JATIMTIMES - Gempa bumi dengan magnitudo M 6,4 mengguncang wilayah Bantul, Yogyakarta pada Jumat (30/6/2023). Gempa bumi yang terjadi semalam disebut mirip dengan gempa bumi yang pernah terjadi di Kabupaten Malang pada 10 April 2021 lalu.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono melalui akun Instagramnya pada Sabtu (1/7/2023) pagi. Dalam cuitannya, Daryono mengatakan gempa di Bantul sangat mirip dengan gempa selatan Jawa Timur 10 April 2021.
Baca Juga : Gempa Bantul DIY Berulang 4 Kali dengan Magnitudo Berbeda
"Hiposenter gempa Yogyakarta swmalam dibawah bidang kontak lempeng yang pecah adalah bagian slab lempemg Indo-australia, shg memiliki konten groundmotion yg kuat. Gempa ini sangat mirip gempa selatan Jawa Timur 10 Apr 2021 yg menimbulkan kerusakan di 16 kab/kota di Jawa Timur," tulis @DaryonoBMKG.
Jika merujuk cuitan Daryono, maka gempa selatan Jawa Timur yang dimaksud adalah gempa bumi berkekuatan M 6,1 yang terjadi pada 10 April 2021 pukul 14.00 WIB dengan kedalaman gempa 80 km. Di mana pusat gempa kala itu berada di laut 96 Km Selatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia.
Guncangan gempa ini dirasakan hampir di seluruh provinsi Jawa Timur, DIY dan sebagian Jawa Tengah, Bali dan NTB. Dan akibat gempa ini 10 orang tewas, serta ribuan bangunan rusak.
Sementara itu, Daryono juga mengatakan gempa di Bantul mengakibatkan kerusakan ringan hingga sedang. Beberapa wilayah terdampak di antaranya, Kecamatan Piyungan; dan Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul; Desa Jetis Kidul, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan; serta Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri.
"Masyarakat dihimbau tetap tenang tetapi waspada. Gempa susulan masih mungkin terjadi, masy diminta mewaspadai kemungkinan tjd gempa susulan signifikan yg berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan yg sudah lemah, shg dihimbau utk tdk menempati bangunan yg sudah rusak," imbau Daryono.
"Masyarakat perlu waspada dengan kawasan perbukitan dengan tebing curam karena gempa susulan signifikan dapat memicu longsoran (landslide) dan runtuhan batu (rock fall)," imbuhnya.
Menurut Daryono, jika memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, maka gempa di Bantul merupakan jenis gempa menengah akibat adanya aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Baca Juga : Pasutri Korban Pembunuhan di Tulungagung Terkenal Ramah dan Berjiwa Sosial Tinggi
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bhw gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault )," ungkapnya.
"Gempa Yogyakarta ini dirasakan di Bantul, Tulungagung, Nganjuk, Kebumen, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek IV MMI. Karangkates, Klaten, Kediri, Kulonprogo, Wonogiri III-IV MMI, Banjarnegara, Purbalingga, Purwokerto, Mojokerto, Pacitan, Gresik, Malang, Salatiga, Jepara III MMI," sambungnya.
Daryono juga menjelaskan soal alasan banyaknya rumah rusak di Bantul. Kata dia, karena di Bantul ada kondisi tanah lunak.
"Mengapa di Bantul bnyk rumah rusak saat gempa semalam? Meski blm ada pendalaman data, bukti bhw local site effect atau efek tapak karena kondisi tanah lunak di bantul sudah tampak pada peta shakemap ini," cuitnya.