08/12/2022 Unik, Pria Asal Blitar Kenalkan Asal Muasal Ikan Mujair kepada Generasi Muda Melalui Kerajinan Batik | Jatim TIMES

Unik, Pria Asal Blitar Kenalkan Asal Muasal Ikan Mujair kepada Generasi Muda Melalui Kerajinan Batik

Apr 03, 2022 07:19
Gigih saat beraktivitas membuatbatik Mujair. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES).
Gigih saat beraktivitas membuatbatik Mujair. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES).

Pewarta: Aunur Rofiq | Editor: Pipit Anggraeni

JATIMTIMES - Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar dikenal sebagai kampung Mudjair. Julukan ini karena di desa tersebut merupakan asal ditemukannya Ikan mujair oleh penemunya yakni Mbah Moedjair.

Warga Desa Papungan sangat menghormati Mbah Moedjair. Meski ikan mujair sudah tersohor ke seluruh penjuru dunia, warga tetap berupaya memberikan edukasi mengenalkan ikan mujair dengan beragam cara. Salah satunya Gigih Prasetyo yang mengenalkan Ikan mujair melalui batik tulis yang diberi nama Batik Mudjair.

Baca Juga : UNU Blitar dan STIBADA MASA Surabaya Jalin Kerjasama Tri Dharma

Melalui Batik Mudjair inilah Gigih berharap para generasi muda mengetahui bahwa ikan mujair ditemukan oleh Mbah Moedjair yang berasal dari Kabupaten Blitar. Menurut dia, anak muda zaman sekarang banyak yang  tidak mengetahui jika penemu  ikan mujair berasal dari Blitar.

Ditemui di rumahnya di Dusun Gajah RT 4 RW 1 Desa Papungan, Gigih mengaku baru menekuni Batik Mudjair sekitar 1 tahun terakhir.

"Sebelum ini saya sempat membuat kayu ukiran, tapi tidak jalan. Kebetulan saya pernah belajar lama di Yogjakarta tentang cara membatik. Kemudian ada pelatihan batik tulis di desa. Dari sini saya mulai menekuni untuk membuat batik bermotif ikan Mudjair. Ikan Mujair adalah ikon Desa Papungan dan Kabupaten Blitar," kata Gigih, Sabtu (2/3/2022).

Gigih menambahkan, ciri khas Batik Mudjair tentunya adalah  ikan mujair yang dikombinasikan dengan motif belalai gajah, tebu, dan opak gambir.

"Untuk belalai gajah karena disini kan Dusun Gajah. Kemudian tebu itu masuk karena mayoritas petani di Blitar bertani tebu. Sedangkan opak gambir saya pilih karena di desa kami banyak warga yang menekuni usaha opak gambir skala UMKM," imbuhnya.

Dalam membuat batik, pria kelahiran 35 tahun silam ini mengaku masih sendiri. Sebab yang dikerjakan masih batik tulis. Dalam membuat satu karya Batik Mudjair, Gigih membutuhkan waktu lama dengan tingkat kesabaran tinggi.

"Dalam membuat satu karya batik, saya butuh waktu satu minggu. Prosesnya cukup panjang mulai dari sketsa gambar, kemudian di canting, diwarna sesuai keinginan, dicuci, dikeringkan, baru jadi. Tapi juga tergantung motifnya," terangnya.

Lebih dalam Gigih menyampaikan, dalam memasarkan Batik Mudjair buatannya dia menggunakan sistem pemasaran online. Dia juga aktif mengikuti pameran dan kegiatan-kegiatan yang melibatkan UMKM. Harga Batik Mudjair buatan Gigih bervariasi mulai Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu tergantung motif.

‘’Alhamdulilah peminat batik buatan saya cukup banyak meski penjualan masih dilingkup lokal saja. Saya berharap ke depan di Desa Papungan akan banyak lahir perajin batik.  Cita-cita dan impian saya adalah menjadikan Batik Mudjair menjadi produk unggulan Desa Papungan,’’ pungkasnya.

Baca Juga : Datang ke Pamekasan, Menparekraf Apresiasi Pamekasan Fashion Weekend

Sekedar diketahui, ikan mujair pada mulanya ialah ikan air asin yang sengaja dikembangkan melalui percobaan habitat oleh seorang kakek tua yang berasal dari Dusun Papungan, Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. 

Nama ikan mujair  sendiri diambil dari nama penemunya yaitu Mbah Moedjair, yang menemukan ikan ini pada tahun 1939 di Pantai Serang. 

Berkat kegigihan Mbah Moedjair, Pemerintah Hindia Belanda, menurut harian Pedoman edisi 27 Agustus 1951, mengapresiasi usaha Moedjair membudidayakan ikan mujair dengan memberinya santunan sebesar Rp 6,- per bulan.

Saat pendudukan Jepang, ikan mujair kian populer. Pasukan Jepang, seperti tercatat dalam Tilapia: Biology, Culture, and Nutrition suntingan Carl D Webster dan Chhorn Lim, membawanya ke seluruh daerah untuk dibudidayakan dalam tambak-tambak. Mbah Moedjair pun diangkat sebagai pegawai negeri tanpa harus mendapat beban kerja.

Enam tahun setelah Indonesia merdeka, Mbah Moedjair menerima surat tanda jasa dari Kementerian Pertanian atas jasanya sebagai penemu dan perintis perkembangan ikan mujai.

Pada era Orde Baru, ikan mujair masih menjadi santapan favorit masyarakat. Sejak 1982, sebagaimana termuat dalam Laporan Pelita IV 1984-1989, program pengembangan aneka ikan dilaksanakan pemerintah dengan menyebarkan bibit ikan mujair dalam kolam pekarangan dan waduk-waduk.

Judul berita Unik, Pria Asal Blitar Kenalkan Asal Muasal Ikan Mujair kepada Generasi Muda Melalui Kerajinan Batik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Topik
ikan mujair penemu ikan mujair

Berita Lainnya