Para pemain musik Serbung (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)
Para pemain musik Serbung (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)

Seni musik Serbung, yakni musik tiup dari bambu, yang pada tahun 1920-an sangat populer di Lumajang, benar-benar menghilang dari masyarakat Lumajang selama lebih dari 37 tahun.

Terakhir pernah tampil di TVRI pada tahun 1982, dan setelah itu menghilang, bahkan pemain musik ini juga sulit ditemukan di Lumajang, walau dulu musik Serbung ini sering tampil pada acara hajatan masyarakat Lumajang.

Alfian, seorang seniman yang tergabung dalam Heppii Comunity berusaha menelusuri keberadaan musik Serbung ini. Ternyata, untuk menemukan pemainnya saja bukan persoalan mudah. Alfian harus melakukan penelusuran hingga ke Probolinggo.

Dalam penelusurannya Alfian mendapat informasi bahwa serbung pertama kali diciptakan oleh seorang tokoh yang merupakan leluhur dari kampung Jatimulyo Kecamatan Kunir Lumajang bernama Mbah Eroh. Mbah Eroh kemudian diketahui berasal dari Polotan, Probolinggo.

Usaha pencarian kemudian dilanjutkan Alfian dengan mencari para cucu mbah Eroh yang saat ini usianya 70-an tahun. Dari sana dia mencari pemain serbung yang saat itu satu panjak atau satu grup terdiri dari sembilan orang.

“Kebetulan saat itu pemainnya adalah satu keluarga,” kata Afian.

Setelah melalui proses yang tidak mudah, akhirnya Serbung bisa direkonstruksi menjadi alat musik yang benar-benar bisa dimainkan kembali. Pelan tapi pasti musik Serbung mulai mendapat tempat di masyarakat. Berbagai hajatan kini kembali banyak mengundang tim Serbung Alfian mulai dari Lumajang hingga Probolinggo.

Lalu apa sebenarnya musik Serbung itu? Serbung adalah alat musik tiup yang terbuat dari bambu yang pernah popular di era tahun 1920-an. Serbung dari kata serepoh dan bumbung, jadilah istilah serbung. Serepoh artinya tiup, bumbung artinya bambu.

“Bentuk alat musik Serbung ini seperti bambu tempat air, dan ujungnya lancip seperti bambu runcing yang ditiup, akhirnya jadilah serbung yang punya filosofi perjuangan hidup, air sebagai sumber hidup, dan bambu runcing saat itu sebagai alat perjuangan,” kata Alfian menceritakan bntuk musik Serbung.

Usaha yang dilakukan Alfian untuk menelusuri musik Serbung karena didorong oleh nilai budaya dan filosofi alat alau musik ini yang sangat tinggi.

Kini Serbung bahkan resmi terdaftar di Dinas Pariwisata Lumajang dan sudah memiliki Nomor Induk Organisasi Kesenian (NIOK) pada tahun 2019.

Koordinator Desa Heppiii Community Lumajang Miftachul Arif mengatakan pihaknya mengapresiasi penuh saat Alfian menelusuri musik tradisional yang merupakan bagian dari kearifan lokal di Lumajang ini.

”Kami bantu pengadaan alat termasuk mengembangkan sanggar musik dari bambu ini. Bahkan sudah ada mahasiswa KKN yang ingin tahu soal Serbung,” ungkapnya.