Hari Purnomo, Kabid Pengendalian Pencemaran DLH Kabupaten Ngawi
Hari Purnomo, Kabid Pengendalian Pencemaran DLH Kabupaten Ngawi

Kondisi Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang mengalir di wilayah Kabupaten Ngawi makin mengkhawatirkan.

Sungai yang dipuja dalam lagu ciptaan Gesang tersebut kini aroma airnya tidak sedap dan makin berwarna hitam pekat. Diduga akibat pencemaran limbah industri dari wilayah hulu sungai.

Baca Juga : Di Lumajang, Stay At Home Picu Peningkatan Volume Sampah

Kondisi ini dikeluhkan warga sekitar aliran sungai. Salah satunya Sugiyem, warga Kelurahan Mulyorejo RT 4. Wanita paruh baya ini menyebutkan pada musim kemarau warna Sungai Bengawan Solo selalu hitam pekat.

“Sudah cukup lama Sungai Bengawan Solo selalu berwarna hitam pekat selama kemarau dan bikin gatal- gatal jika terkena, ungkapnya dengan melas.

Pencemaran bengawan solo

Menyikapi kondisi pencemaran aliran Bengawan Solo yang makin parah, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ngawi telah melakukan pengecekan dan penelitian di lapangan kondisi pencemaran seminggu lalu.

DLH Ngawi menyatakan pencemaran DAS Bengawan Solo, terutama yang mengalir di wilayah Ngawi kategori parah dan membahayakan. Dan saat ini telah mengirim surat ke Balai Besar Wilayah Sungai ( BBWS) Bengawan Solo terkait kondisi saat ini.

“Pencemaran Bengawan Solo jadi masalah klasik dan hingga kini belum ada titik penyelesaian, ungkap Hari Purnomo, Kabid Pengendalian Pencemaran DLH Kabupaten Ngawi.

Hari Purnomo menambahkan, Pencemaran Bengawan Solo umumnya terjadi di wilayah Hulu, yang berasal dari industri tekstil dan industri lainnya di Solo, Jawa Tengah. Sedangkan wilayah Ngawi kebanyakan pencemaran dari limbah rumah tangga.

Baca Juga : Berburu di Kali Brantas, Tangan Pria di Blitar Putus akibat Ledakan Bom Ikan

DLH Ngawi berharap pencemaran di Bengawan Solo segera disikapi pihak terkait. Guna kepentingan hajat hidup masyarakat, khususnya warga yang bermukim di bantaran sungai.