Bupati Tulungagung Maryoto Birowo saat hadir dalam prosesi jamasan pusaka Kiai Upas (Foto: Istimewa/ TulungagungTIMES)
Bupati Tulungagung Maryoto Birowo saat hadir dalam prosesi jamasan pusaka Kiai Upas (Foto: Istimewa/ TulungagungTIMES)

Tradisi tahunan upacara Jamasan Tombak Kiai Upas mendapat sorotan dari keluarga Sentono Dalem Perdikan Majan Tulungagung. Menurut keterangan Raden Ali, Ketua Kasepuhan, pernyataan Bupati Maryoto Birowo selaku pimpinan pemerintah daerah yang mengatakan upacara jamasan ini adalah untuk membersihkan pusaka diharapkan bisa memberikan kenyamanan dan keamanan masyarakat Tulungagung.

“Kami selaku keluarga Sentono Dalem Perdikan Majant, beberapa kali mengingatkan bahwa Jamasan Pusaka Kiai Kanjeng Upas adalah tradisi dan sejarah yang harus diingat termasuk nguri uri makam para pemilik pusaka Kanjeng Kiai Upas yang ada di makam Sentono Majan," kata Raden Ali, Minggu (06/09/2020).

Baca Juga : Pemkab Tulungagung Gelar Jamasan Kiai Upas

Jadi, pihaknya meminta agar jangan disangkut pautkan dengan keyakinan kalau pusaka tersebut sebagai penyelamat masyarakat Tulungagung.

"Pusaka Kiai Upas adalah pusaka Bupati Ngrowo yang harus dijaga siapapun bupatinya," tuturnya.

Dalam versinya, Ali mengungkapkan bahwa Kiai Upas  adalah nama sebuah pusaka berbentuk tombak, dengan landeannya sepanjang tidak kurang dari 5 meter. Pusaka ini berasal dari Mataram yang dibawa oleh R.M. Tumenggung Pringgodiningrat putra dari pangeran Notokoesoemo di Pekalongan yang menjadi menantu Sultan Jogyakarta ke II (Hamengku Buwono II yang bertahta pada tahun 1792-1828),  ialah ketika R.T Pringgodiningrat diangkat menjadi Bupati Ngrowo (Tulungagung sekarang).

Lanjutnya, dahulu Pusaka Kiai Upas tersimpan di bekas rumah pensiunan Bupati Pringgokusumo di Kelurahan Kepatihan Tulungagung yang sekarang rumah tersebut dijual.

Bahwa sejak dari R.M Tumenggung Pringgodiningrat pusaka tadi dipelihara baik– baik, turun temurun kepada R.M. Djayaningrat (Bupati Ngrowo V) lalu kepada R.M Somodiningrat (Bupati ke VI) kemudian kepada R.T. Gondokoesoemo (Bupati ke VIII) dan selanjutnya diwariskan kepada adiknya ialah R.M Tumenggung Pringgokoesoemo (Bupati Ngrowo yang ke X).

Setelah R.M.T Pringgokoesoemo pensiun dalam tahun 1895 dan wafat pada tahun 1899, maka pemeliharaan pusaka diteruskan oleh Raden Aju Jandanya, sedang hak temurun pada puteranya yang bernama R.M Moenoto Notokoesoemo Komisaris Polisi di Surabaya.

Sejak tahun 1907 pemeliharaan pusaka berada di tangan menantu dari R.M.T Pringgokoesoemo yaitu R.P.A Sosrodiningrat Bupati Tulungagung yang ke XIII, dan sejak jaman Jepang diteruskan oleh saudaranya yang bernama R.A Hadikoesoemo.

Setelah R.A Hadikoesoemo wafat tugas ini diambil alih kembali oleh R.M. Notokoesoemo.

Makam RMT Pringgodiningrat Bupati Ngrowo Ke IV, RMT Adipati Joyoningrat  Bupati Ngrowo ke V, dan RMT Pringgokusumo Bupati Ngrowo ke X Berada di Pemakaman Keluarga Sentono Dalem Perdikan Majan Desa Majan Kedungwaru Tulungagung.

Raden Mas (RM) Indronoto salah seorang ahli waris yang menempati dalem kanjengan (pemegang dan pemelihara terakhir pusaka Kiai Upas dimakamkan juga di Pemakaman Keluarga Sentono Dalem Perdikan) ini.

"Pusaka peninggalan RMT Pringgodiningrat ini harus diselamatkan untuk mengenang jasa-jasa para kepala pemerintahan Kabupaten Tulungagung dan perjuangan  keluarga Sentono Falem Perdikan Majan," terangnya.

Pusaka Kiai Upas telah dipelihara dengan secara tradisional oleh keturunan Bupati Ngrowo dengan baik karena tugas pemeliharaan ini termasuk suatu kewajiban.

"Jadi sekarang wajib hukumnya Bupati Maryoto Birowo merawat pusaka Kiai Upas," pesannya.

Baca Juga : Kadisbudpar Agendakan Buka Museum Banyuwangi Tempo Doeloe

Secara resmi, Keluarga besar Sentono Dalem Pardikan Majan memberi tiga masukan pada Bupati Tulungagung, di antaranya :

1. Pusaka kanjeng Kyai Upas harus dikembalikan ke Pendopo Kanjengan dan Pemda segera mengagendakan untuk membeli aset tersebut karena sangat berharga dan pusaka jangan diletakkan di kantor Perpustakaan karena tidak layak.

2. Apabila bupati dan Pemda tidak mampu membeli Pendopo Kanjengan, maka Kiai Upas wajib diboyong dan ditempatkan di Pendopo Kabupaten Tulungagung.

3. Apabila ke-dua di atas tidak bisa dilaksanakan maka bupati dan Pemda silahkan membangun rumah Pusaka Kiai Kanjeng Upas di sebelah barat atau utara makam Eyang RMT Pringgodiningrat yang ada di makam keluarga Sentono Perdikan Majan. Tujuannya, agar para peziarah juga mengenang jasa-jasa para bupati terdahulu.

Seperti diketahui, Jamasan (penyucian) tombak ini dilakukan setiap hari Jum'at di atas tanggal 10 Suro. Beberapa hari lalu tepatnya, Jum'at (4/9/20) Jamasan kembali dilaksanakan.

Prosesi jamasan diawali dengan iring-iringan reog kendang dan prajurit yang mengawal air untuk mensucikan tombak ini.

Air yang digunakan berasal dari 9 air berbeda yang masing-masing dibawa oleh perempuan yang masih perawan.

Selanjutnya air itu diserahkan kepada pejabat tertinggi, yang dalam hal ini Bupati Tulungagung. Setelah diserahkan pada bupati, air selanjutnya diserahkan pada pemelihara Kiai Upas.

Selanjutnya, bupati bersama Forkopimda mengangkat tombak Kiai Upas dari penyimpanan, untuk dibawa ke lokasi penyucian yang berada tak jauh dari lokasi penyimpanan, di kantor Arsip Kabupaten Tulungagung di Jalan Urip Sumoharjo.