Bolehkah Mengubur Jenazah Tanpa Membuka Tali Pocong? Ini Penjelasan MUI Glagah Banyuwangi | Jatim TIMES
penjaringan-bakal-calon-jatimtimes099330c15d1b4323.jpg

Bolehkah Mengubur Jenazah Tanpa Membuka Tali Pocong? Ini Penjelasan MUI Glagah Banyuwangi

Aug 25, 2021 08:34
KH Marfu’ Ali, ketua MUI Kecamatan Glagah, Banyuwangi, saat memberikan sambutan di Masjid Al Amal Desa Kampunganyar, Glagah. (Foto: Nurhadi/JatimTIMES)
KH Marfu’ Ali, ketua MUI Kecamatan Glagah, Banyuwangi, saat memberikan sambutan di Masjid Al Amal Desa Kampunganyar, Glagah. (Foto: Nurhadi/JatimTIMES)

BANYUWANGITIMES - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Glagah, Banyuwangi, menggelar program Ngaji Bareng MUI di Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Selasa (24/08/2021) malam.

Menurut KH Marfu’ Ali, ketua MUI Kecamatan Glagah, kegiatan yang digelar merupakan realisasi program kerja yang ditetapkan  jajaran pengurus bersama perwakilan tokoh masyarakat dan tokoh agama semua desa/kelurahan di wilayah Glagah serta pemuda Islam Glagah yang tergabung dalam Korp Pemuda Osing (Kopi).

Baca Juga : Ramai Kabar Vaksin Jadi Pemicu Badai Sitokin seperti yang Dialami Deddy Corbuzier, Ini Penjelasan IDI

Tokoh Islam asal Desa Paspan itu menuturkan, salah satu tujuan pelaksanaan Ngaji Bareng MUI merupakan upaya menumbuhkembangkan kerukunan persatuan dan kesatuan umat Islam yang ada di Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), ormas Islam yang tumbuh dan berkembang di Glagah.

“Untuk materi dalam pelaksanaan Ngaji Bareng MUI yang pertama di Masjid Jami’ Al Amal Desa Kampunganyar adalah adab dan tata cara peramutan jenazah. Rencananya kegiatan Ngaji Bareng MUI akan digelar dua bulan sekali dan untuk tempatnya di Desa Kenjo,” ujar KH Marfu’.

Selanjutnya, kiai berkacamata itu menuturkan, pengurus MUI Glagah yang menjadi pemateri dalam acara Ngaji Bareng MUI di Desa Kampunganyar adalah H Mahmud Pradopo (Muhammadiyah) dan Kiai Muhammad Dawam (NU).

“Alhamdulillah Ngaji Bareng MUI berjalan sesuai yang direncanakan semoga bisa istikamah. Tidak lupa kami menyampaikan banyak terima kasih kepada sumua pengurus MUI Glagah dan semua pihak atas kerukunan kekompakan dan kerja sama yang baik  sehingga acara berjalan dengan aman lanca dan sukses. Semoga kegiatan kita mendapat rida Allah SWT. Adapun evaluasi diagendakan dilakukan dalam rapat rutin MUI Glagah bulan September mendatang,” imbuh KH  Marfu’.

Setelah penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan tanya jawab dalam dua sesi yang mendapatkan sambutan antusias dari para peserta. Mereka mengajukan pertanyaan yang terkait dengan adanya adat budaya dan karifan masyarakat setempat dalam memandikan jenazah yang boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Baca Juga : Hadapi Bali United, Persik Kediri Harus Bermain Tanpa Gelandang Asal Brazil

Salah seorang peserta menanyakan penggunaan sarung tangan dalam memandikan mayat  yang untuk sementara bagi sebagian warga masih mengundang pertanyaan.  Kiai Dawam menjelaskan dalam masa pandemi covid 19 yang berlangsung sampai dengan saat ini, ada hal yang wajib dipatuhi agar tidak terjadi penularan.

“Kami di Desa Paspan sudah dua kali menguburkan mayat dengan tidak membuka tali pocong karena rekomendasi dokter, hal tersebut tidak boleh dilakukan. Dalam kondisi darurat, hal tersebut tidak menyalahi ajaran Islam,” ucap Kiai Dawam.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
MUI Glagah Banyuwangi Adab meramut jenazah

Berita Lainnya