wilayah hutan. Dari wilayah hulu dilakukan antisipasi dan mitigasi, jangan sampai aliran sungai menjadi berbahaya saat musim hujan. Pembersihan itu salah satunya kita lakukan pemotongan material 30-50 sentimeter, agar daya rusaknya sudah jauh berkurang," tambahnya.