Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Melacak Jejak Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM): Pabrik Gula dan Kejayaan Trem di Kediri

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

11 - Nov - 2023, 11:02

Placeholder
Trem di Kediri pada tahun 1973 dengan Loko B17 mutasi dari Trem Malang.(Foto : Instagram @potretjadul)

JATIMTIMES - Kediri, kota yang terletak di Jawa Timur pernah menjadi pusat kegiatan perkebunan tebu dan industri gula yang sangat penting. Pada masa kolonial Belanda di abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda sangat tertarik untuk menjadikan Kediri dan wilayah sekitarnya sebagai lumbung industri pertanian dan perkebunan. 

Mereka memaksakan sistem tanam paksa, yang dikenal sebagai "cultuurstelsel," yang mendorong peningkatan perkebunan tebu di daerah ini. Kediri berkembang pesat sebagai pusat produksi gula, dengan berdirinya banyak pabrik gula seperti Pabrik Gula Merican, Pabrik Gula Tegowangi, Pabrik Gula Kawarasan, Pabrik Gula Pesantren, Pabrik Gula Purwoasri, dan Pabrik Gula Minggiran.

Baca Juga : Rangkaian Hari Jadi ke-78 Jatim, Ditutup Gerak Jalan dan Pasar Murah di Bakorwil Malang

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Kediri mengalami kemajuan yang pesat. Salah satu perkembangan yang paling menonjol adalah pembangunan jaringan trem uap atau kereta api ringan. 

Trem uap ini bukan hanya digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan tebu tetapi juga menjadi sarana transportasi massal yang menghubungkan berbagai kota dalam wilayah Kediri. 

Perusahaan trem ini, Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), didirikan pada 27 September 1895. KSM membangun jaringan rel kereta yang menghubungkan Kediri timur hingga Jombang.

Perjalanan Trem KSM tidak hanya melayani para penumpang tetapi juga menjadi tulang punggung bagi pabrik gula dan ekonomi Kediri pada masa itu. Trem membantu mengangkut tebu dari perkebunan ke pabrik gula, serta menghubungkan berbagai kota di wilayah Kediri. 

Selama periode 1896-1930, KSM memesan berbagai lokomotif uap untuk mengoperasikan jalur-jalur kereta yang membentang sepanjang 121 kilometer. Jalur rel KSM merupakan pendukung dari jalur utama Staats-Spoorwegen (SS), sebuah perusahaan kereta api yang sudah beroperasi sejak 1880-an.

Jejak KSM dapat dilihat di berbagai tempat di Kediri. Jalan Raya Kediri-Pare masih menyimpan beberapa rel kereta yang menyembul ke permukaan, mengingatkan kita pada masa kejayaan trem. Stasiun Pare, yang dulu menjadi jantung operasi KSM, kini telah berubah menjadi toko-toko dan rumah-rumah penduduk. Sisa-sisa stasiun Bendo, yang terletak dekat pabrik gula Tegowangi, juga masih ada, meskipun sebagian besar telah beralih fungsi. Namun, seiring berjalannya waktu, jejak trem ini semakin pudar dan hanya ada dalam kenangan.

Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) adalah salah satu perusahaan transportasi kereta api swasta yang berbasis rel. Perusahaan ini dibentuk pada tanggal 27 September 1895, dan tujuan utamanya adalah membangun jaringan trem uap di wilayah Kediri, Jawa Timur. Trem ini tidak hanya digunakan untuk mengangkut penumpang, tetapi juga untuk mendukung aktivitas pabrik gula yang berkembang di daerah ini. Inilah kisah bagaimana pabrik gula zaman Belanda menjadi pendorong utama untuk kemunculan trem di Kediri.

