Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak signifikan terhadap keberlangsungan kegiatan ekonomi di Indonesia. Banyak pelaku usaha yang sudah gulung tikar bahkan tak sedikit perusahaan yang sudah banyak merumahkan karyawannya, tak terkecuali pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Padahal sektor UMKM ini yang paling banyak kontribusinya dalam penyerapan tenaga kerja, terlebih lagi terhadap perputaran roda perekonomian.
Baca Juga : The Kalindra Malang, Apartemen Rasa Hotel Berbintang
UMKM merasakan dampak pandemi yang luar biasa, sehingga kebutuhan pasar mengecil, dan berujung pada keberlangsungan usaha yang sulit dijalankan. Oleh karena itu, pelaku UMKM perlu bangkit dan memanfaatkan momentum masa virtual atau serba online ini, agar mereka tetap bertahan dan terus maju.
Menurut Yoyok Heri Wahyono pelaku usaha UMKM harus tetap berinovasi mengembangkan produknya agar dapat diakses dan dinikmati oleh konsumen serta mahir melihat peluang di masa pandemi covid 19, pasalnya pandemi ini merupakan krisis yang sangat komplek bagi pelaku usaha, berbeda dengan krisis ekonomi sebelumnya.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara Webinar bertemakan “Manajemen Pengembangan UMKM" yang diselenggarakan oleh Jurusan Studi Islam (JSI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Islam Indonesia (UII) dengan menghadirkan lima pemateri, tiga diantaranya dosen dari Program Studi Ekonomi Islam (PSEI) yaitu Dr. Sito Achiria, SE., MM., Tulasmi, SEI., MEI., Muhammad Iqbal, SEI., MSI dan dua praktisi yaitu Yoyok Heri Wahyono (Owner dan CEO Waroeng Spesial Sambel) dan Imam Muttaqin, SHI (Komisaris PT. Yogyakartas Mega Grafika) pada Sabtu (22/8) secara daring.
“Kami (waroeng SS) melakukan inovasi baik dari sisi produk hingga manajemen, karena kami sudah bertekat untuk tidak merumahkan karyawan. Kami membuat paket harga makan seharga 8 ribu tanpa mengurangi kualitas untuk para pelanggan yang mengalami penurunan daya beli di masa pandemi covid 19,” jelas Yoyok lebih lanjut.
Selain itu, efek dari krisis pandemi ini adalah terdegredasinya mental sumberdaya manusia yang dimiliki oleh setiap pelaku usaha, untuk itu dibutuhkan motivasi guna mempetahankan dan meningkatkan mental SDM yang ada.
“Dalam rangka menjaga kualitas SDM agar tetap semangat bekerja, maka kami menghadirkan pimpinan hingga level terbawah, sehingga mutu dan kualitas kami tetap terjaga di masa pandemi covid 19 ini,” ujar yoyok menambahkan.
Dalam pengelolaan SDM yang handal, Siti Achiria menyampaikan strategi mengelola SDM berkualitas pada UMKM yang mengacu pada diri Rasulullah saw dalam berbisnis dengan menjunjung tinggi asas kejujuran, kepercayaan, mumupuni dan profesional.
Baca Juga : Harga Sayur Anjlok, Petani di Kabupaten Kediri Gundah Gulana
Di sesi kedua, disampaikan bagaimana UMKM dapat bertahan di era pandemi dan berkembang di post era pandemi mendatang. Menurut Muhammad Iqbal, UMKM wajib meningkatkan kualitas produk, memberikan value brand yang terbaik, serta update teknologi dalam melakukan pemasaran.
Senada dengannya, Imam Muttaqin selaku Komisaris PT. YKTS menyampaikan bahwa pemasaran online di era milenial ini lebih efektif dan efisien serta lifetime. Pasalnya, hal tersebut ia rasa dapat memberikan eksistensi terhadap usaha yang dijalani.
“Ada beberapa media yang bisa dimanfaatkan untuk pemasaran online seperti website, sosial media, cityzen jurnalism, marketplace, forum online, email, dan portal berita,” tuturnya.
Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta memiliki tiga Program Studi S1 terakreditasi A: (1) Ahwal Al-Syakhshiyyah; (2) Pendidikan Agama Islam, dan (3) Ekonomi Islam. Tahun ini masih membuka pendaftaran mahasiwa baru sampai 28 Agustus 2020. Lihat Profil FIAI UII di link berikut https://youtu.be/rR1cNP_e51w dan web www.fis.uii.ac.id.
FIAI UII juga memiliki Program S2 dan S3, yaitu Magister Ilmu Agama Islam UII yang terakreditasi A, dan Program Doktor Hukum Islam yang terakreditasi B. Informasi selengkapnya di https://master.islamic.uii.ac.id