Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg bersama jajaran saat mengikuti webinar Sosialisasi Akreditasi Internasional ASIIN Jerman dan Strategi Menuju World Class University. (Foto: istimewa)
Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg bersama jajaran saat mengikuti webinar Sosialisasi Akreditasi Internasional ASIIN Jerman dan Strategi Menuju World Class University. (Foto: istimewa)

Pemerintah mendukung perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) menjadi world class university (WCU). Hal ini dilakukan untuk memperbaiki mutu kualitas PTKIN agar dapat bersaing dengan kampus-kampus kelas dunia sekaligus menghasilkan lulusan yang juga dapat bersaing dengan lulusan dari negara-negara maju di dunia internasional.

Salah satu tolok ukur skala pengakuan internasional world class university adalah keunggulan penelitian. Antara lain ditunjukkan dengan kualitas penelitian, produktivitas dan kreativitas penelitian, publikasi hasil penelitian, banyaknya lembaga donor yang bersedia membantu penelitian, adanya hak paten, dan sejenisnya.

Baca Juga : 480 Siswa Ikuti MPLS di Kabupaten Ngawi, Ini yang Dilakukan Pihak Sekolah

Hal inilah yang saat ini sedang diupayakan oleh Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang dan menjadi salah fokus pembahasan dalam pelaksanaan webinar internasional dengan tajuk Sosialisasi Akreditasi Internasional ASIIN Jerman dan Strategi Menuju World Class University, Senin (13/7/2020).

Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg pun memotivasi dosen dan profesor untuk terus aktif menulis dan publikasi karya ilmiah yang terpublikasi, baik di jurnal nasional maupun internasional, seperti scopus dan lainnya. Ia menegaskan bahwa menuju WCU bukanlah perkara mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa diwujudkan.

"Tentunya perguruan tinggi harus menyiapkan SDM yang mumpuni dalam menunjang tujuan kampus menuju WCU," ucapnya.

Untuk menyiapkan SDM ini, UIN Malang meningkatkan kualitas tulisan para dosen serta berupaya terus menambah jumlah profesor di kampus ini hingga mencapai formulasi yang ideal. "UIN Malang terus berupaya meningkatkan mutu SDM baik di sektor pegawai tenaga pendidiknya maupun para dosen," timpalnya.

Soal persentase hasil penelitian ilmiah, diakui atau tidak Indonesia masih tertinggal dengan negara tetangga. Misalkan saja dengan Malaysia, Thailand dan Singapura. 

Prof Haris berpesan, para dosen jangan terjebak dengan kesibukan normatif saja. Misalkan lebih disibukkan dengan persoalan administratif yang bisa berdampak kurang produktifnya para dosen menelurkan tulisan hasil penelitiannya di jurnal ilmiah yang terakreditasi. "UIN Malang siap memfasilitasi para dosen yang produktif melakukan risetnya," tegasnya.

Baca Juga : 480 Siswa Ikuti MPLS di Kabupaten Ngawi, Ini yang Dilakukan Pihak Sekolah

Dijelaskan Prof Haris, perguruan tinggi saat ini tidak hanya sebagai agen pendidikan. Lebih dari itu, perguruan tinggi juga harus bisa menggerakkan masyarakat sekitar agar lebih mandiri. "Khususnya dalam sektor ekonomi melalui hasil inovasi riset yang dilakukan oleh para dosen," katanya.

Segala upaya telah dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maliki Malang melalui program unggulannya, yaitu UIN Mengadi Qaryah Thayyibah 2020. Dengan adanya program tersebut, para dosen dan mahasiswa bisa melakukan riset secara langsung di tengah masyarakat. "Sehingga diharapkan hasil penelitiannya bisa lebih tepat sasaran bagi masyarakat," pungkasnya.

Dalam webinar tersebut, turut hadir Direktur PTKI Kemenag RI Arskal Salim, Ketua Forum Penjaminan Mutu PTKIN Helmi Syaifuddin, dan Pepen Arifin dari Institut Teknologi Bandung (ITB).