Sejak abad ke-19, tanah dataran rendah di sekitar Kediri menjadi pusat perhatian pemerintahan Hindia Belanda. Mereka melihat potensi besar dalam mengembangkan industri pertanian dan perkebunan di daerah ini. Untuk mendorong produksi tebu, Belanda menerapkan sistem tanam paksa atau "cultuurstelsel" di Jawa Timur, yang mewajibkan petani untuk menanam tebu, kopi, dan nila selain tanaman pangan. Hal ini mendorong banyak orang Jawa Tengah bermigrasi ke Jawa Timur untuk bekerja di perkebunan tebu. Akibatnya, jumlah penduduk Jawa Timur meningkat sekitar 30 persen antara tahun 1885 dan 1900.

Dengan meningkatnya produksi tebu, berdirilah banyak pabrik gula di wilayah Kediri. Pabrik Gula Merican, Pabrik Gula Tegowangi, Pabrik Gula Kawarasan, Pabrik Gula Pesantren, Pabrik Gula Purwoasri, dan Pabrik Gula Minggiran adalah contoh nyata dari besarnya industri perkebunan tebu dan pengolahan gula di daerah ini. Pabrik-pabrik ini menjadi sumber utama produksi gula, yang kemudian membutuhkan transportasi efisien untuk mengangkut tebu dari perkebunan ke pabrik.

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, perkembangan pesat terjadi di Kediri. Jaringan kereta api antar dan dalam kota mulai dibangun di berbagai tempat. Perusahaan transportasi swasta yang berbasis rel, yang berasal dari Belanda, melihat peluang besar dalam industri ini. Inilah awal mula munculnya ide untuk membangun trem uap sebagai sarana transportasi massal.

Pada tanggal 27 September 1895, Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) didirikan. Perusahaan ini bertujuan untuk membangun jaringan rel kereta di wilayah Kediri timur hingga Jombang. Dalam perkembangannya, kereta trem tidak hanya hadir untuk mengakomodir angkutan perkebunan dan menunjang aktivitas pabrik gula, tetapi juga menjadi sarana transportasi massal dalam kota. Masyarakat Kediri dan sekitarnya mulai mengandalkan trem uap ini untuk perjalanan sehari-hari mereka.

KSM memiliki hubungan erat dengan Malang Stoomtram Maatschappij (MS), yang baru dibentuk pada tahun 1897. Kursi direktur pertama dari kedua perusahaan itu diduduki oleh orang yang sama: C.E van Kesteren. Selain itu, Huyser, P.C menjadi ketua komisaris, Augustus Janssen menjadi sekretaris, dan J.K Kempees menjabat sebagai ketua dewan direksi KSM.

Untuk membangun jaringan trem ini, KSM membutuhkan modal yang cukup besar. Penelitian yang berjudul "Perkembangan Kediri Stoomtram Maatschappij Pada Tahun 1895-1930" (2018) menyebutkan bahwa modal pendirian perusahaan kereta trem uap ini mencapai f 1.800.000. Modal ini digunakan untuk membangun jaringan trem lintas Kediri-Pare-Jombang sepanjang 121 kilometer. Selain itu, berbagai sarana dan prasarana juga perlu dipersiapkan untuk mendukung operasi trem ini.

Jalur rel KSM menghubungkan berbagai kota dan daerah di wilayah Kediri. Jalur utama menghubungkan Jombang-Pare-Kediri sejauh 50 kilometer dan dibuka pada tanggal 7 Januari 1897. Selain itu, ada jaringan rel yang menghubungkan Stasiun Jombang (SS) dengan Stasiun Jombang Kota (KSM) yang dibuka pada tahun 1898 dengan panjang 2,7 kilometer. Pembangunan jalur rel terus berlanjut secara bertahap dalam kurun waktu 1896 hingga 1900, dan mencapai Stasiun Kediri (SS) di jalur tiga.

