Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hukum dan Kriminalitas

Kronologi Pengakuan Ketua BEM FBS Unesa yang Alami Pelecehan Seksual di Kampus

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

13 - Nov - 2023, 19:03

Placeholder
Ilustrasi pelecehan seksual. (Foto: Google)

JATIMTIMES - Baru-baru ini beredar viral curahan korban pelecehan seksual di medsos platform Instagram. Di mana pelecehan seksual tersebut dialami oleh mahasiswa yang menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas dan Seni (FBS) Universitas Surabaya (Unesa) Dhebby Silvia Putri. 

Melalui akun Instagramnya @dhebbysilvia, ia menceritakan kronologi kejadian pelecehan seksual tersebut. 

Baca Juga : Akui Jadi Korban Pelecehan Seksual, Ketua BEM FBS Unesa sampai Depresi

"It's time to speak up. Pada 20 Agustus 2023, saya Dhebby mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2020 di depan gedung rektorat saat mengawasi Mahasiswa Baru 2023 simulasi PKKMB 2023," awal cerita Dhebby. 

Lantas ia menceritakan bahwa awalnya Dhebby bersama dengan anggota BEM FBS Unesa lainnya tengah menemani mahasiswa baru simulasi PKKMB. Kemudian beberapa teman-temannya melaksanakan salat. Ia tidak ikut lantaran sedang halangan. 

"Saya bersama dengan teman-teman Ketua BEM selingkung fakultas lainnya berkumpul di sekitaran tangga dekat lapangan, kami mengobrol sekaligus memantau mahasiswa baru dari masing-masing fakultas," ujarnya, dikutip Senin (13/11/2023). 

Kemudian, Dhebby mengaku jika pelaku pelecehan seksual datang dengan segerombol mahasiswa teknik dan menyalami semua orang yang ada di sana kecuali dirinya. 

"Dan pelaku hanya menatap saya. Pada saat itu posisi badan saya menghadap lapangan kemudian beliau membalikkan diri, menghadap ke lapangan dan menempelkan seluruh tubuhnya ke tubuh saya, menyender dan bertumpu kepada saya," ujar Dhebby. 

"Saya terjepit dan seluruh tubuh saya mengenai tubuh pelaku. Saya mencoba untuk menggeser tubuh saya namun kesulitan karena beliau bertubuh besar. Saya mencoba untuk mendorong beliau tetapi juga tidak bisa. Sampai pada akhirnya beliau berdiri tegak dan menertawakan saya, beliau mengakatakan 'oh ada orang disini?'," sambungnya. 

Menurut Dhebby, perlakuan pelaku kepada dirinya itu dilakukan di depan umum, di hadapan banyak laki-laki. Dan pada saat itu posisi para ketua BEM fakultas dan pelaku berada di depan maba. 

"Perempuan di sana hanya ada saya sendirian. Karena memang, saya Ketua BEM (fakultas) perempuan satu-satunya, posisi teman-teman perempuan biro saya sholat dan belum kembali," ujarnya. 

"Saat itu saya merapikan pakaian saya karena lecak bekas disender oleh pelaku. Kata yang bisa saya ucapkan hanyalah 'apa sih maksud lu?'. Kemudian pelaku menarik id card saya (kebetulan saya memakai lanyard BEM) dan dia berkata 'apaan nih'," imbuh Dhebby. 

Setelah mendapat perlakuan demikian, Dhebby hanya bisa terdiam. Dia mengaku saat itu tidak ada yang membantunya atau menenangkan atau bahkan membelanya. Namun, ada beberapa yang justru menertawakan dan menganggap tindakan pelaku ke Dhebby hanya sebuah candaan. 

"Yang saya pikirkan pada saat itu hanyalah saya ingin menangis, saya ingin pulang. Saya kemudian menghampiri wakil saya karena kebetulan dia ada di belakang taman rektorat, sedang latihan orasi dengan teman-teman pimpinan ormawa FBS," jelas Dhebby. 

Baca Juga : Laga Pilpres 2024 Resmi Dimulai, KPU Tetapkan Tiga Pasang Capres-Cawapres Penuhi Syarat Pencalonan

"Tangis saya pecah, kemudian saya menceritakan kronologinya di depan teman-teman saya. Seketika itu juga, saya dan wakil saya menelpon pelaku untuk menanyakan kepada dia, maksud dan tujuan melakukan hal tersebut kepada saya. Beliau mengatakan bahwa DIA HANYA BERCANDA. (Menempelkan seluruh tubuhnya kepada saya, dihadapan umum, apakah pantas dijadikan sebuah bahan candaan?)," sambung Dhebby. 

Dalam telpon tersebut, Dhebby juga telah menyampaikan pada pelaku bahwa ia ingin permasalahan ini ditangani oleh pihak ke 3 yakni Satgas PPKS. 

"Pelaku mengajak saya untuk bertemu saat itu juga, kemudian saya menolak. Saat saya bilang bahwa saya ingin masalah ini diselesaikan oleh PPKS, pelaku malah memberikan ancaman kepada saya dengan berkata 'oh lu mau kasusin ini? Gua juga bisa kasusin lu balik'. Jawaban saya saat itu hanyalah 'silakan, saya merasa tidak bersalah'," ungkap Dhebby. 

Setelah kejadian itu, malam harinya, Dhebby merasa tidak kunjung tenang dan akhirnya menelpon dosen BK fakultas. Dia pun menghubungi salah satu tim satgas PPKS. 

Keesokan harinya, 21 Agustus 2023 setelah PKKMB Universitas selesai dilaksanakan, Dhebby melapor kepada tim Satgas PPKS. Didampingi wakilnya, Dhebby mendatangi ruangan tersebut dan menceritakan seluruh kronologinya. 

"Dikemudian harinya, satgas memanggil pelaku dan mencoba untuk mengklarifikasi kejadian tersebut. Dan apa yang saya sampaikan adalah valid. Data yang saya sampaikan 100% sama dengan pengakuan pelaku," jelas Dhebby. 

"Selang beberapa hari, saya dipanggil untuk menentukan vonis terhadap pelaku. Jujur saya kebingungan, saya takut. Saya tidak bisa berpikir jernih. Pada akhirnya setelah saya menimbang, saya kembalikan hukuman tersebut kepada perundang-undangan yang berlaku untuk menangani kasus ini," imbuhnya. 

Menurut Dhebby dari hasil investigasi PPKS Unesa, kasus yang dialaminya itu masuk ke dalam kategori sedang-berat. Sehingga satgas mencocokan hukuman dengan kategori tersebut. 

"Kasus ini masih dalam rekomendasi sanksi, saya sangat berharap agar bisa segera terselesaikan karena proses penyelesaian kasus ini sangat berdampak kepada psikis saya," tandas Dhebby. 


Topik

Hukum dan Kriminalitas Unesa pelecehan seksual BEM Dhebby Silvia Putri



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri