Penampakan situs petirtaan era Majapahit di sendang Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang. (Foto : dokumentasi JombangTIMES)
Penampakan situs petirtaan era Majapahit di sendang Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang. (Foto : dokumentasi JombangTIMES)

Bangunan purbakala berupa petirtaan suci di Jombang dijadwalkan akan dilakukan ekskavasi lanjutan bulan Oktober mendatang. Ekskavasi tahap dua itu akan fokus untuk menampakkan seluruh bagian petirtaan dan mengatur saluran buang, agar situs tidak terbenam air.

Situs purbakala yang berada di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kabupaten Jombang itu sebelumnya sudah dilakukan ekskavasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim pada 8-18 September 2019. Tahun ini, ekskavasi situs peninggalan kerajaan Majapahit itu akan kembali dilanjutkan.

Baca Juga : Tak Pakai Masker di Jombang Siap-Siap Denda Rp 100 Ribu

Untuk mempersiapkan ekskavasi lanjutan situs petirtaan Sumberbeji itu, pihak BPCB Jatim telah meninjau ke lokasi pada Jumat (11/9) kemarin. "Kita ini tadi mencoba cek lokasi, bagaimana kondisi terakhir ekskavasi kemarin," ujar Kepala BPCB Jatim Zakaria Kasimi di lokasi.

Peninjauan yang dilakukan BPCB Jatim ini bertujuan untuk menentukan skema ekskavasi yang akan dilakukan awal bulan depan. Karena situs petirtaan suci itu berada di dalam embung, maka pekerjaan rumah (PR) BPCB Jatim dalam ekskavasi selanjutnya adalah mengatur saluran buang air.

"Kita coba ini tadi tiga jam disedot airnya juga belum kering. Padahal buat kami, harusnya air ini kan diatur, supaya bagaimana tidak merendam situs ini secara keseluruhan. Jadi ini nanti juga jadi salah satu fokus pengerjaan," urainya.

Dikatakan Zakaria, anggaran ekskavasi untuk situs petirtaan Sumberbeji ini telah disiapkan senilai Rp 200 juta. "Sementara ini dari hasil pembicaraan sekitar Rp 200 juta. Anggaran itu untuk tahun ini, bila kurang nanti kita anggarkan lagi," terangnya.

Dari hasil ekskavasi sebelumnya, situs petirtaan Sumberbeji ini telah berhasil ditampakkan seluruh bagian dinding. Bangunan purbakala tersebut berbentuk persegi panjang dengan luas 20x17 meter persegi. 

Selain itu, juga ditemukan struktur bangunan di dalam petirtaan berbentuk lingkaran dengan ukuran 3,8 meter. Struktur tersebut diperkirakan sebagai bagian inti petirtaan.

Struktur bangunan keseluruhan tersusun dari tatanan bata merah kunu berukuran 38x23x9 sentimeter. Tim ekskavasi waktu itu juga telah berhasil menemukan bagian lantai dasar petirtaan pada kedalaman 2 meter dari struktur bangunan teratas situs. Lantai petirtaan berupa tatanan bata kuno.

Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho menyampaikan, ekskavasi selanjutnya akan melanjutkan menampakkan struktur lain dari situs petirtaan Sumberbeji. Di ekskavasi selanjutnya, ia memperkirakan adanya struktur tangga masuk di dinding sisi timur petirtaan. Juga ekskavasi akan menampakkan seluruh lantai yang masih terpendam.

"Nanti kita akan tampakkan seluruh lantai. Nanti sekaligus kita cari bentuk tangga sisi timur. Kita akan perdalam lagi sehingga mengetahui jelas struktur yang terpendam di bawah," kata Wicaksono saat dihubungi wartawan, Sabtu (12/9).

Baca Juga : Pemkot Blitar Siapkan Rp 131 Juta untuk Ekskavasi Lanjutan Candi Gedog

Situs petirtaan suci itu sebelumnya ditemukan warga di dalam embung Dusun Sumberbeji, pada 23 Juni 2019. Embung tersebut sudah sejak lama menjadi sumber air warga desa setempat untuk mengairi sawah.

Setelah Ekskavasi dilakukan pada September 2019, bangunan yang berhasil diekskavasi kembali terendam air di dalam embung. Dari hasil koordinasi sejumlah pihak, diputuskan untuk situs Sumberbeji ditampakkan dan tidak terendam air.

Untuk itu, kata Wicaksono, pihaknya akan mengupayakan membuat saluran buang agar air di embung bisa mengalir ke luar. Sehingga situs tidak terendam air, dan masyarakat masih tetap bisa memanfaatkan sumber air dari embung Sumberbeji.

"Kita sudah koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memikirkan pembuangan air. Karena selama ini situs Sumberbeji terendam air, karena memang kita belum mengerjakan saluran pembuangan ke sungai. Nah air di Sumberbeji itu digunakan sebagai irigasi petani, sehingga harus ada solusi," terangnya.

Pembuangan air memang difokuskan oleh BPCB di ekskavasi tahun ini. Pasalnya, setelah ekskavasi selesai maka masyarakat bisa langsung memanfaatkannya untuk destinasi wisata.

"Jadi yang bisa kami kerjakan tahun ini adalah bagaimana bisa menormalisasi kembali petirtaan Sumberbeji, sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat Jombang menjadi destinasi wisata. Sekarang kan kondisinya masih terbenam air, nah itu dulu kita kerjakan," pungkasnya.(*)