Petani Desa Suru ikuti pelatihan denfarm tembakau.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Petani Desa Suru ikuti pelatihan denfarm tembakau.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar melalui Dinas Pertanian dan Pangan mengoptimalkan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBCHT) untuk memajukan pertanian tembakau di wilayahnya. 

Beragam kegiatan yang bersumber dar DBHCHT dilaksanakan Dinas Pertanian dan Pangan. Di antaranya Peningkatan Teknis Denfarm Tembakau yang dilaksanakan di Desa Suru, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar. Kegiatan yang diikuti 15 orang petani desa setempat dilaksanakan selama dua hari pada Senin dan Selasa (20-21/7/2020).

Baca Juga : Kembangkan Usaha Tani Tembakau, Petani Desa Dadaplangu Dapat Bekal Manajemen Bisnis

Ratnawati selaku penyuluh pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar mengatakan, kegiatan Peningkatan Teknis Denfarm Tembakau dilaksanakan secara protokol kesehatan untuk mencegah penyebatan covid-19. Petugas dari Dinas Pertanian turun ke masing-masing desa yang mendapat pelatihan.

“Kami turun langsung ke desa-desa yang mendapat pelatihan. Adapun materi pelatihan menyesuaikan dengan kebutuhan petani di masing-masing desa karena problem yang dihadapi berbeda,” ungkap Ratnawati kepada BLITARTIMES.

Salah satu problem yang dihadapi petani tembakau di Desa Suru adalah terkait pembenihan. Dalam hal ini, saat Peningkatan Teknis Denfarm di Desa Suru, materi yang diberikan fokus terhadap permasalahan yang dihadapi petani. Materi yang disampaikan meliputi penanganan benih dan persemaian dan rekomendasi pupuk untuk tembakau untuk Desa Suru. Sedangkan di hari kedua, petani akan mendapat materi penanganan membasmi hama.

“Di Suru ini masih ada kendala saat persemaian. Jadi, ada yang bibitnya kurang bagus. Harapan ke depan, mereka bisa mandiri untuk pembibitan dan persemaian,” katanya. 

Dipilihnya Desa Suru untuk lokasi denfarm tembakau bukan tanpa alasan. Dahulu bertahun yang lalu Desa Suru merupakan salah satu pusat tembakau di Kabupaten Blitar. Namun belakangan pertanian tembakau di Desa Suru merosot akibat harga tembakau yang sempat anjlok.  Kini hanya segelintir petani saja yang menanam tembakau. 

Luas lahan tembakau di Desa Suru saat ini seluas 5 hektare dengan varietas tembakau yang ditanam adalah tembakau khas Blitar meliputi kedululang dan kali turi. “Kami berharap denfarm yang dilaksanakan ini dapat membangkitkan kejayaan pertanian tembakau di Desa Suru,” ucapnya. 

Baca Juga : Anggaran Terbatas, Pelaksanaan Verval Data Kependudukan Desa di Pacitan Tertunda

Sementara itu, Slamet selaku narasumber dari Balittas Malang dalam kesempatan ini menyampaikan, untuk meningkatkan kualitas tembakau, Balittas mendorong kepada petani untuk bertani secara modern. 

“Tujuan kita adalah untuk memurnikan benih. Benih itu punya andil 20% dalam peningkatkan kualitas hasil tembakau. Seleksi benih merupakan bagian dari modernisasi pertanian. Selama ini petani memilih varietas yang daunya lebar-lebar, tapi kalau dipilih mereka pikir hasilnya pasti tinggi. Padahal secara ilmu, benih itu harus diseleksi lebih dulu. Ada dua filosofi yaitu tanaman itu harus benar dan murni, misal saya menanam kali turi tapi setelah ditanam munculnya kenanga, maka varietas itu tidak murni. Murni saya menanam kenanga, tapi setelah ditanam muncul lima tanaman, berarti itu tidak murni,” jlentrehnya.

Dalam paparan kedua oleh Sulis Nur Hidayati selaku pemateri dari Balittas Malang, disampaikan bahwa pemupukan untuk tembakau direkomendasikan digunakan pupuk yang tidak memiliki klor tinggi. Pupuk untuk tembakau juga tidak disarankan menggunakan pupuk yang memiliki kadar N terlalu tinggi. 

“Sebagai contoh untuk urea apabila digunakan untuk tembakau jenis tertentu mutunya kurang bagus. Kami merekomendasikan ZA. Kecuali untuk perangsang pertumbuhan di awal. Sekarang kan juga banyak produk-produk majemuk. Untuk pupuk majemuk perhatikan komposisi pupuknya. Kemudian pupuknya tidak mengandung klor. Untuk pemberianya berhubungan dengan umur tanaman,” terangnya.(Adv/Kmf) <