Debat pamungkas Pilkada Kabupaten Blitar telah selesai dilaksanakan Selasa (1/12/2020). Petahana Rijanto-Marhaenis Urip Widodo menunjukkan kualitasnya, dengan unggul di seluruh segmen debat yang mengusung tema meningkatkan layanan publik dan reformasi birokrasi.
Dalam debat publik edisi ketiga ini, Rijanto dan Marhaenis terlihat sangat tenang dan menguasai visi misinya. Sehingga, keduanya bisa menjelaskan dengan lugas dan tuntas. Berbeda dengan lawan mereka, paslon nomor urut 02 Rini Syarifah (Mak Rini)-Rahmat Santoso (Makdhe Rahmat) yang terlihat kaku di panggung debat.
Baca Juga : Jelang Pilkada 9 Desember, KPU Kabupaten Kediri Gelar Debat Pamungkas
Meski tampil menyerang, Mak Rini tetap saja tak mampu menunjukkan dirinya profesional berdiplomasi. Ya, Mak Rini tetap banyak membaca seperti di dua edisi debat sebelumnya.
Bahkan tak jarang kritik yang disampaikan Mak Rini di panggung debat adalah data yang sudah basi atau kedaluwarsa. Di antaranya kritik antrean panjang mengular di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil). Padahal kenyataanya saat ini, pelayanan Dispendukcapil sudah banyak inovasi dan terobosan seperti layanan drive thru, dibukanya tempat layanan adminduk (TLA) di Kecamatan Srengat dan Wlingi, hingga layanan jemput bola ke seluruh pedesaan di Blitar.
Ditemui awak media usai agenda debat, Rijanto menegaskan menyerahkan sepenuhnya hasil debat ini kepada masyarakat Kabupaten Blitar. “Saya dan Pak Marhaenis menyerahkan sepenuhnya penilaian debat ini kepada masyarakat. Namun, kami juga punya hak untuk memberikan penilaian bahwa apa yang disampaikan paslon nomor Urut 02 terkait reformasi birokrasi itu sudah kami lakukan semuanya, sudah kami lakukan sejak bertahun-tahun yang lalu,” ungkap dia.
Rijanto mencontohkan, pelayanan di Kantor Dispendukcapil yang dulu pernah dikeluhkan karena antrean panjang kini telah teratasi. Ya kantor Dispendukcapil kini sepi antrean karena keberhasilan pelayanan online, jemput bola, drive thru dan inovasi lainnya. Bahkan pelayanan adminduk di tingkat desa perlahan mulai diterapkan di beberapa desa. Di antaranya di Desa Sanankulon, Kecamatan Sanankulon, dan Desa Rejowinangun Kecamatan Kademangan, sebagai pilot project.
“Masyarakat sudah merasakan perubahan pelayanan di Kantor Dispendukcapil. Sudah tidak ada lagi antrean panjang. Pelayanan adminduk kami epat, dekat, ora ragat. Lha paslon 2 tahu dari mana? Mungkin kantor Dukcapil-nya, mereka juga belum tahu,” tandas calon bupati yang diusung PDIP, Gerindra, Golkar, Nasdem, Demokrat dan PPP itu.
Dikatakannya, reformasi birokrasi dilaksanakan pemerintah untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Reformasi birokrasi merupakan komitmen pengabdian yang dilakukan untuk kemajuan daerah.
“Mereka itu masih konsep-konsep saja. Sedangkan untuk e-government kami sudah laksanakan sejak bertahun-tahun yang lalu. Bahkan untuk saat ini kami sudah masuk ke SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik), dan ini instruksi presiden. Dan inovasi kami sudah banyak. Di antaranya kami sudah e-musrenbang, yang terkoneksi antara desa dengan kabupaten. E-budgeting yang terintegrasi, e-laporan cukup 15 menit tidak perlu lembur,” tukasnya.
Baca Juga : Dilengkapi Fasilitas Cuci Tangan, Warga Jember Diminta Tetap Nyoblos Meski Masih Pandemi Covid-19
Lebih dalam Rijanto menyampaikan, bila kembali terpilih memimpin Kabupaten Blitar, dirinya dan Marhaenis akan menggandeng milenial dan seluruh komponen untuk membangun Kabupaten Blitar yang lebih maju dan berdaya saing. “Kami akan gandeng milenial dan seluruh komponen untuk membangun Blitar Apik Kang Kwentar. Kita Kompak Bisa,” tegasnya.
Krtisik juga disampaikan pasangan Rijanto-Marhaenis kepada lawan mereka. Ya, gaya Mak Rini yang banyak membaca notebook dan Makdhe Rahmat yang lebih banyak diam sangat disayangkan oleh petahana.
“Bukan kami tidak setuju dengan membaca. Tapi ketika ditanya mereka dalam memberikan tanggapan sering tidak sesuai fakta, karena membaca itu tadi,” ucapnya.