Sojo, Ketua DPC Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Ngawi
Sojo, Ketua DPC Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Ngawi

Para petani tembakau di Karang Jati Kabupaten Ngawi kini menjerit karena tembakau hasil penennya banyak tak laku terjual. Kondisi ini makin diperparah dengan merosotnya harga jual tembakau di pasaran.

Ketua DPC Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Ngawi, Sojo menyatakan kini tembakau hasil panen para petani tembakau Ngawi tidak lagi dibeli oleh dua perusahaan rokok besar di Jawa Timur, yakni Gudang Garam dan Sampoerna.

Baca Juga : Minggu 27 September, Gubernur Jatim Akan Gowes di Lumajang

Menurutnya, pihak perusahaan produsen rokok beralasan tembakau yang dihasilkan petani tembakau di Karang Jati Kabupaten Ngawi residu pestisida sudah terlalu tinggi. 

Hanya saja, para petani tembakau di Karang Jati membantahnya. Karena tembakau yang dihasilkan dari tahun ke tahun seperti itu, tetapi kenapa baru tahun 2020 pihak perusahaan menyatakan demikian. "Kenapa sejak awal tidak disampaikan perusahaan dalam pendampingan teknis penanaman tembakau" keluh Sojo saat ditemui Ngawi Times.

Ketika sudah tidak lagi menjual tembakau yang dihasilkan ke perusahaan rokok, para petani tembakau kini berupaya mandiri menjual tembakau ke para pengecer atau pengepul.

Sojo menambah kerugian materi para petani akibat tembakau hasil panen di Ngawi tak laku terjual diperkirakan tembus hingga triliunan rupiah.

Luasan lahan pertanian tembakau di Kabupaten Ngawi pada tahun 2019 mencapai 2.600 hektar. Namun memasuki tahun 2020 luasan lahan tanam tembakau di Ngawi merosot tajam akibat hasil tanam tak laku jual. Luasan lahan tanam tembakau kini diperkirakan hanya sekitar 1.000 hektar. "Para petani tembakau dihadapkan pasar tak jelas, akibat menderita kerugian triliunan rupiah" ungkap Sojo dengan melas.

Baca Juga : Pegawai Terpapar Covid-19, Dinas Perdagangan Perindustrian dan Tenaga Kerja Lock Down

 

Tidak hanya bingung cari pembeli, kini para petani tembakau juga dihadapkan pada serangan hama ulat daun, yang banyak membuat daun tembakau menjadi berlubang.

Para petani tembakau di Karang Jati kini hanya bisa berharap kepada Pemerintah Kabupaten Ngawi, terutama Dinas Pertanian agar membantu persoalannya agar bisa mengembalikan kejayaan para petani tembakau. "Semoga lekas ada perhatian dari pemerintah" harap Sojo, petani tembakau asli Karang Jati yang sudah puluhan tahun menggeluti usahanya.