Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi terus melakukan inovasi dan terobosan untuk terus menggerakan ekonomi masyarakat dan berupaya maksimal melakukan pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid 19 di Banyuwangi.
Salah satu acara yang digelar adalah Pameran Museum dan Kepurbakalaan di halaman kantor Disbudpar Banyuwangi mulai 3-5 September mendatang dan rencana membuka Museum Banyuwangi Tempo Doeloe.
Baca Juga : Edukasi Kaum Milenial lewat Pameran Museum dan Kepurbakalaan
Menurut M Yanuarto Bramuda, Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disbudpar) kabupaten Banyuwangi pameran yang digelar menampilkan berbagai macam benda purbakala yang ada di tangan kolektor, masyarakat dan koleksi Museum Blambangan Banyuwangi.
Pejabat yang akrab disapa Bram itu berharap agar para kepala desa dan warga masyarakat, khususnya para kolektor benda purbakala peninggalan Banyuwangi pada masa Kerajaan Blambangan, Macan Putih maupun Banyuwangi Tempo Doeloe untuk melaporkan koleksi mereka. “Kami berupaya mengusulkan agar disediakan alokasi anggaran untuk mengganti koleksi benda purbakala peninggalan jaman purbakala yang ada di masyarakat. Selain itu kami juga mengagendakan untuk menuntaskan pembangun Museum Banyuwangi Tempo Doeloe yang ada di kawasan kantor Disbudpar Banyuwangi pada tahun ini,” jelasnya.
Dia menuturkan, kekayaan warisan benda purbakala peninggalan masa kejayaan kota di ujung timur pulau Jawa, nantinya akan menjadi etalase bagi warga masyarakat dan wisatawan yang datang ke Banyuwangi dan ingin mengetahui sejarah perjalanan Banyuwangi dari masa kerajaan sampai dengan saat ini.
Selain itu pameran yang digelar merupakan rangkaian simulasi cara Banyuwangi menggerakkan ekonomi dalam masa pandemi Covid 19 agar menjadi contoh cara menjalankan aktivitas pameran dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sekaligus sebagai wahana sosialisasi pada para kades dan masyarakat agar koleksi barang peninggalan bersejarah mereka bisa dimasukkan di Museum Blambangan Banyuwangi.
Sementara Prabowo Koestijadji, salah seorang peserta pameran Kepurbakalaan mengungkapkan dirinya merasa senang dengan adanya even yang bertujuan memelihara dan melestarikan warisan budaya yang digelar pertama kali di Banyuwangi dan hasilnya dinilai sukses.
Menurut dia seyogyanya Disbupar Banyuwangi bisa menggelar pameran benda-benda sejarah secara rutin dan mengusung tema tertentu. ”Sehingga para peserta yang menginginkan ikut bisa menyesuaikan dengan tema yang diangkat dan penataan stand yang tersedia bisa sesuai dengan tema yang diangkat dan tidak campur,” jelas dia.
Selanjutnya Bowo menambahkan dari sebagian kecil barang purbakala yang dipamerkan bisa menjadi bukti bahwa pada masa lalu Banyuwangi pernah mengalami masa kejayaan dengan aneka macam peninggalan benda berharga yang dipajang dalam pameran Musem dan kepurbakalaan saat ini.