Masih muda tapi punya kepedulian besar pada lingkungan dan dunia literasi, itulah gambaran sosok Abella Citra Prayudisetyo. Gadis manis asal Dusun Sambirobyong, Desa Geneng, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi ini kiprahnya boleh diacungi jempol.
Meski baru berusia 18 tahun pada September 2020 kemarin, dia sangat tekun bergerak di dunia literasi hingga menerbitkan sejumlah buku antologi. Di antaranya berjudul Sekuntum Bunga Dunia; Lembaran Baru; Sajak Cinta untuk Ramadhan; Antara Aku, Kamu, dan Intuisi Kata; Sahur Sastra; Jejak-jejak Waktu, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Baca Juga : Produsen Arang Tradisional Antusias Sambut Program Cabup Banyuwangi Ipuk Tingkatan Kelas UMKM
Selain menekuni dunia tulis-menulis, Abella juga sangat serius dalam mengampanyekan pertanian organik. Siswi yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Ngawi ini sudah memulai aksinya sejak satu setengah tahun lalu.
"Miris melihat petani sekarang, kita tinggal di negara agraris. Namun, kita kelihatan miskin karena harga pupuk yang mahal," kata Abella yang sekarang menggeluti hobi barunya yaitu bertanam organik.
Dia mendalami seluk-beluk pertanian organik untuk mengisi waktu di sela sekolah sistem daring yang membuatnya jenuh.
“Sekolah sistem daring jadi terasa lelah mata melihat gadget terus-menerus dan Abel mengimbanginya dengan bertanam sayuran dan bunga di kebun belakang,” tutur putri dari pasangan Sayudi dan Tina Dewi Setiyowati ini dengan ceria.
"Apalagi Covid-19 gak selesai-selesai, mau kemana-mana juga takut," imbuhnya.
Abella gadis bongsor yang terkenal pendiam di lingkungan sekolah dan rumahnya ini, mulai mengisi waktu luangnya dengan berkebun sejak ada Covid-19.
Dari cabe, terong, tomat, kangkung, bayam, pare, ceme atau oyong, pepaya, sawi, jahe dan masih banyak lagi yang lainnya.
"Abel, menanam tanaman ini serba organik. Jadi dari media, pupuk, dan spray semua serba organik," jelas Abella sambil menunjukkan beberapa koleksi tanamannya yang tumbuh dengan subur.
"Ini POC (Pupuk Organik Cair) dari fermentasi sisa buah-buahan dan bonggol pisang yang difermentasikan dengan gula merah dan air cucian beras," jelasnya.
Baca Juga : Harapan Petani Kepada Paslon Ipuk-Sugirah: Buatlah Kami Tersenyum
Ketika ditanya kegunaannya, Abel pun menerangkan dengan gamblang. “Gunanya untuk merangsang pertumbuhan bunga dan buah pada tanaman di masa vegetatif. Karena dari POC buah itu terdapat unsur P posfor dan K kalium yang sangat dibutuhkan oleh tumbuhan,” urainya.
Abella juga menunjukkan booster dan asam amino juga pesnab koleksi dari pupuk organik miliknya yang diraciknya sendiri.
"Sedangkan ini pesnab dari daun pepaya, daun mimba, daun ekor kuda, daun kelor, kunyit, jahe, bonggol pisang, air cucian beras, dan gula merah yang gunanya untuk pesnab atau pestisida nabati. Apa itu? Pestisida nabati yaitu larutan yang digunakan untuk menghalau atau mencegah hama, virus, tungau, semut dan lain sebagainya bagi tanaman," ujarnya.
"Jadi, Abel gak pernah menggunakan pestisida kimia untuk tanaman kesayanganku. Cukup semprotkan pestisida nabati ini setiap empat hari sekali dan insyaallah hama gak akan datang," imbuh Abel sambil menunjukkan botol air mineral kemasan yang berwarna hijau.
"Kalau untuk tanaman cabe yang keriting daunnya Abel biasa menggunakan pesnab dari fermentasi bawang putih, tembakau, dan 3 tetes sabun cuci piring yang didiamkan 2 malam. Baru di spray setiap empat hari sekali waktu sore," tambahnya sambil menunjukkan botol berisi campuran bawang putih yang masih kelihatan.
"Sebenarnya kita gak perlu takut kalau pupuk kimia mahal. Seluas apapun sawah masih bisa diatasi. Tergantung kita mau apa tidak. Alam sudah menyediakan itu semua. Tinggal pandai-pandai kita mensiasati hal tersebut," pungkasnya.