Kadinkes Kabupaten Malang, Arbani Mukti Wibowo saat memaparkan aplikasi SMARThealth (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Kadinkes Kabupaten Malang, Arbani Mukti Wibowo saat memaparkan aplikasi SMARThealth (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Tingginya kasus maupun angka kematian akibat penyakit jantung, membuat Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Malang memberikan perhatian khusus terhadap penyakit pada organ manusia yang bertugas menerima dan memompa darah ke seluruh tubuh tersebut.

Dijelaskan Kadinkes (Kepala Dinas Kesehatan) Kabupaten Malang, Arbani Mukti Wibowo, salah satu upaya pencegahan yang bakal dilakukan oleh Pemkab Malang tersebut, adalah dengan memasifkan penggunaan aplikasi SMARThealth.

Baca Juga : Jumlah Positif Covid-19 Akumulatif Tembus 244, Tambahan Sehari 7 Orang di Kota Batu

”Program SMARThealth ini adalah program pengembangan aplikasi untuk deteksi dini bagi kelompok usia resiko penyakit jantung. Dalam hal ini yang kita sasar adalah kelompok usia 40 tahun ke atas,” ungkap Arbani saat ditemui di sela agenda Kampung Cerdik Sehat Jantung Melalui SMARThealth Sijaritung, Senin (24/8/2020).

Menurut Arbani, aplikasi yang dibuat dengan menggandeng salah satu PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Kota Malang ini, telah melalui serangkaian tahap uji coba. Hasilnya, diklaim Arbani, aplikasi yang juga dibuat dengan melibatkan beberapa dokter spesialis jantung ini, memiliki tingkat keakuratan dalam mendeteksi penyakit jantung hingga nyaris 100 persen.

”Kemarim (aplikasi SMARThealth, red) sudah di uji cobakan. Hasil keakuratannya mencapai 95 persen keatas,” ungkap Arbani saat ditemui di sela agenda yang berlangsung di Pringgitan Pendapa Agung Kabupaten Malang, Senin (24/8/2020) siang.

Meski memiliki tingkat keakuratan tinggi, namun cara kerja aplikasi SMARThealth ini terbilang cukup sederhana. Yakni, dalam aplikasi yang ter-Instal di gadget tablet tersebut, menyediakan beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada kalangan usia 40 tahun keatas.

”Jadi aplikasi tersebut ada daftar pertanyaan yang kita buat berdasarkan pengalaman para dokter saat meng-anamnesis (teknik pemeriksaan awal melalui percakapan) penyakit jantung kepada pasien. Namun pertanyaan yang ada di aplikasi itu lebih mudah dan gampang dijawab oleh pasien,” terang Arbani.

Diterangkan olehnya, beberapa pertanyaan yang ada dalam aplikasi SMARThealth tersebut misalnya ; Apakah di keluarga anda tidak ada yang perokok ? , Apakah dalam sekian tahun terakhir pernah mengalami jantung berdebar ? , Makanan apa saja yang sering dikonsumsi ?, hingga pertanyaan yang menanyakan seberapa sering berolahraga dalam setiap harinya.

”Di situ yang diwawancarai tidak mungkin bisa berbohong saat menjawab pertanyaan di aplikasi itu. Sebab pertanyaan yang diajukan juga mudah dijawab, namun sebenarnya di aplikasi itu ada suatu algoritma khusus yang bakal mendeteksi sejak dini, terkait potensi penyakit jantung seseorang,” terang Arbani.

Baca Juga : Jumlah Positif Covid-19 Akumulatif Tembus 244, Tambahan Sehari 7 Orang di Kota Batu

Setelah pertanyaan yang ada dalam aplikasi sudah dilontarkan oleh kader SMARThealth, dan dijawab oleh orang yang beresiko sakit jantung. Maka, diterangkan Arbani, secara otomatis algoritma pertanyaan yang sudah terjawab itu akan terkoneksi dengan aplikasi e-Puskesmas dan PSC (Public Safety Center) 119, tentang program kegawat daruratan yang sebelumnya sudah di-Launching oleh Pemkab Malang pada akhir 2019 lalu.

”Nanti dari e-puskesmas tadi akan dianalisa oleh tenaga kesehatan. Masyarakat yang 40 tahun keatas tadi kemudian dikelompokkan kepada masyarakat yang tidak beresiko penyakit jantung, reskio jantung rendah, resiko jantung sedang dan resiko jantung tinggi,” ungkap Arbani.

Sementara ini, aplikasi SMARThealth ini sudah dibagikan kepada beberapa kader yang ada pada 4 desa di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. ”Para kader sementara ini masih ditempatkan di 4 desa, nanti di bulan September tahun 2020 ini akan kita kembangkan lagi ke 10 desa lainnya,” ujar Arbani.

Para kader yang yang bakal disiapkan tersebut, selain dibekali aplikasi dan pemahaman juga bakal dibekali beberapa peralatan khusus, perihal deteksi dini penyakit jantung.

”Jadi secara bertahap, untuk SMARThealth ini akan kami kembangkan sampai 100 persen desa dan kelurahan di Kabupaten Malang, pada akhir tahun 2025 mendatang,” tukas Arbani sembari mengatakan jika 1 desa bakal disiagakan 5 orang kader SMARThealth.