Akademisi Unair Drs Suko Widodo
Akademisi Unair Drs Suko Widodo

Pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota Surabaya semakin gencar melakukan sosialisasi. Di sisi lain, perang survei pun kian sengit. Hari ini, Minggu (22/11), Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) mengumumkan hasil survei mereka.

Survei SMRC dilakukan pada 11-18 November. Hasilnya diumumkan oleh Direktur Riset Deni Irvani.  ”Kami menggunakan 820 responden yang tersebar di seluruh kecamatan di Surabaya. Hasilnya pasangan Eri Cahyadi-Armuji (Erji) unggul 48,5 persen. Sedangkan Machfud Arifin-Mujiaman (Maju) 37,3 persen. Yang belum menentukan pilihan 14,2 Persen,” jelas Deni dalam rilis melalui aplikasi Zoom. 

Hasil survei itu berbeda jauh dengan rilis lembaga survei politik Poltracking yang dirilis pada 2 November lalu. Saat itu, Machfud Arifin-Mujiaman disebut  Poltracking unggul 51,7 persen. Sedangkan keterpilihan Eri-Armuji hanya 34,1 persen. 

Perbedaan hasil survei yang begitu jauh tersebut menjadi pertanyaan di tengah masyarakat. Poltracking adalah lembaga survei paling akurat dalam pilpres maupun Pilgub Jatim lalu. Mereka juga satu di antara dua lembaga survei yang terdaftar di KPU Surabaya, selain Indo Barometer. 

Selain survei terhadap pasangan calon, SMRC juga melakukan survei terhadap kepuasan masyarakat kepada kinerja Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Hasilnya, kepuasan warga terhadap Risma disebut berada pada angka 97 persen. Dan itu dianggap ikut mengerek popularitas serta elektabilitas paslon Erji. 

Menanggapi hasil survei dari SMRC itu, pengamat politik dari Universitas Airlangga Suko Widodo mengaku agak heran. Terutama pada kepuasan terhadap Wali Kota Risma yang dia anggap mendekati sempurna. 

”Ini yang saya agak heran? Segitunya ya? Agak mengherankan kepuasannya itu,” ujarnya. 

Jika memang berada di angka tersebut, Suko menganggap Risma sudah selevel dengan malaikat yang tak pernah salah. 

Padahal, lanjut dia, survei kepuasan terhadap Risma pada tahun 2019 ada di angka 78,4 persen. Itu hasil dari penelitian lembaga Surabaya Survey Center (SSC). 

Menurut Suko, jarang sekali kepala pemerintahan dapat kepuasan tinggi. ”Jika kepuasan tinggi itu memang masuk akal? Tapi apakah benar kepuasaanya segitu dan cara mengukur kepuasan seperti apa. Jadi, banyak yang harus kita butuh klarifikasi dan pendalaman,” lanjut dia. 

Sementara, melihat perbedaan hasil antara SMRC dan Poltracking sendiri Suko menilainya bebas saja. "Kalau menurut perundangan,  bebas saja melakukan meneliti. Tapi harus dilandasi ilmiah," tuturnya. 

Suko memilih tak bisa menilai ini benar atau salah. "Tapi saya harus tahu persis. Kalau melihat riset bukan menyangsikan. Tapi harus melihat komprehensif,. Kapan, terus responden diambil cara apa? Kriteria dengan cara apa,"  kata dia. 

Sementara itu, nenanggapi hasil survei SMRC, Direktur Media dan Komunikasi pasangan Maju Imam Syafi’i menyatakan tidak mempermasalahkan dan menghormati. Namun, pria yang mantan jurnalis itu heran dengan hasil pada parameter lain yang dirilis dalam survei itu. Yaitu tentang kepuasan warga Surabaya Tri Rismaharini. 

”Diungkap dalam rilis SMRC, angka kepuasan kepada wali kota Risma 97 persen. Ini kami rasa tidak masuk akal. Dalam beberapa studi yang dilakukan lembaga survei independen maupun lembaga pemerintahan, ketidakpuasan kepada pelayanan Pemkot Surabaya dan wali kota cukup tinggi. Tidak mungkin angka yang tidak puas hanya tiga persen,” ungkap Imam. 

Imam lantas mengungkapkan hasil riset tata kelola ekonomi daerah yang dilakukan oleh Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Disebutkan bahwa Surabaya hanya ada di peringkat ke-27 nasional. Tiga besar dalam survei ini adalah Pontianak, Gorontalo, dan Semarang. Surabaya hanya mampu mendapatkan nilai 45 dari nilai maksimal 100. 

”Kami tentu lebih percaya pada suvei Poltracking, yang selama ini paling presisi dalam memotret elektabilitas Pilpres 2019 maupun Pilgub Jatim 2019. Dan keunggulan survei Poltracking, kami tindak lanjuti dengan tancap gas dalam sosialisasi untuk mempertebal kemenangan,”  ujar Imam. 

Apalagi, lanjut Imam, survei Poltracking dilakukan dengan responden yang lebih besar, 1.200 responden. Margin error-nya pun lebih rendah.