Ilustrasi, Sungai Pekalen Atas, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Khusus)
Ilustrasi, Sungai Pekalen Atas, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Khusus)

Potensi banjir di musim hujan rupanya bukan hanya menjadi sorotan serius bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo. Namun potensi tersebut juga menjadi sorotan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Mitigasi perubahan iklim memang menjadi perhatian khusus bagi PUPR Kabupaten Peobolinggo. Pasalnya, hujan yang terus mengguyur kawasan Kabupaten Probolinggo yang sudah melebihi pintu air ini diyakini berpotensi timbulkan banjir dalam waktu yang tidak ditentukan.

Baca Juga : Cara GPK Jombang Peringati Maulid Nabi di Tengah Pandemi

Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Jalan dan Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo, Ria Lutvi menjelaskan, beberapa pintu air rutin dipantau. Khususnya, saat terjadi hujan deras. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kejadian luapan air yang mengakibatkan banjir.

“Debit air yang tinggi akibat curah hujan dapat menyebabkan banjir. Beberapa pintu air yang membina aliran harus diwaspadai,” ujarnya.

Menurutnya, beberapa pintu air yang menjadi perhatian serius saat hujan turun, di antaranya adalah pintu air yang berada di Sungai Pekalen di Kecamatan Maron, pintu air di Sungai Kecamatan Gending, dan pintu air di Sungai Kecamatan Dringu. Tiga pintu air ini memiliki peran utama untuk penampungan air. Sehingga dapat mengantisipasi kejadian luapan air di kemudian hari.

“Kawasan Tiris dan Krucil jika terjadi hujan dan alirannya sampai ke Maron. Di pintu air sungai Pekalen, kemudian dibagi ke arah aliran yang mengarah ke wilayah Maron.Sehingga banjir dapat dihindari," jelasnya.

Baca Juga : Koridor Kayutangan Dibangun, Sejumlah Ruas Jalan Ditutup

Tidak hanya memasuki pintu air saat hujan. Mitigasi banjir juga dilakukan dengan normalisasi sungai yang rutin dilakukan petugas di lapangan. Soal pengendapan lumpur segera. Endapan lumpur akan mengakibatkan pendangkalan sungai, dalam jangka panjang berakibat pada aliran sungai yang tidak normal.

“Normalisasi tetap dilakukan terutama aliran sungai yang sudah dikatakan dangkal, agar aliran udara tetap lancar. Pendangkalan dasar sungai juga menjadi salah satu pemicu banjir sebab daya tampung sungai tidak maksimal,” pungkasnya.