JATIMTIMES - Pondok pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfiroh mengajak Ponpes di Malang Raya untuk bisa mewujudkan kemandirian di bidang ekonomi. Salah satunya dengan menciptakan produk UMKM maupun ekonomi kreatif, termasuk di bidang yang bergerak pada sektor klinik kesehatan.
Guna merealisasikan hal itu, ponpes yang di asuh oleh Prof. Dr. Ir Muhammad Bisri, MS ini, mengadakan workshop Inkubator Bisnis Bahrul Maghfiroh (IBBM), Sabtu (26/8/2023). Dalam agenda workshop yang berlangsung di Yayasan Ponpes Bahrul Maghfiroh tersebut, salah satu tema utama yang disosialisasikan adalah berkaitan dengan pelatihan dan pendampingan pendirian klinik kesehatan.
Baca Juga : Kondisi Batuk tapi Konsumsi Minuman Dingin, Boleh Tidak?
"Hari ini sebenarnya acara utamanya sosialisasi BBM (Bisnis Bahrul Maghfiroh) dulu, jadi kami selaku IBBM punya potensi-potensi yang bisa menjadi ruang inkubasi, ruang belajar untuk menciptakan bisnis," ungkap Ketua IBBM, Moh Bagus Fahmi saat ditemui disela agenda workshop, Sabtu (26/8/2023).
Sosok yang akrab disapa Bagus ini berharap, melalui agenda workshop khususnya para tamu undangan yang hadir dan seluruh ponpes di Malang Raya pada umumnya, bisa mewujudkan kemandirian. Terutama di sektor ekonomi. "Target kami adalah sasarannya menciptakan berdikari ekonomi dengan UMKM dan ekonomi kreatif di lingkungan ponpes," imbuhnya.
Saat ini, Ponpes Bahrul Maghfiroh telah memiliki beragam potensi untuk menularkan kemandirian ekonomi kepada ponpes di Malang Raya. Yakni mulai dari potensi tempat yang sudah bisa dijadikan ruang belajar yang meliputi bidang budidaya anggrek, bidang budidaya ikan koi, lele hingga pabrik keju.
"Hari ini kenapa kita malah mengangkat klinik, karena diferensiasi-nya , pembedanya adalah masih jarang ponpes yang memiliki klinik. Sehingga kita memberikan edukasi dulu, pintu masuk ke ponpes agar tertarik bisa berkunjung ke Bahrul Maghfiroh," tuturnya.
Dalam realisasinya, para pendamping yang ada di Ponpes Bahrul Maghfiroh akan dilibatkan guna membantu serta menangani berbagai program kesehatan di lingkungan ponpes. Termasuk pendampingan dan pelatihan pendirian klinik kesehatan.
Di mana, pendampingan serta pelatihan tersebut akan dilakukan secara berkelanjutan, yang diawali dengan workshop IBBM. "Hari ini masih pengantar, nanti akan ada pelatihan lanjutan. Terutama sesuai dengan kebutuhan masing-masing ponpes," ungkapnya.
Hingga kini, telah ada beberapa ponpes yang berminat mendirikan klinik kesehatan seperti yang ada di Ponpes Bahrul Maghfiroh. "Ada ponpes yang hanya sebatas ingin adanya kerjasama klinik. Sehingga kita bedakan, kalau mereka ingin didampingi untuk menciptakan klinik sendiri, maka yang kita lakukan adalah MoU pendampingan. Di situ konsultan, bahasanya IBBM ini jadi konsultan pendirian klinik," terangnya.
Terdapat beberapa prosedur pendampingan yang akan dilakukan IBBM. Diantaranya mulai dari kunjungan hingga analisa kebutuhan di masing-masing ponpes yang hendak mendirikan klinik kesehatan. "Nantinya kita juga tidak mematok tarif secara langsung, karena kita harus menyesuaikan kebutuhan, kita visiting dulu ke ponpes tersebut. Kemudian kita analisa kebutuhan-kebutuhannya, baru nanti akan berbicara berapa angkanya dan sebagainya," ujarnya.
Baca Juga : Berikan Wadah Para Enterpreneur Muda, MSC Kampus Kemandirian Buka Peluang Bisnis Berbasis Wakaf
Namun jika dari hasil kunjungan tersebut ternyata ponpes hanya memerlukan kerjasama. Maka klinik kesehatan yang ada di Ponpes Bahrul Maghfiroh akan bersedia untuk menjalin hubungan kerjasama tersebut.
"Kalau sebatas kerjasama dengan klinik, klinik kami sudah siap untuk kerjasama dengan ponpes yang ingin memberikan pelayanan kesehatan lebih di ponpes-nya. Terutama untuk santrinya," ungkapnya.
Secara umum tidak ada target pasti terkait berapa ponpes yang akan diberikan pendampingan oleh IBBM. Namun setidaknya, Ponpes Bahrul Maghfiroh akan mendorong kepada ponpes besar di Malang Raya untuk menjalin kerjasama di bidang klinik kesehatan. "Targetnya kalau untuk klinik, ponpes besar sekitar 10 ponpes di Malang Raya. Tapi kalau untuk kerja sama dalam peningkatan layanan kesehatan, kerjasama klinik, seluruh ponpes di Malang Raya kami harapkan bisa join dalam ekosistem ini," tuturnya.
Sekedar informasi, dalam agenda workshop tersebut turut mengundang sejumlah pemateri. Selain Pengasuh Ponpes Bahrul Maghfiroh, Prof. Dr. Ir Muhammad Bisri, MS, Ketua Pengurus Klinik Ponpes Bahrul Maghfiroh Drg. Rofi Nurdiansyah Sp. Ort., hingga Ketua Malang Health Tourism Ardantya Syahreza juga dihadirkan sebagai narasumber. "Kami juga mengundang dari Malang Health Tourism untuk memberikan gambaran bahwasanya ternyata di Malang ini punya potensi dalam lingkup bisnis kesehatan. Bahkan sektor kesehatan bisa menjadi sebuah pariwisata," ucap Bagus.
Dalam materinya, diterangkan Bagus, pihak Malang Health Tourism menerangkan tentang prosedur pendirian klinik. Yakni mulai dari pengurusan legalitas hingga ketersediaan SDM. "Kalau prosedurnya klinik itu ada dua, ada klinik pratama dan klinik utama. Jadi nanti sesuai dengan kebutuhannya ponpes itu sendiri," ujarnya.
Dalam realisasinya, Ponpes Bahrul Maghfiroh melalui IBBM akan memberikan pelatihan dan pendampingan. Dengan demikian diharapkan ponpes di Malang Raya bisa mewujudkan kemandirian ekonomi. Satu diantaranya melalui pendirian klinik kesehatan tersebut. "Tapi yang pasti harus ada pengurusan legalitas, harus memiliki tempat, harus memiliki SDM, terutama dokter, perawat dan sebagainya. Pendampingan kita sampai sejauh itu, yaitu menciptakan SOP, proses mulai dari awal sampai akhirnya bagaimana sistem dari klinik itu sendiri," tukasnya.