Jurnalis Pokja Dakota (Dewan Kota) Surabaya
Jurnalis Pokja Dakota (Dewan Kota) Surabaya

Wartawan Kelompok Kerja (Pokja) DPRD dan Pemkot kota Surabaya, mendesak ketua komunitas group Whats App (WA) "Rek Ayo Rek" (RAR), Herman Rivai meminta maaf secara terbuka atas komentarnya yang di anggap menyudutkan profesi jurnalis atau wartawan.

Isi pesannya:
1. "Wartawan yang ngepos di dewan mau pun di pemkot kehilangan rasa Jurnalisnya" 
2. "Nggak kritis cenderung pendiam tidak ada greget sama sekali"
3. "Contoh Asrul waktu pemilihan Bambang DH memihak Bambang DH, jaman bu Risma memihak bu Risma, media sudah kehilangan rasa jurnalisnya, hanya memihak periklanan".

S. Wanto, salah satu wartawan yang sehari-harinya mencari berita di lingkungan DPRD dan Pemkot, mengatakan komentar yang dilontarkan di publik oleh Herman Rivai di group WA itu adalah ujaran kebencian dan pelecehan terhadap profesi jurnalis. 

Baca Juga : Kartu KKS Diminta Kades lalu Dialihkan ke Orang Lain, Warga Rejoagung Tulungagung Protes

"Itu adalah salah satu bentuk ujaran kebencian dan pelecehan profesi jurnalis. Khusunya teman-teman yang ngepos di DPRD dan Pemkot Surabaya," ucapnya dengan nada keras, Rabu (29/7/2020). 

Karena itu, dirinya menuntut Herman Rivai yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Surabaya ini harus meminta maaf 1 x 24 jam terhitung mulai hari Rabu (29/7) secara terbuka di media massa.

"Dia juga harus menjelaskan maksudnya apa ngomong seperti itu. Jika tidak dilakukan kami meminta pihak kepolisian mengusut sampai tuntas persoalan ini, karena ini sudah masuk ranah UU ITE," pintanya. 

Sementara itu, Ketua Pokja Wartawan Dewan Kota (Dakota) Surabaya, Maulana mendukung sikap teman-teman wartawan pokja DPRD agar Herman Rivai melakukan permintaan maaf secara terbuka. 

Menurut pria yang akrab disapa Inyong itu, Herman Rivai juga dulu berprofesi wartawan yang cukup senior kala itu. Dia juga mantan Anggota DPRD Surabaya, sehingga pasti mengetahui persis kerja-kerja wartawan di lapangan. 

"Maka statemen yang menyudutkan wartawan secara profesi sangat tidak elok menurut saya, ini harus dikoreksi. Terutama terkait pernyataannya yang menyudutkan profesi kita di ruang publik, ingat grup WA itu sudah menjadi ruang publik lho," katanya. 

Baca Juga : Patut Ditiru, Ada 10 Warga Waung Tulungagung Tolak Dana JPS, Minta Digeser ke Orang Lain

Untuk itu menurut dia akan lebih elok apabila yang bersangkutan melakukan klarifikasi terbuka di grup yang sama mengenai maksud pernyataannya. 

"Soal permintaan maaf, kita ini manusia harus saling memaafkan. Namun sebelum pernyataan yang menyudutkan kami dijelaskan dulu, kan ndak bagus jadinya," lanjut dia. 

Maulana menambahkan, hasil diskusi wartawan Pokja DPRD dan Pemkot Surabaya harus direspons yang bersangkutan sebelum gerakan terhadap upaya pembunuhan karakter profesi jurnalis ini melebar lebih jauh.