LUMAJANGTIMES - Bu Martin namanya. Warga Dusun Klompangan, Desa Randuagung, kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, ini menjual petulo di Pasar Randuagung selama tiga tahun lebih.
Selama itu pula, dagangannya selalu laris terjual. Karena itu, Martin optimistis untuk terus berjualan di pasar tradisional karena banyaknya kalangan masyarakat yang masih hobi berbelanja di pasar tradisional meski akhir-akhir ini banyak pasar modern dibuka.
Baca Juga : Desain Garuda Istana Negara Ibu Kota Baru Jadi Kontroversi, Ini Kata Jokowi
Salah satu jajanan pasar yang bisa ditemui di lapak Martin di Pasar Randuagung adalah petulo. “Selama tiga tahun lebih saya berprofesi sebagai penjual petulo. Alhamdulillah setiap harinya kadang terjual habis. Kadang ada sisa, tapi sedikit," kata Martin
Jajan petulo ini hampir persis serabi. Jadi, dilengkapi dengan kuah santan yang manis.
Petulo saat ini memang jarang kita jumpai di pasaran. Termasuk di Tulungagung. Karena itu, petulo buatan Bu Martin yang membuka lapaknya di depan Pasar Randuagung banyak memiliki penikmat.
“Saya khusus buat jajanan tradisional, mulai dari lupis, cenil, bubur ketan hitam, bubur sumsum, dan petulo. Dari semua jenis itu, petulo memang paling laris. Bahkan banyak yang tidak kebagian dan terpaksa harus ikut antrean pemesanan keesokan harinya,” ungkap Martin.
Baca Juga : Percepat Pemulihan Ekonomi, Bupati Trenggalek Buka Pasar Pon Sebelum Bulan Ramadhan
Menurut Martin, yang paling penting dalam pembuatan petulo ini adalah kuahnya. “Kuah inilah yang menentukan enak tidaknya jajan petulo. Kadang kita juga isi nangka atau pandan agar rasa kuahnya enak.” katanya
Dan, Ramadan sudah di depan mata. Biasanya semakin banyak pesanan petulo di bulan puasa. Sehingga Martin pun akan terus berupaya untuk memperbanyak jajajannya.