JATIMTIMES - Umat Hindu memiliki aneka ragam hari besar yang dirayakan setiap tahun, salah satunya Hari Raya Galungan. Besok Rabu (28/2/2024), umat Hindu di Bali kembali merayakan Galungan. Sementara Kuningan akan digelar pada Sabtu, 9 Maret 2024.
Hingga Selasa (27/2/2024) siang, Hari Raya Galungan menjadi trending dalam penelusuran Google. Banyak warganet yang mencaritahu ucapan, sejarah hingga makna Hari Raya Galungan.
Baca Juga : Pangeran Pancoran: Kisah Sang Pangeran yang Nyaris Mencapai Takhta Mataram
Melansir dari Wikipedia, Hari Raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu setiap enam bulan Bali (210 hari), tepatnya pada hari Buddha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan).
Tahun ini, Hari Raya Galungan jatuh pada 28 Februari 2024, yang diperingati sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Hari Raya Galungan juga merupakan hari di mana umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta beserta seluruh isinya.
Dalam perayaan Galungan, umat Hindu melakukan ibadah dan rangkaian prosesi ritual. Misalnya melaksanakan penyucian diri secara lahir dan batin, lalu memberikan sesajen kepada Sang Hyang Widhi, guna meminta keselamatan. Setelah rangkaian persembahyangan selesai, umumnya umat Hindu akan berkunjung ke sanak saudara.
Galungan diambil dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bertarung. Masyarakat Bali juga biasa menyebutnya “dungulan”, yang artinya menang.
Menurut mitos yang dipercaya umat Hindu, dahulu di Bali ada seorang raja angkara murka bernama Mayadenawa. Raja ini diyakini memiliki kesaktian yang kerap digunakan untuk melakukan kejahatan semasa hidupnya.
Merasa sebagai raja yang paling sakti, Mayadenawa memerintahkan rakyat hanya menyembah dirinya dan melarang menyembah para dewa, bahkan melarang beribadah ke pura. Akibat sikap Mayadenawa yang dianggap kelewat batas, seorang pemuka agama bernama Mpu Sangkul Putih bersemedi untuk meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa.
Mpu Sangkul lantas mendapat pesan harus pergi ke Jawa Dwipa atau India guna meminta bantuan. Mpu Sangkul pun segera berangkat untuk meminta bantuan.
Konon ceritanya, Mpu Sangkul mendapat bantuan dari Dewa Indra, dewa yang menguasai cuaca. Singkat cerita, antara Mpu Sangkul dan Mayadenawa terjadi pertempuran sengit, buntutnya pada kekalahan Mayadenawa. Walauoun Mayadenawa sudah melakukan berbagai tindakan licik supaya bisa mengalahkan lawannya.
Berdasarkan dari mitologi inilah, Hari Raya Galungan dirayakan untuk menandai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).
Sejarah perayaan Galungan tidak dapat dipastikan, baik siapa yang merayakan lebih dulu dan kapan pertama kali diadakan. Sebelum populer di Bali, Hari Raya Galungan diduga telah dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.
Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada tahun 882. Namun, perayaannya sempat berhenti selama bertahun-tahun, hingga membuat para raja yang saat itu berkuasa di Bali banyak yang meninggal di usia muda, dan Pulau Bali kerap terkena bencana.
Sehingga akhirnya pada masa kekuasaan Raja Sri Jayakasunu, Hari Raya Galungan kembali diadakan. Sebelumnya, Raja Jayakasunu sempat merasa bingung, terkait penyebab para raja sebelumnya wafat di usia muda dan sering terjadi bencana di wilayah yang ia kuasai.
Alhasil, Raja Jayakasunu memutuskan untuk bersemedi, di mana ia mendapat bisikan yang dipercaya berasal dari Dewi Durga. Konon, Dewi Durga memberi tahu bahwa segala hal buruk yang terjadi di Pulau Dewata disebabkan oleh rakyat Bali yang tidak lagi memperingati Galungan. Oleh karenanya, Raja Jayakasunu memerintankan rakyatnya untuk kembali merayakan Galungan. Sehingga terus diadakan secara berkelanjutan hingga sekarang.
Sesuai dengan mitologi yang dipercaya umat Hindu, Hari Raya Galungan bertujuan untuk memperingati kemenangan Dewa Indra dalam melawan Mayadenawa atau kebaikan melawan kejahatan. Inti dari Galungan adalah manusia diharuskan bisa mengendalikan nafsunya. Terutama nafsu buruk yang nantinya dapat mengganggu ketenteraman hidup.
Menurut kepercayaan umat Hindu, hawa nafsu manusia terbagi menjadi tiga kala, yaitu:
- Kala Amangkutat (nafsu ingin berkuasa)
- Kala Dungulan (nafsu ingin merebut milik orang lain)
- Kala Galungan (nafsu ingin selalu menang dengan melakukan segala cara)
Selain itu, Galungan juga memiliki makna ucapan syukur umat Hindu atas semua berkat yang sudah mereka terima dari Yang Maha Kuasa dengan terciptanya alam semesta beserta seluruh isinya. Berikut ini rangkaian Hari Raya Galungan yang dilakukan umat Hindu di Indonesia:
- Tumpek Wariga (dilakukan 25 hari sebelum Galungan)
- Sugihan Jawa (dilakukan pada Kamis Wage wuku Sungsang)
- Sugihan Bali (dilakukan pada Jumat Kliwon wuku Sungsang)
- Hari Penyekeban (dilakukan pada Minggu Pahing wuku Dungulan)
- Hari Penyajan (dilakukan pada Senin Pon wuku Dungulan)
- Hari Penampahan (dilakukan sehari sebelum Galungan atau Selasa Wage wuku Dungulan)
- Hari Raya Galungan (Rabu Kliwon wuku Dungulan)
Baca Juga : Apa Itu Hattrick? Kata yang Dipakai PDI Perjuangan usai Kuasai Suara Pileg 2024
- Hari Umanis Galungan (dilakukan pada Kamis Umanis wuku Dungulan)
- Hari Pemaridan Guru (dilakukan pada Sabtu Pon wuku Galungan)
- Ulihan (dilakukan pada Minggu Wage wuku Kuningan)
- Hari Pemacekan Agung (dilakukan pada Senin Kliwon wuku Kuningan)
- Hari Kuningan (10 hari setelah Galungan) - Hari Pegat Wakan (Rabu Kliwon wuku Pahang, sebulan setelah Galungan)
Sementara itu, di Bali, Indonesia, biasanya umat Hindu merayakan Galungan dengan sembahyang di rumah, sembahyang di pura, dan menyerahkan sesajen kepada Sang Hyang Widhi.
Tak hanya itu, di Bali, perayaan Hari Raya Galungan juga khas dengan pemasangan penjor yang menghiasi tepi jalan. Penjor sendiri adalah bambu yang dihias sedemikian rupa sesuai tradisi masyarakat Bali setempat.