Banjir Kupat di Tulungagung, Semua Boleh Makan Sepuasnya | Jatim TIMES
penjaringan-bakal-calon-jatimtimes099330c15d1b4323.jpg

Banjir Kupat di Tulungagung, Semua Boleh Makan Sepuasnya

May 08, 2022 19:39
Kegiatan Kupatan Massal di Bago, Tulungagung. (Foto : Candra S/TulungagungTIMES).
Kegiatan Kupatan Massal di Bago, Tulungagung. (Foto : Candra S/TulungagungTIMES).

JATIMTIMES - Momen lebaran ketupat nampaknya sangat dinantikan masyarakat di Tulungagung. Pasalnya, tradisi kupatan yang kental dilakukan sejak lama itu selalu membuat kangen. Di momen ini, rasanya masyarakat tak perlu menahan lapar ataupun membeli makanan saat sedang lapar. Pasalnya, Minggu (8/5/2022) ini, nyaris di semua desa yang tersebar di 19 Kecamatan menggelar tradisi kupatan.

"Di tempat saya dibawa ke Musala pada malam setelah Maghrib," kata Iman, warga di Desa Bendilwungu, Kecamatan Sumbergempol.

Baca Juga : Diduga Terpeleset dari Sepeda Motor, Pemuda Asal Gondanglegi Tewas di Bawah Kolong Bus

Menurut Iman, setelah diberikan doa ketupat yang dibawa diiris lalu dibagikan jamaah Musala untuk dibawa pulang.

"Ada yang bawa sudah irisan, lodehnya dimasukkan plastik. Di Musala tinggal di tukar saja," ujarnya.

Beda dengan Iman, warga di kecamatan Boyolangu kebanyakan menggelar kupatan massal di jalan.

"Kita taruh di depan rumah, siapa saja yang ingin makan kita persilakan," ucap Winarti.

Bahkan, karena ingin di lingkungannya kompak kupatan di beberapa jalan dan gang di wilayah lain diposting dan diumumkan di media sosial.

"Banjir kupat, menandakan bahwa selama lebaran kita telah saling memaafkan kalau ada lepat (salah).," Hadi, warga di desa Serut.

Di tempat lain, Diana warga Sumbergempol juga sengaja datang ke lebaran kupat di Panjerejo, Rejotangan. Di lokasi ini, ia juga melihat dan ikut bersama warga lain menikmati kupat yang sudah dipersiapkan sejak sore hari.

Seperti diketahui, tradisi ini telah berjalan turun temurun di Tulungagung. Kupatan tidak hanya sekedar perayaan yang dilakukan tanpa makna.

Baca Juga : Viral di Medsos, Sopir Bus Terabas Marka Jalan di Tulungagung Akhirnya Minta Maaf

Kupatan memiliki filosofis dan berasal dari bahasa Jawa ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Dengan adanya kupatan setahun sekali ini, harapannya antar tetangga dan saudara bisa saling memaafkan.

Kupat atau ketupat terbuat dari janur diyakini berasal dari kata “ja a nur” yang berarti telah datang cahaya. 

Hal ini melambangkan kondisi umat muslim setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan suci Ramadlan, kembali kepada kesucian jati diri manusia (fitrah).

Dari kupat Janur ini, isi ketupat berasal dari beras terbaik yang dimasak sampai menggumpal atau istilah Tulungagung disebut kempel dan memiliki makna kebersamaan dan kemakmuran.

Lebaran Kupatan sebagai bentuk perayaan untuk saling memaafkan segala kesalahan dan melimpahkan kebaikan sesama dan khusus bagi yang menjalankan puasa Syawal, lebaran ketupat adalah hari rayanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
tradisi kupatan lebaran kupatan

Berita Lainnya