Sejumlah siswa baru SDN Kepanjen 2 Jombang terlihat didampingi guru saat berkeliling lingkungan sekolah. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Sejumlah siswa baru SDN Kepanjen 2 Jombang terlihat didampingi guru saat berkeliling lingkungan sekolah. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

JOMBANGTIMES - Masa perkenalan lingkungan sekolah (MPLS) tidak dilakukan secara tatap muka pada  hari pertama masuk sekolah. Namun, pada hari pertama masuk sekolah itu, masih ada siswa yang nekat masuk sekolah.

Seperti yang terjadi di SDN Kepanjen 2 Jombang, Jalan KH Wahid Hasyim, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Jombang. Sedikitnya kurang dari 20 siswa baru yang datang ke sekolah pada hari pertama masuk sekolah, Senin (14/7) pagi tadi.

Baca Juga : 480 Siswa Ikuti MPLS di Kabupaten Ngawi, Ini yang Dilakukan Pihak Sekolah

Kepala SDN 2 Kepanjen Jombang Heri Mujiono mengaku tidak bisa menolak peserta didik barunya yang datang ke sekolah pagi itu. Karena sekolah tidak mengadakan MPLS secara tatap muka, Heri terpaksa mengizinkan puluhan siswa tersebut untuk berkenalan dengan guru dan lingkungan sekolahnya.

"Berhubung banyak anak yang sifatnya sudah mood untuk masuk ke sekolah, akhirnya saya hanya mengizinkan orang tua untuk ngajak anaknya ke sekolah bertemu guru dan keliling sekolah," ujarnya saat dihubungi wartawan, Senin (13/7) sore.

Dijelaskan Heri, siswa yang terlanjur datang ke sekolah tersebut dipandu oleh masing-masing wali murid dan guru pendamping untuk berkeliling lingkungan sekolah. Para siswa juga dikenakan protokol kesehatan, seperti dicek suhu tubuh dan wajib cuci tangan, serta diharuskan mengenakan masker di dalam sekolah.

Pihak sekolah hanya mengizinkan siswa berada di lingkungan sekolah hanya 5-10 menit, kemudian dipersilakan untuk kembali pulang. "Kami persilakan hanya 5-10 menit di sekolah. Tadi tetap menggunakan protokol covid-19, tetap pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan melalui cek suhu tubuh," terangnya.

Untuk selanjutnya, sekolah tersebut tetap akan melakukan kegiatan MPLS melalui sistem daring. Kegiatan MPLS berlangsung hingga Rabu (15/7) lusa. Setelah itu, para siswa akan mendapatkan pelajaran melalui kelas maya yang jadwalnya sudah ditentukan sekolah.

"Kalau selanjutnya pembelajaran tetap kita melakukan daring. Sepanjang belum zona hijau, kami tidak diizinkan untuk pembelajaran secara tatap muka. Kami gunakan kelas maya dengan belajar dari rumah," kata Heri.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang Agus Purnomo mengatakan, kegiatan MPLS diganti dengan sistem daring yang sebelumnya akan dilakukan secara tatap muka. Hal tersebut atas masukan dari beberapa pihak lantaran kasus covid-19 di Jombang masih cukup tinggi.

Baca Juga : 480 Siswa Ikuti MPLS di Kabupaten Ngawi, Ini yang Dilakukan Pihak Sekolah

"Masukan dari IDI, kalau bisa MPLS dilakukan online. Atas masukan itu dan dampak-dampaknya sehingga menjadi pertimbangan kami. Kemarin langsung kami instruksikan kepada seluruh korwilker (koordinator wilayah kerja) untuk menyampaikan kepada sekolah agar pelaksanaan MPLS dilaksanakan secara daring," tandasnya.

Ditegaskan Agus, pelaksanaan MPLS secara daring ini diharapkan bisa ditaati oleh seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Disdikbud Jombang. Ia tidak menginginkan adanya klaster baru penyebaran covid-19 di lingkungan sekolah.

"Apa yang saya sampaikan kepada teman-teman kepala sekolah agar menaati ini. Demi kebaikan kita bersama, jangan sampai terjadi klaster dengan adanya pertemuan MPLS tatap muka ini," pungkasnya.