SAH ketika berziarah di Makam Bung Tomo
SAH ketika berziarah di Makam Bung Tomo

Siti Anggraenie Hapsari (SAH) bakal calon wakil wali kota (Bacawawali) Surabaya berziarah ke makam almarhum Bung Tomo di Jalan Ngagel, Minggu (31/5/2020) pagi. 

Di tempat ini SAH didampingi suami Siswandi dan para relawan. Mereka melakukan tabur bunga dan doa bersama di depan pusara Almarhum Bung Tomo.

SAH maju sebagai calon wakil wali kota Surabaya setelah mendaftarkan diri ke DPC Demokrat beberapa waktu lalu. Diantara calon-calon yang mendaftar, SAH adalah satu-satunya pendaftar yang berasal dari kader Partai Demokrat. 

Selain itu SAH juga tercatat sebagai salah satu pengurus di DPD Partai Demokrat Jawa Timur. Di luar itu ia pun menekuni profesinya sebagai seorang notaris dan aktif di organisasi Ikatan Notaris Indonesia (INI). 


SAH mengatakan sangat menghargai perjuangan Bung Tomo yang telah berjuang dan berkorban mempertaruhkan nyawa untuk Surabaya dan negeri ini, sampai titik darah penghabisan. 

Menurut SAH, Bung Tomo sebagai Arek Suroboyo asli yang dilahirkan di kampung Blauran, pada 3 Oktober 1920 dan pantas mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Sebab, peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA.

Bung Tomo menurut dia juga dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan semangat kemerdekaan. 

“Kemerdekaan ini adalah tanggung jawab kita sekarang. Apa yang harus kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini,” ujar SAH yang juga pengurus di DPD Partai Demokrat Jatim. 


Setelah dari makam Bung Tomo, SAH lanjut berziarah ke makam Dr Soetomo di GNI di Jalan Bubutan 85-87 Surabaya. Ini merupakan kunjungan yang kedua kalinya. Hal ini dinilai pas di tengah upaya pemerintah melawan penyebaran coronavirus atau virus corona. 

Seperti diketahui Dr Soetomo merupakan seorang dokter asal Nganjuk, Jawa Timur, kelahiran 30 Juli 1888. Soetomo juga merupakan seorang pahlawan nasional, pendiri Organisasi Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908. Namanya kemudian diabadikan yang sekarang menjadi RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Karena itu Ibu SAH sengaja berkunjung ke makam Dr. Soetomo dengan harapan dapat merenungi dan meneladaninya.


“Perjuangan beliau terhadap kesehatan masyarakat, pendidikan dan kedokteran. Di jaman penjajahan beliau berjuang untuk rakyat, bukan sebuah upaya yang mudah di bawah penjajahan Belanda saat itu,” lanjutnya.


SAH juga mengaku takjub melihat perjuangan Dr. Soetomo. “Perjuangan beliau untuk Kota Surabaya dan negeri ini patut kita jadikan suri tauladan. Mengingat di tengah musibah yang kita alami saat ini banyak para perawat dan dokter gugur di medan peperangan melawan pandemik covid 19. Mereka adalah para suhada yang mewarisi jiwa-jiwa Dr Soetomo,” imbuhnya.