Sebagai Kota Budaya, Yogyakarta sangat mendukung upaya-upaya pelestarian seni musik. Banyak musik tradisional yang gayanya dikemas menjadi kekinian, contohnya angklung yang ada di sudut-sudut jalan Kota Yogyakarta.
'Para seniman angklung yang menyalurkan kreativitasnya di jalanan, sekarang telah menjadi ikon kota, khususnya di Yogyakarta. Namun dukungan dari pemerintah dalam bentuk materil dirasa belum dirasakan," tutur salah satu seniman, Rizal.
Baca Juga : 37 Tahun Mati Suri, Heppiii Comunity Berhasil Hidupkan Kembali Musik Serbung
Rizal mengatakan, untuk sehari saja pendapatan grupnya tidak lebih dari Rp 100.000, itupun masih dibagi lima anggota, dan sebagian anggota untuk membiayai keluarganya. Terang Rizal saat ditemui Yogyakarta Times pada Kamis (13/8/2020) kemaren.
Dalam melestarikan budaya kesenian angklung, dibutuhkan keuletan dan keseriusan saja tidak cukup, tapi insting bermain musiknya. “Kalau dulu saya belajarnya otodidak (sendiri), kaya memakai nada do re mi fa sol la si do gitu, tidak pelatihan atau kursus seperti mahasiswa jurusan kesenian," jelasnya.
“Angklung Seno Margolaras sebutannya, tempatnya selalu berpindah karena situasi dan kondisi anggota yang selalu keluar masuk. Sekarang, grup angklung ini biasa main di Jalan Taman Siswa mulai pukul 10.00Wib sampai 17.00Wib,” jelas Yano, anggota lainnya.
“Selain main di perempatan, kadang kita diundang di acara pernikahan mendapat 2 Juta atau ikut perlombaan angklung di gedung kebudayaan Yogyakarta bersama Paguyuban Angklung Indonesia (PAY),” terang Rizal.
Baca Juga : Dilantik Rakyat Jelata, APD Nusantara Komitmen Kawal Pembangunan Desa di Era Dana Desa
Salah satu alasan mereka mampu bertahan sebagai pemusik angklung yakni harus memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dalam upaya ikut melestarikan kesenian musik tradisional di Indonesia, Rizal dan kawan-kawannya punyai keinginan agar anak muda sekarang juga turut menyenangi musik angklung. “Juga ikut melestarikan, dan jangan malu yang penting tidak mencuri serta bukan kejahatan malah kreatif pisan,” tutupnya.