Sejarah Es Batu Pertama Masuk Indonesia yang Bikin Heboh pada 1846 | Jatim TIMES

Sejarah Es Batu Pertama Masuk Indonesia yang Bikin Heboh pada 1846

May 06, 2021 08:11
Es batu (Foto: spiritueuxmagazine.com)
Es batu (Foto: spiritueuxmagazine.com)

INDONESIATIMES - Es batu sering sekali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya minuman dingin dengan es batu  dibutuhkan saat suasana panas dan cocok untuk melepas dahaga. 

Tak cuma untuk minuman. Bahkan es batu juga bisa dibuat untuk kecantikan dan membantu meringankan memar pada bagian tubuh. 

Baca Juga : Jadi Khas di Hari Lebaran, Terungkap Alasan Sosok Ayah Tak Pernah Tampil di Kaleng Biskuit Khong Guan

Di Indonesia sendiri yang merupakan negara tropis, tentu sangat penting adanya es batu. Apalagi hampir di setiap rumah, terutama di kota-kota besar, memiliki setidaknya satu unit lemari es atau kulkas yang  bisa memproduksi es batu kapan pun kita mau.

Namun, apakah kalian tahu bagaimana sejarah es batu pertama masuk ke Indonesia?  Pada 2-3 abad yang lalu, es batu adalah barang langka. Bahkan kehadirannya di Indonesia sempat jadi perbincangan. 

Di era tahun 1.800-an, minuman dingin adalah sajian mewah yang hanya dinikmati segolongan kecil dari keluarga Belanda. Mereka tinggal di kawasan Meester (sekarang Jatinegara, Jakarta Timur) dan Weltevreden (sekarang Sawah Besar, Jakarta Pusat). 

Saat itu, es batu digunakan untuk pelengkap minum bir. Dilansir melalui Harian Kompas, kehebohan terjadi saat es batu pertama  masuk Indonesia pada tahun 1846. 

Awal Mula Es Batu Masuk Indonesia

Pada 18 November 1846, surat kabar Javasche Courant memberitakan bahwa sehari sebelumnya, 17 November 1846, sebuah kapal besar dari Boston, Amerika Serikat, telah menambatkan jangkarnya. Kapal tersebut memuat es batu yang dipesan oleh Roselie en Co. 

Es itu rencananya akan dibongkar keesokan harinya. Kabar soal es batu ini lantas menyebar hingga ke Benteng Batavia. Kabar tersebut membuat sibuk pihak Bea Cukai karena belum mempersiapkan aturan mengenai impor es batu.

Kala itu, semua orang memperbincangkan es batu, yang disebut sebagai "batu-batu putih sejernih kristal, yang kalau dipegang bisa membuat tangan kaku". Beberapa hari kemudian, muncul iklan Roselie en Co yang menjual es batu itu dengan harga 10 sen setiap 500 gram.

Es Batu Dibungkus Selimut Wol

Tak sampai di situ. Kehebohan es batu berlanjut setelah surat kabar Javasche Courant menayangkan artikel mengenai cara penyimpanan es batu yakni dibungkus dengan selimut wol.

Es dianggap barang impor yang berharga dari Amerika sehingga penyimpanannya harus diperhatikan agar tak cepat mencair. Selain itu, kedatangan es batu juga dianggap sebagai peluang bagi para pelaku bisnis.

Sejumlah restoran pun mulai menyediakan sajian minuman air es. Bahkan,  perusahaan Djakarta Firms Voute en Gherin juga memanfaatkan "histeria" masyarakat terhadap es batu dengan menjual selimut wol yang bisa dipergunakan untuk menyimpan es.

Kisah lainnya datang dari seorang pengusaha bernama David Gilet, yang menyatakan sanggup menyediakan air es untuk berbagai pesta dengan biaya 15 gulden.

Untuk kali pertama, air es juga disajikan saat malam Natal pada 1846 di Hotel Des Indes (berubah menjadi Hotel Duta Indonesia, dan akhirnya dihancurkan sehingga kini menjadi Duta Merlin, Jakarta Pusat).

Sebagai Obat Sariawan

Dalam perkembangannya, es batu lalu diketahui bisa menjadi obat sariawan. Pemerintah Hindia Belanda kala itu bahkan memberikan bonus sebesar 6.000 gulden untuk mereka yang sanggup mengirimkan es batu ke rumah sakit di Batavia.

Es tersebut akan digunakan untuk mengobati tentara Belanda yang terkena sariawan. Sementara,  di Semarang dan Surabaya, Pemerintah Hindia Belanda menyediakan bonus sebesar 7.300 gulden.

Impor es dari Amerika itu berlangsung hingga tahun 1870 karena saat itu sudah berdiri pabrik es di Batavia. Pabrik es batu itu berdiri setelah prosedur pembuatan amoniak ditemukan di Eropa. 

Baca Juga : Siapakah Sosok Wanita Penyair yang Dipuji Rasulullah?

Teknologi ini diimpor pada 1880. Kehadiran teknologi ini ikut mengubah cara penyimpanan bahan makanan cadangan yang saat itu belum menggunakan pendingin sejenis kulkas. 

Muncul apabrik Es Batu di Berbagai Daerah

Lalu satu dekade kemudian, pabrik es batu mulai berdiri di berbagai daerah. Di Batavia, misalnya, pabrik es berdiri di Molenvliet (Jalan Gadjah Mada dan Jalan Hayam Wuruk) dan kawasan Petojo.

Kebiasaan minum dingin pun semakin menyebar luas. Hingga pada 1895, seorang pengusaha Tionghoa yang lahir di Semarang tahun 1861, Kwa Wan Hong, turut mendirikan pabrik es batu di Semarang.

Hong lalu meluaskan bisnisnya dengan membangun pabrik es lainnya di Semarang (1910), Tegal (1911), dan Pekalongan (1911). Bisnisnya pun rupanya berjaya. 

Ia lalu berlanjut membangun 2 pabrik lagi yakni di Surabaya pada 1924 dan 1926. Selang 2 tahun, Hong menetap di Batavia (Jakarta) dan membangun pabrik es di Jalan Prinsenland (Mangga Besar) dan Rawa Bening di Meester Cornelis, Jatinegara.

Bahkan Hong sampai dijuluki sebagai "rajanya es batu ".

Awalnya Bukan untuk Minuman

Pada masa awal es batu diciptakan, ternyata bukan ditujukan untuk minuman dingin. Fisikawan dan humanitarian Amerika John Gorrie membuat sebuah kulkas pada 1844 dengan perlengkapan pendinginan udara.

Kulkasnya ternyata menghasilkan es. Dari situ Gorrie bisa dianggap pembuat es batu. 

Namun es batu buatannya tidak untuk minuman dingin. Dia menggunakan es itu untuk menurunkan temperatur ruangan.

Es batu diproduksi secara domestik dengan mengisi tempat es batu dengan air dan meletakkannya di sebuah freezer.

Beberapa freezer juga dilengkapi dengan sebuah pembuat es, yang membuat es batu itu secara otomatis. Lalu diletakkannya dalam sebuah tempat yang dari sana es tersebut bisa dituangkan secara langsung ke dalam gelas.

Tempat es batu dirancang untuk membagi penempatan air, yang kemudian ditempatkan di dalam sebuah freezer sampai air tersebut membeku menjadi es, menghasilkan es batu.

Tempat es batu kayu pertama kali itemukan oleh Lloyd Groff Copeman. Tempat es batu yang terbuat dari baja yang fleksibel pertama dibuat oleh Guy L. Tinkham pada 1933.

Topik
Sejarah es batu Es Batu

Berita Lainnya