Trem KSM melayani tujuh trayek perjalanan yang berbeda dan dioperasikan dengan berbagai kereta. Relasi Jombang-Pare-Kediri sebagai jalur utama dilayani oleh delapan kereta. Sementara relasi yang lebih pendek seperti Pare-Papar, Pare-Konto, Pare-Kepung, Pulorejo-Kandangan, Gurah-Kawarasan, dan Kediri-Wates masing-masing dilayani oleh lima kereta. Dalam sehari, KSM mengoperasikan 76 kereta pulang-pergi yang tetap melayani penumpang, bahkan di hari libur.

Baca Juga : Ini 10 Cara Mengendalikan Emosi Diri dan Meningkatkan Kesehatan Mental

Stasiun-stasiun di jalur trem ini memiliki berbagai tingkatan, dari stasiun kelas I, II, hingga III. Selain itu, ada juga berbagai halte, yang merupakan tempat pemberhentian lebih kecil daripada stasiun. Halte ini biasanya berukuran lebih kecil dan bersifat semi-permanen. Stasiun-stasiun dan halte yang dekat dengan pabrik gula menjadi titik persilangan antara rel kereta trem dan rel kereta barang atau lori. KSM seringkali mengoperasikan gerbong penumpang dan barang sekaligus dalam satu rangkaian.

Untuk menggerakkan kereta trem, KSM membeli dua tipe lokomotif uap yang berbahan bakar kayu jati dan batubara. Selama periode 1896-1930, KSM memesan total 28 lokomotif, mulai dari tipe B1501, B1502, C2601 hingga C2610. Lokomotif tipe B biasanya digunakan untuk mengangkut penumpang serta hasil perkebunan relasi Jombang-Kediri. Lokomotif tipe C, yang mulai didatangkan KSM tahun 1914, digunakan untuk mengangkut barang. Keduanya memiliki kecepatan maksimal yang cukup baik, yaitu sekitar 25-30 kilometer per jam untuk lokomotif tipe B dan 30 kilometer per jam untuk lokomotif tipe C. Lokomotif tipe C digunakan untuk jarak dekat dan menengah.

Kehadiran trem KSM membawa manfaat besar bagi ekonomi Kediri. Denyut ekonomi daerah ini semakin hidup, dan masyarakat merasa terbantu dalam beraktivitas dari satu tempat ke tempat lain, termasuk perjalanan luar kota melalui stasiun besar milik Staats-Spoorwegen (SS). Gerbong kereta kelas III, yang khusus digunakan untuk kaum pribumi, selalu ramai, dan menjadi sumber pendapatan terbesar dibandingkan dengan kelas gerbong di atasnya. Tarif gerbong kelas III saat itu sekitar f 11,0530. Dalam hal angkutan barang, jaringan trem KSM juga mencakup banyak pabrik gula di wilayah Kediri, sehingga menjadi tulang punggung bagi industri gula tersebut.

Namun, seperti banyak cerita sukses, masa kejayaan trem KSM juga menghadapi tantangan. Krisis ekonomi global pada tahun 1929 berimbas pada stabilitas pendapatan ekonomi perusahaan ini. Pendapatan KSM mulai menurun pada tahun 1930. Pada saat itu, KSM hanya meraup keuntungan sebesar f 167.122,27, dibandingkan dengan tahun 1929 yang masih mencatatkan keuntungan mencapai f 182.316,58.

Tahun 1930 menjadi masa kemunduran bagi KSM. Di tengah krisis ekonomi, berkurangnya produksi barang yang dihasilkan oleh pabrik gula berdampak pada menurunnya kapasitas daya angkut trem KSM. Krisis finansial juga mempengaruhi daya beli masyarakat, sehingga menurunkan daya beli tiket trem. Sebagai hasilnya, perusahaan swasta ini mulai mengurangkan jumlah pegawai, dari yang awalnya 420 orang pada tahun 1929 menjadi 406 orang pada tahun 1930. Stasiun Papar, Halte Tegowangi, dan Halte Kayangan, yang kerap digunakan untuk pengangkutan barang, terpaksa ditutup pada tahun 1930.

