Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Bukan Sekedar Angka: Massa Aksi Kamisan Malang Suarakan Keadilan Tragedi Kanjuruhan

Penulis : Asa Zakiyya Hafidh-Syafina Chandra Dewi - Editor : Dede Nana

15 - Sep - 2023, 16:51

Placeholder
Aksi Kamisan Malang Menuntut Keadilan Bagi Keluarga Korban (foto: dok Massa Aksi Kamisan Malang)

JATIMTIMES – Massa Kamisan yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dan keluarga korban menggelar aksi protes di depan Balai Kota Malang, Kamis (14/9/2023) kemarin. 

Mereka menuntut keadilan dalam kasus Tragedi Kanjuruhan dan mengkritik tindakan renovasi stadion yang dianggap sebagai upaya pemerintah untuk menghilangkan bukti-bukti terkait tragedi tersebut. 

Baca Juga : Viral, Jamaah Umrah Diduga dari Indonesia Berzikir Keras hingga Jadi Pusat Perhatian

“Tindakan ini mengindikasikan bahwa negara abai terhadap proses peradilan dalam tragedi Kanjuruhan dan berusaha untuk menghilangkan alat bukti proses hukum. Hingga saat ini memang proses peradilan terhadap kasus Kanjuruhan dirasa belum maksimal”, ungkap Fanda Amalia salah satu mahasiswa FISIP UB yang ikut hadir dalam aksi. 

Fanda yang juga menjabat sebagai Kepala Departemen Kajian Sosial Politik HIMAPOLITIK FISIP UB ini pun menjelaskan, tindakan renovasi stadion Kanjuruhan mengindikasikan ketidakpedulian pemerintah terhadap proses peradilan dalam tragedi yang menelan ratusan korban jiwa.

Mereka mengecam tindakan ini dan menuntut transparansi dalam proses hukum. Serta mengecam pihak yang bersangkutan untuk tidak mengabaikan hak anak dan perempuan. Tak hanya itu massa juga menyatakan dengan tegas tragedi Kanjuruhan ditetapkan sebagai pelanggaran HAM berat.

“Bentuk kecaman yang kami lakukan yaitu dengan mengadakan aksi yang dilakukan di depan Kantor Balai Kota Malang serta membacakan press release yang berisi beberapa poin tuntutan yang diajukan oleh keluarga korban menyikapi renovasi Kanjuruhan serta pemberhentian laporan model B”, tuturnya.

Aksi Kamisan berjalan dengan kondusif dan tanpa tindakan represif atau anarkis dari pihak massa aksi maupun pihak keamanan. Fanda menjelaskan bahwa saat mereka melaksanakan aksi, tidak ada satupun perwakilan dari pihak pemerintah maupun keamanan yang turun untuk menemui massa aksi.

Terkait kelanjutan dari aksi ini sendiri, Fanda mengatakan bahwa akan terus diadakan aksi serupa. “Aksi Kamisan akan terus dilakukan setiap hari Kamis, khususnya selama September, yang dikenal sebagai 'September Hitam' dengan fokus pada isu-isu pelanggaran HAM,” terangnya. 

Baca Juga : Viral, Penampakan Cahaya Bergerak di Langit Sleman, Diduga Meteor Jatuh

Terkait sejarah dari "Aksi Kamisan" Fanda mengungkapkan bahwa inisiator gerakan ini adalah keluarga korban pelanggaran HAM berat seperti Suciwati (istri mendiang almarhum Munir), Maria Katarina, dan Bedjo Untung. 

“Aksi ini pertama kali digelar di Jakarta 2007. Namun seiring berjalannya waktu, aksi ini menyebar ke berbagai daerah, termasuk Malang, sejak 2008,” terangnya.

Fanda juga menambahkan terkait harapan dari penyelenggaraan aksi ini adalah pemerintah dapat mendengar aspirasi mereka dan memahami bahwa keluarga korban terus menuntut keadilan serta mengusut tuntas tragedi Kanjuruhan. 

Mengenai proses renovasi stadion yang dilakukan sekarang ini, tindakan tersebut dianggap sebagai salah satu upaya untuk menghapus ingatan kolektif tentang tragedi Kanjuruhan. “135 nyawa yang hilang dalam peristiwa itu bukan sekadar angka statistik, melainkan nyawa yang berharga” pungkasnya.


Topik

Peristiwa massa kamisan tragedi kanjuruhan korban tragedi kanjuruhan kota malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Asa Zakiyya Hafidh-Syafina Chandra Dewi

Editor

Dede Nana