Harry Setia Budi (dua dari kiri) saat mendampingi Sanusi (tiga dari kiri) dan pejabat Pemkab Malang ketika kunjungan kerja di Raja Ampat. Harry saat itu masih menjadi ASN di Raja Ampat. (Foto : Istimewa)
Harry Setia Budi (dua dari kiri) saat mendampingi Sanusi (tiga dari kiri) dan pejabat Pemkab Malang ketika kunjungan kerja di Raja Ampat. Harry saat itu masih menjadi ASN di Raja Ampat. (Foto : Istimewa)

"Awalnya saya tidak tahu siapa itu Harry (saat ini menjabat Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang, Harry Setia Budi). Saya tahunya pertama kali di Raja Ampat. Dia terlihat sangat akrab dengan Pak Sanusi (Bupati Malang)," kata salah satu pejabat eselon dua Pemkab Malang yang minta namanya tidak dipublish.

Menurutnya, sejak kedatangan rombongan bupati dan pejabat Pemkab Malang di Raja Ampat, Harry terus mendampingi Sanusi. "Semula saya mengira Harry memang ASN Raja Ampat yang ditugasi untuk melayani semua keperluan rombongan Pemkab Malang. Namun, lama-kelamaan saya tahu bahwa ada hubungan yang istimewa antara Harry dengan Sanusi," tambahnya.

Baca Juga : Terkait Seleksi Kursi Sekda, LIRA Malang: Harapan Saya yang Sesuai Pilihan Bupati

 

Iya, pada 30 April sampai 2 Mei 2019 lalu, Sanusi mengajak para pejabat di lingkungan Pemkab Malang mengadakan kunjungan kerja ke Sorong dan Raja Ampat. Termasuk juga di dalamnya rekreasi menikmati keindahan alam Raja Ampat. Selain mengajak rombongan pejabat, Sanusi juga mengajak Hj Anis Zaida, istri tercintanya.

Kedekatan antara keluarga Sanusi dengan keluarga Harry juga diungkapkan oleh pejabat lainnya yang ikut dalam rombongan Pemkab Malang. "Saya kira hanya kenal biasa. Tapi ternyata terlihat sangat akrab. Bahkan Harry dan istrinya sering terlihat masuk kamar hotel bupati. Ya kadang-kadang bawa makanan dan buah-buahan," ucap pejabat lainnya yang juga mewanti-wanti namanya minta dirahasiakan.

Keakraban mereka terlihat juga ketika sedang berekreasi di Raja Ampat. Mereka kerap bersenda gurau dan berfoto bersama. "Saat itu tidak ada yang menyangka bahwa Harry akan pindah ke Malang dan menjadi ASN (aparatur sipil negara) di Pemkab Malang. Dan saat ini tiba-tiba langsung menjadi kepala dinas," sambungnya.

Dari kiri: Sanusi, istri Sanusi, dan istri Harry Setia Budi saat rekreasi menikmati keindahan Raja Ampat. (Foto : Istimewa)

Pada awal Mei 2019 lalu, Harry masih menjadi ASN di Raja Ampat. Namun, pada Juni, sebulan berikutnya Harry sudah pindah dan menjadi ASN di Pemkab Malang. Awal masuk ke Malang tidak ada yang aneh, dia menduduki jabatan sebagai staf. Tapi enam bulan berikutnya, dengan tiga kali mutasi, dia kini menjabat sebagai Kepala Dinas P3A Pemkab Malang di usianya yang ke-40. 

"Usianya masih sangat muda. Padahal di Pemkab Malang sendiri banyak pejabat yang kompeten dan sudah seneor. Jabatan Harry melesat seperti jet. Saya tidak tahu apa dia termasuk pejabat yang berprestasi di Raja Ampat. Yang saya dengar, katanya dia masih saudara dengan Pak Sanusi," terang pejabat lainnya di Pemkab Malang.

Harry dilantik menjadi Kepala Dinas P3A pada 7 Januari 2020 di usianya yang belum genap 40 tahun. Bila menilik nomor induk pegawai, dia kelahiran 7 Juli 1980 dan kini menjadi kepala dinas termuda di Pemkab Malang. NIP Harry yang merupakan jebolan STPDN adalah 19800707 199810 01.

Bupati Malang HM Sanusi (7 dari kiri) bersama rombongan pejabat Pemkab Malang saat kunjungan kerja ke Raja Ampat pada 30 April - 2 Mei 2019 (Foto : Istimewa)

Apakah benar Harry memang masih berkerabat dengan Sanusi? Wartawan MalangTimes, media berjejaring terbesar di Indonesia di bawah naungan JatimTimes Network ini menemukan fakta menarik. 

 

Baca Juga : Dikonfirmasi Preferensi Politik, Para Kandidat Calon Sekda Menjawab Ini!

 

Harry dan Sanusi sudah kenal lama. Harry juga sudah dijanjikan untuk mendapatkan jabatan di Pemkab Malang ketika Sanusi ada di Tanah Suci saat umrah pada awal 2019 lalu. 

Seperti apa hubungan Sanusi dan Harry si Anak Emas, ikuti edisi-edisi berikutnya. MalangTimes akan mengupas secara komprehensif dari berbagai sisi. Termasuk pengakuan dari Harry dan juga wawancara dengan Sanusi. 

Selain itu, media ini juga akan mengungkap fakta keanehan-keanehan mutasi lainnya pada era Sanusi. Salah satunya adalah mutasi salah satu kepala bidang di lingkungan dinas binamarga ke dinas tenaga kerja dan juga staf dinas bina marga ke badan diklat. Namun, tiga bulan berikutnya, mereka berdua dikembalikan lagi ke jabatan asal mereka di dinas binamarga.

Kenapa mereka dipindah dari binamarga dan tiga bulan berikutnya dikembalikan ke jabatan mereka semula? Apakah ada hubungan dengan proyek? Apakah ada kaitannya dengan berita yang sudah tertulis di beberapa media mengenai proyek yang dikuasai salah satu keluarga Sanusi?