Petugas saat berupaya mengevakuasi ular berbisa yang masuk ke pemukiman warga (Foto : PPK Kabupaten Malang for MalangTIMES)
Petugas saat berupaya mengevakuasi ular berbisa yang masuk ke pemukiman warga (Foto : PPK Kabupaten Malang for MalangTIMES)

Selain ular berbisa jenis vespa affinis atau tawon ndas, ular kobra dikabarkan juga sering “meneror” warga di Kabupaten Malang. Hingga saat ini tercatat ada sedikitnya 20 kasus laporan evakuasi hewan yang diterima oleh PPK (Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran) Kabupaten Malang.

Dari 20 laporan tersebut, dijelaskan Goly Karyanto selaku Kepala bidang PPK Kabupaten Malang, 12 laporan diantaranya merupakan kejadian evakuasi hewan berbisa jenis tawon ndas. Sedangkan 8 sisanya merupakan permintaan untuk mengevaluasi ular dan biawak yang masuk ke pemukiman warga.

Baca Juga : DPRD Dorong Pemkab Blitar Tingkatkan Layanan di Bidang Kesehatan dan Ekonomi

”Selain banyak laporan untuk evakuasi tawon (lebah), kami juga banyak menerima laporan evakuasi ular. Sepanjang Januari hingga Mei (2020) permintaan evakuasi ular kobra ada 6 kasus,” kata Goly saat dikonfirmasi media online ini.

Jika dibandingkan tahun sebelumnya dengan kurun waktu yang sama, yakni sepanjang bulan Januari hingga Mei 2019 jumlah evakuasi binatang jenis ular di Kabupaten Malang memang mengalami peningkatan secara signifikan.

Sebab, pada 5 bulan pertama di tahun 2019 tersebut PPK Kabupaten Malang tidak mendapatkan laporan evakuasi ular. ”Ular yang masuk ke pemukiman warga pada tahun ini (2020) itu macam-macam. Ada ular kobra, weling, hingga ular ijo (hijau). Tapi yang paling sering adalah laporan ular berbisa jenis kobra,” ungkap Goly.

Pria berkaca mata ini mengaku jika ular yang memiliki nama ilmiah naja sputatrix atau ular kobra jawa ini, paling gemar menebar “teror” di wilayah Kecamatan di Kabupaten Malang yang ada di lingkar Kota Malang.

Diantaranya, dijelaskan Goly, meliputi Kecamatan Pakisaji, Wagir, termasuk Kepanjen dan beberapa kecamatan lainnya yang berbatasan dengan wilayah Kota Malang.

”Laporan evakuasi hewan yang kami terima memang banyak dari wilayah kecamatan lingkar Kota Malang, biasanya di wilayah perumahan-perumahan. Soalnya kalau yang daerah perdesaan masyarakatnya kebanyakan bisa mengevakuasi ular sendiri,” jelas Goly.

Baca Juga : Tabung LPG Ngowos, Warung Bakso Nyaris Ludes Terbakar, Dua Orang Terluka

Jika mengacu data disepanjang tahun 2019 lalu, jumlah kasus evakuasi hewan di tahun 2020 ini diprediksi bakal mengalami peningkatan. Sebab, disepanjang tahun 2019 silam hanya ada 6 kasus.

 

”Jumlah kasus tahun lalu (2019), sama dengan laporan yang kami terima pada pertengahan tahun ini (2020). Yakni 6 kejadian laporan permintaan evakuasi ular,” pungkasnya.