JATIMTIMES - Perkembangan teknologi digitalisasi yang merambah ke berbagai aspek turut memunculkan isu-isu baru terkait kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis. Dampak negatif seperti stres, kecemasan, dan kecanduan teknologi menjadi isu yang semakin mendesak untuk diatasi. Karena itu, tenaga kerja di era digital perlu memahami bagaimana ilmu psikologi dapat diterapkan untuk mendukung produktivitas dan inovasi.
Melihat hal ini, BINUS @Malang terus berinovasi dengan meluncurkan program baru yang inovatif, yaitu Digital Psychology. Program inovatif ini hadir untuk menjawab kebutuhan Gen Z yang semakin membutuhkan pendekatan baru dalam menghadapi tantangan psikologis di era digital, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan yang relevan di dunia kerja yang terus berkembang.
Baca Juga : Modus Penggandaan Uang di Kota Malang, Korban Diiming-imingi Miliaran Rupiah
Program ini diluncurkan pada Studium Generale and Launching New Program yang digelar di kampus BINUS @Malang, Rabu, (25/9/2025). Peluncuran program ini dikemas dalam sebuah acara yang menggabungkan peresmian sekaligus talkshow bertajuk "Leveraging Technology Through People for a Connected Future".
Direktur kampus BINUS @Malang Dr Robertus Tang Herman SE MM menjelaskan bagaimana kurikulum program ini disusun untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu mengintegrasikan ilmu psikologi dengan pengembangan teknologi agar produk dan layanan yang dihasilkan mampu menjaga dan bahkan meningkatkan kesejahteraan mental pengguna. Dengan demikian, lulusan program studi ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan industri yang semakin berkembang, dengan keterampilan yang menggabungkan teknologi dan pemahaman mendalam tentang psikologi manusia.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa data menjadi kunci untuk memahami bagaimana teknologi bisa memengaruhi kesejahteraan mental masyarakat. Sebab, dari data kita bisa mendapatkan informasi yang lebih objektif. “Kami ingin mencetak tenaga lulusan yang memahami hal tersebut melalui program Digital Psychology. Selain itu, kami juga mendorong lulusan untuk menjadi digital technopreneur yang mampu mengembangkan solusi inovatif berbasis teknologi, tidak hanya di bidang psikologi, tetapi juga dalam memajukan industri digital secara keseluruhan,” ungkapnya.
"Kami berharap para lulusan dapat menjadi pelopor dalam menciptakan produk dan layanan
yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan mental, tetapi juga memiliki nilai bisnis yang tinggi di era digital ini," sambung Robertus Tang Herman.
Raymond Godwin SPsi MSi selaku deputy dean Faculty of Humanities menjelaskan bahwa talkshow ini tidak hanya memberikan wawasan baru kepada para peserta, tetapi juga menegaskan komitmen BINUS @Malang dalam mempersiapkan lulusannya untuk menghadapi tantangan masa depan, baik dari segi teknologi maupun kesejahteraan mental.
Menurut dia, era digitalisasi ini, banyak tantangan unik dihadapi generasi Z. Keseharian generasi ini banyak terhubung dengan teknologi digital dan memunculkan isu-isu baru terkait kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis. Penggunaan media sosial, ketergantungan pada perangkat digital, serta tekanan dari dunia virtual sering berdampak pada kesehatan mental mereka.
Maka, dengan meningkatnya kebutuhan akan pemahaman perilaku manusia di dunia digital, industri memerlukan tenaga ahli yang tidak hanya memahami psikologi, tetapi juga mampu mengintegrasikan teknologi dan data untuk memberikan solusi yang efektif.
Lebih lanjut, pembukaan program Digital Psychology merupakan langkah penting dalam menjawab kebutuhan industri dan masyarakat yang semakin mengandalkan teknologi digital. Program ini dirancang untuk melahirkan generasi unggul dan profesional.
"Mereka tidak hanya memahami ilmu psikologi secara mendalam, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi dan data untuk menciptakan solusi berbasis digital dalam meningkatkan kesejahteraan mental," ujarnya.
Program Digital Psychology di BINUS @Malang memberikan pengetahuan dan keterampilan yang relevan kepada para mahasiswa. Program ini dirancang untuk membekali mereka dengan kemampuan untuk mengembangkan teknologi yang inovatif, berkelanjutan, beretika, dan memperhatikan kesejahteraan mental pengguna.
Baca Juga : BPJS Ketenagakerjaan Malang Sosialisasikan Program Perlindungan untuk IKM di Kabupaten Malang
"Program ini menekankan pentingnya memahami perilaku manusia melalui big data, AI, serta penggunaan teknologi untuk mengatasi isu-isu psikologis yang muncul akibat paparan teknologi. Lulusan dari program ini akan dibekali dengan kemampuan untuk menciptakan
solusi teknologi yang dapat membantu dalam pengembangan terapi berbasis digital, alat pemantauan kesehatan mental, serta sistem intervensi psikologis yang lebih akurat dan
personal," ujar Dr Ir Derwin Suhartono SKom MTI selaku dean School of Computer Science.
Dr Elisa Carolina Marion SS MSi selaku dean Faculty of Humanities menambahkan bahwa peluncuran program Digital Psychology ini juga mencerminkan komitmen BINUS @Malang dalam memberdayakan masyarakat dan memajukan bangsa melalui pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Menurut dia, program ini menjadi jembatan penting antara ilmu psikologi dan computer science.
"Kami berharap para mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk menciptakan solusi inovatif yang dapat membantu masyarakat sekitar Jawa Timur hingga Indonesia Timur dalam memahami dan mengatasi tantangan kesehatan mental ataupun kesejahteraan masyarakat di era teknologi saat ini," tuturnya.
Sementara itu, sesi talkshow menghadirkan Junialdi Dwijaputra selaku head of business - Gamification dari Agate, seorang pakar dalam bidang data science dan gamification.
Acara ini dirancang untuk mengeksplorasi lebih jauh peran penting ilmu psikologi dalam perkembangan teknologi digital. Selain itu, sesi ini bertujuan memberikan platform bagi para ahli untuk berbagi wawasan mengenai integrasi antara kesehatan mental dan teknologi. Para peserta talkshow juga diajak berdiskusi tentang keunggulan lulusan digital psikologi saat berkarier di bidang data science, serta tantangan yang bisa mereka hadapi di lapangan.
Dalam paparannya, Junialdi menyampaikan, pihaknya percaya bahwa data science memiliki hubungan yang erat dengan bagaimana aplikasi dan teknologi dapat memengaruhi suasana hati serta kesehatan mental penggunanya.
"Saya sangat senang diundang sebagai narasumber dan berbagi pengalaman saya dalam industri ini," katanya.