free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Serba Serbi

Kolektor Puluhan Sepeda Kuno Asal Tulungagung, Ada Yang Terjual Rp 120 Juta

Penulis : Joko Pramono - Editor : Yunan Helmy

09 - Sep - 2020, 22:56

Loading Placeholder
Eko Suwandi bersama istrinya membersihkan koleksi sepeda kunonya. (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Puluhan sepeda kuno berjajar di rumah Eko Suwandi, warga Desa Jarakan, Kecamatan Gondang. Pria ini mengoleksi puluhan sepeda yang berusia di atas 50 tahun.

Di salah satu sudut rumahnya, juga terdapat koleksi barang antik lain yang tersimpan di lemari kayu besar dengan kaca bening. Misalnya, lampu senter, kap lampu ruangan, koin, dan setrika antik.

Baca Juga : Di Tulungagung Celana Dalam Jadi Media Pelet, Hati-Hati Menaruhnya

Ayah satu anak ini lantas menceritakan awal hobinya mengoleksi benda kuno. Berawal tahun 1988, dirinya tertarik melihat benda-benda kuno.  

Menurut Eko, benda kuno selain antik dan unik, ada kepuasan tersendiri saat memiliki benda-benda kuno tersebut. Bahkan, koleksinya ada yang sudah berusia hampir 1 abad.  "Ada yang sudah berusia di atas 50 tahun. Bisa jadi benda cagar budaya,'' guraunya.

Bapak satu anak ini menyebut koleksinya juga cukup banyak pada sepeda onthel dan motor. Tapi hanya merek tertentu. Di antaranya Royal, Norton, dan BSA . Bahkan, dia memiliki sepeda onthel merek BSA dengan tahun pembuatan 1828.

 Meski tergolong usianya sangat tua, semua koleksi Eko masih berfungsi dengan baik dan laik pakai. Dan sebagian, masih orisinal.  "Bisa dikendarai. Karena dirawat," katanya.  

Sepeda-sepeda tua koleksinya kebanyakan dilengkapi lampu penerangan malam hari. Penerangan sepeda di masanya masih menggunakan bahan bakar layaknya pelita. Namun untuk sepeda tua seperti yang dikoleksinya memanfaatkan minyak jarak. Selain minyak jarak, ada pula lampu penerangan sepeda yang menggunakan bahan bakar karbit. Penerangan sepeda onthel jadul ini berfungsi baik.

"Saya mendapatkan ini semua keliling ketika touring motor tua gitu. Tapi ada pula karena dapat info dari teman sesama kolektor," katanya.

Di tengah tren bersepeda ini, Eko mengaku banyak yang yang mencari sepeda onthel tua dengan datang ke rumahnya. Namun mengetahui harganya, mereka mundur. Rerata peminatnya pun dari luar kota, seperti Jogja, Bandung, Surabaya yang diketahui ternyata sesama kolektor.

Baca Juga : Di Tulungagung, Gowes Itu Menyehatkan dan Dapat Pertemukan Jodoh, Begini Triknya

"Kalau harga untuk sepeda, yang paling murah sekitar Rp 5 juta. Ada pula Rp 20 juta. Intinya semakin tua, laik pasti harganya tinggi," jelasnya.

Tak hanya sepeda onthel. Pria ini juga menyisihkan pendapatannya untuk koleksi motor tua merek BSA dan lainnya. Motor tua koleksinya ini ia simpan di garasinya yang berlokasi beberapa meter di belakang rumah utama. Semua masih utuh dan laik jalan. Juga terdapat beberapa sepeda tua yang kondisinya terawat.  

"Masih ada sekitar 9 motor tua yang saya koleksi. Orang dulu menyebutnya motor kebo," tuturnya.  

Semakin tua usianya, semakin mahal harganya. Itu ia buktikan sendiri pernah menjual sepeda motor tertua merek Filler buatan Eropa, tahun 1928. Dari usianya itu, terjual dengan harga Rp 120 juta. Motor tersebut dijual setahun lalu kepada salah satu pensiunan TNI asal Mojokerto. "Ini saya juga masih terus cari, untuk tambah koleksi," tandasnya.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Joko Pramono

Editor

Yunan Helmy

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi

--- Iklan Sponsor ---