JEMBERTIMES - Aduan warga Desa Kramat Sukoharjo ke Mapolres Jember terkait tudingan menjual water meter hibah dari PDAM kepada penerima manfaat senilai Rp, 250 ribu dibantah Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (KP-SPAMS) Desa Kramat Sukoharjo, Kecamatan Tanggul, Jember.
Yusuf, selaku ketua KP-SPAMS, mengatakan, bahwa apa yang ditudingkan beberapa warga karena pengadu tidak mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Mereka hanya berdasarkan pengakuan segelintir warga secara sepihak.
Baca Juga : Wali Kota Sutiaji Disambati Pedagang Terkait Banjir di Pasar Bunul
Menurut Yusuf, soal hibah water meter dari PDAM, Desa Kramat Sukoharjo memang mendapatkan bantuan tersebut. Pihak PDAM memberikan bantuan 50 unit water meter. Itu pun bukan water meter baru, melainkan bekas. Dan, tidak semua water meter hibah tersebut bisa digunakan.
“Bantuan water meter dari PDAM memang dapat setelah kepala desa kami mengajukan. Kami mendapatkan bantuan 50 unit. Itu pun tidak dijual, melainkan dipakai untuk mengganti water meter warga yang rusak. Penggantian ini gratis,btidak ada biaya sama sekali,” ujar Yusuf.
Bahkan Yusuf menyangsikan aduan warga tersebut. Menurut dia, jika memang ada yang warga merasa dikenakan biaya program pemasangan air minum dan sanitasi (pamsimas), dikarenakan warga tersebut tidak ikut kerja bakti, tapi hanya menerima manfaat.
“Program pamsimas itu bukan program padat karya, tapi program swadaya. Semua dikerjakan oleh masyarakat yang ikut program tersebut. Jadi, mereka yang ikut menggali jalur pipa dan bekerja secara maksimal. Penyalurannya, kami gratiskan. Ada yang hanya bayar 100 ribu, pokoknya bervariasi tergantung jumlah waktu kerjanya berapa hari. Kalau tidak ikut kerja bakti, ya dikenakan biaya penuh,” ungkap Yusuf.
Yusuf juga menunjukkan water meter yang rusak milik warga dan sudah diganti secara gratis. Bahkan saat ditunjukkan ke media ini, terdapat ratusan water meter dalam kondisi sudah rusak dan tidak bisa digunakan sebanyak dua karung.
“Water meter di sini cepat rusak karena tekanan air yang cukup kencang. Ketinggian sumber mata air tempat penampungan ada di lereng atas. Jika diukur dari sini, mencapai 150 meter ketinggiannya, sehingga water meter cepat rusak. Sebab, aturannya agar water meter bertahan lama, ketinggian air maksimal 100 meter. Jika lebih dari itu, harus ada pengatur atau pembuangan air. Nah kalau pembuangan air dibuat, tekanan air di bawah justru akan lemah,” jelas Yusuf.
Apa yang dikatakan Yusuf ini dibenarkan oleh Pak Dul, warga Dusun Kramat Barat, Desa Kramat Sukoharjo. Menurut pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh ini, program pamsimas sangat dirasakan oleh masyarakat. Pasalnya, kebutuhan air sangat penting bagi keluarganya. Dirinya sangat senang saat diajak kerja bakti membuat saluran pipa. Sehingga saat pemasangan, dirinya hanya dikenakan biaya 100 ribu.
“Kalau tidak ikut kerja bakti, ya memang dikenakan biaya sebesar ketentuan yang disepakati, yakni Rp. 550 ribu. Tapi bagi warga yang ikut kerja bakti, ada keringanan biaya pemasangan, seperti saya hanya bayar 100 ribu, karena saya ikut mengglai selama 6 hari,” ujar Pak Dul.
Baca Juga : Namanya Sontoloyo, Hadirkan Rumah Tradisional Joglo Diserbu Pengunjung Dari Luar Daerah
Seperti diberitakan sebelumnya, hibah water meter dari PDAM Jember untuk Desa Kramat Sukoharjo, Tanggul, sempat disoal warga dan diadukan ke Polres Jember. Warga pengadu menyatakan telah ada pungli di hibah water meter yang ada di desanya.
Dalam pungli tersebut, setiap warga penerima manfaat saluran air (pamsimas) diharuskan membayar biaya sebesar Rp. 550 ribu. Rinciannya, biaya water meter Rp. 250 ribu, biaya kleep sadel Rp. 50 ribu, pipa air dan knee Rp. 150 ribu serta biaya pemasangan sebesar Rp. 100 ribu.
Sedangkan mantan Kepala Desa Kramat Sukoharjo Dwi Siswanto menyikapi persoalan ini dengan mengatakan, persoalan dimunculkan oleh oknum dengan memanfaatkan warga untuk menjatuhkan kredibilitasnya. Itu karena tahun ini Desa Kramat Sukoharjo akan menggelar pilkades (pemilihan kepala desa).
“Warga di Desa Kramat adem ayem, nghak ada masalah. Bahkan saya sering nalangi sendiri membelikan water meter milik warga yang rusak. Ga namanya juga tahun pilkades, tentu akan ada pihak-pihak yang mencoba menjatuhkan lawannya,” pungkas Dwi Siswanto.