Setelah sempat mendapat kritik tajam dan penolakan warga, manajemen konten "Pemburu Hantu" angkat bicara. Melalui pemilik konten Ganesha Misteri, Ghofur atau yang dikenal dengan Gus Pur meluruskan kegiatan yang dilakukan selama ini.
"Saya sebagai managemen dan produser Ganesha Misteri saya juga mau meluruskan kepada masyarakat Tulungagung khususnya. Kami punya banyak konten, antara lain Ganesha Misteri, Terastv dan Mastrip Kicau," kata Gus Pur, Minggu (20/09/2020).
Baca Juga : Kisah Tragis Suami di Tulungagung, Kaget Lihat Istri Pulang Dari Taiwan Jadi "Lelaki"
Konten Mastrip Kicau misalnya, menurut Gus Pur mengulas cara perawatan bermacam-macam burung kicau dan perlombaan burung kicau. Sedangkan Terastv mengulas wisata-wisata di Tulungagung, kesenian tradisional dan UMKM Tulungagung.
"Ganesha Misteri juga salah satu konten kami yang mengungkap tempat-tempat misteri seperti program Tukul Jalan-Jalan. Saya tekankan ini hanya sebuah hiburan atau tontonan," ujarnya.
Bagi Gus Pur, hiburan misteri bukan suatu hal yang dilarang dan lebih diminati dari berita lain termasuk tentang misteri dan pandemi Covid-19.
"Karena kita melihat masyarakat saat ini lebih suka melihat berita misteri daripada berita korupsi atau Covid-19," ungkapnya.
Pihaknya juga memastikan, lokasi syuting yang dipilih bukan inisiatif manajemen Ganesha misteri namun atas request atau permintaan warga.
"Saya masuk ke belakang Srabah itu atas dasar request, jadi bukan kehendak sendiri. Sebelumnya, videonya telah saya tonton. Untuk masuk lokasi, saya tidak sembarangan ya," papar Gus Pur.
Gus Pur menegaskan, yang terjadi di Srabah bukan penolakan namun justru warga yang antusias ingin menyaksikan aksinya.
"Jadi itu yang ditulis media salah, yang kita lakukan ini justru untuk warga. Jangan sampai justru warga dianggap memuja tempat itu," tambahnya.
Dengan klarifikasinya, Gus Pur tak lupa menyampaikan permintaan maaf atas kesalahpahaman ini. Dirinya berharap para subcriber kontennya memahami situasi yang terjadi sehingga dirinya perlu meluruskan dengan klarifikasinya ini.
Sebelumnya, puluhan warga Karanganom Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung mengaku resah. Pasalnya, warga mengetahui jika di Sungai Song atau tepatnya di Tempat Kejadian Perkara (TKP) tenggelamnya dua bocah rencananya akan dijadikan tempat syuting misteri, Jumat (18/09/2020) malam.
Dengan kompak puluhan warga pun mendatangi rumah Sukar, Kepala Desa Karanganom. Kemudian mereka menyampaikan penolakan terhadap rencana syuting misteri di Sungai Song.
"Puluhan orang datang ke rumah saya, mereka menyampaikan sikap menolak rencana syuting netralisasi makhluk halus di tempat tenggelamnya dua bocah yang juga warga desa sebelah (Banaran) di Sungai Song," kata Sukar, Sabtu (19/09/2020) pagi.
Alasan mereka, warga menghormati suasana duka bagi orang tua dan keluarga yang telah kehilangan anaknya. Kemudian, beberapa warga lain menganggap syuting semacam itu merupakan penyimpangan iman atau syirik.
Alasan lain yang menguat adanya ketakutan warga jika sungai song diusik, penunggu (makhluk astral) akan marah dan mengganggu warga sekitar.
Baca Juga : Antisipasi Rusuh saat Pengumuman Perhitungan Hasil Suara, Ini Persiapan Aparat Keamanan Banyuwangi
"Berbagai alasan kita tampung, kemudian kita sepakat mengundang para pihak termasuk pemilik channel YouTube untuk datang dan duduk bersama," ujar Sukar.
Tak cukup dengan dirinya, Sukar mengatakan juga menghadirkan Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas untuk membantu menyelesaikan masalah yang dianggap cukup rawan itu.
"Akhirnya dari pihak pemilik channel misteri datang beberapa orang, setelah diskusi panjang lebar mereka memahami dan mau membatalkan rencananya," kata Sukar.
Sebelum penolakan itu, Kepala Desa Bukur Kecamatan Sumbergempol juga pernah menyayangkan syuting pemburu hantu di Ngujang 2 atau tempat meninggalnya korban kecelakaan anak di bawah umur.
Kepala Desa Bukur, Juni yang juga pernah menonton video itu mengaku heran dengan ulah youtuber yang justru menimbulkan keresahan baru.
"Coba jika memang demitnya (makhluk astral) dipindah, sekarang dipindah kemana," tanya Juni, (26/08/2020) lalu.
Bagi Juni, jika memang sebuah kecelakaan jangan sampai dipelintir ke masalah lain. Dirinya mengakui jalan menikung menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan, tapi bukan berarti ada faktor lain yang jauh dari sebab akibat terjadinya.