Perlahan namun pasti, jalur trem KSM mulai dinonaktifkan, dimulai dari Jombang. Jalur relasi Jombang-Pare ditutup pada tahun 1976, disusul oleh Pare-Kediri pada tahun 1978, dan Stasiun Jombang-Jombang Kota KSM pada tahun 1981. Jalur rel lainnya bahkan sudah mati terlebih dahulu karena dicabuti oleh Jepang selama masa pendudukan mereka pada tahun 1942-1945. Beberapa stasiun dan halte bahkan dihancurkan.

Pada tahun 1984, semua lokomotif trem KSM dipindahkan ke Madiun. Para warga yang masih ingat masa-masa kejayaan trem menceritakan bahwa mereka terakhir kali melihat kereta melintas di depan rumah mereka pada tahun 1985.

Kini, secara keseluruhan, jalur kereta api Jombang-Kediri beserta percabangannya telah berstatus tidak aktif. Aset-aset trem ini menjadi milik PT. Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 7 Madiun. Seperti banyak daerah lain yang pernah memiliki jaringan trem, munculnya angkutan bermotor di jalanan secara signifikan mempercepat kepunahan trem uap sebagai moda transportasi massal. Suara khas lokomotif kereta uap, bersama dengan peluit masinis yang meramaikan rel, telah menjadi kenangan di masa lalu.

Namun, meskipun jalur trem KSM telah tidak aktif, beberapa jejak peninggalannya masih dapat ditemukan di berbagai tempat di Kediri. Salah satu contoh yang paling mencolok adalah beberapa rel kereta yang masih menyembul ke permukaan di Jalan Raya Kediri-Pare. Meskipun seiring berjalannya waktu rel ini semakin pudar, mereka tetap menjadi saksi bisu dari masa kejayaan trem.

Stasiun Pare, yang dahulu menjadi pusat operasi KSM, juga masih memiliki sisa-sisa bangunan yang dapat ditemukan di tengah pertokoan di Jalan PB Sudirman. Bangunan pintu masuk utama Stasiun Pare juga masih berdiri, meskipun sudah berubah fungsi menjadi kios sate. Kantor pusat KSM, yang pernah menjadi pusat pengambilan keputusan dan pengelolaan operasi trem, sekarang telah beralih fungsi menjadi kantor Koramil 0809/11 Pare.

Stasiun Bendo, yang hanya berjarak beberapa meter dari pabrik gula Tegowangi, juga masih memiliki sisa-sisa bangunan yang menjadi kenangan akan masa kejayaan KSM. Namun, beberapa bangunan ini telah beralih fungsi dan digunakan sebagai pasar. Sisa-sisa fisik pabrik gula Tegowangi yang pernah menjadi tujuan utama angkutan trem kini tidak dapat ditemukan lagi, karena pabrik tersebut ditutup sekitar tahun 1970-an. Lahan tempat pabrik gula Tegowangi berdiri kini diisi oleh pabrik rokok Apache.

Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) dan jejak-jejaknya adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Kediri. Meskipun masa kejayaan trem ini telah berlalu, kenangan akan peran pentingnya dalam menggerakkan perekonomian dan transportasi di wilayah ini tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Beberapa sisa fisik yang dapat ditemukan di sekitar kota menjadi tanda penghormatan terhadap warisan bersejarah ini.

Kediri pernah menjadi pusat industri perkebunan tebu dan produksi gula yang penting pada masa kolonial Belanda. Di tengah perkebunan yang berkembang pesat, trem uap Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) menjadi tulang punggung bagi transportasi di wilayah ini. Dengan jejak-jejaknya yang masih ada, Kediri mengenang masa kejayaan trem sebagai saksi bisu dari sejarahnya. Meskipun masa tersebut telah berlalu, kehadiran trem KSM dalam sejarah Kediri tetap hidup dalam ingatan dan jejak-jejak fisik yang dapat ditemukan di berbagai tempat di kota ini.


Topik

Serba Serbi kediri stoomtram maatschappij kota kediri sejarah kota kediri



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana