Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Pada masa Rasulullah SAW menyebarkan ajaran Islam di zaman jahiliyah, tentu tak sedikit yang menerima maupun menolaknya. 

Kisah-kisah perjuangan yang dibalut dengan kekejian kaum kafir pun terdengar begitu luas.

Baca Juga : Pemkot Kediri Resmi Keluarkan Maklumat Bersama Salat Idulfitri di Rumah Saja

Salah satunya adalah kekejian Abu Rafi' Salam bin Abu Haqiq, seorang Yahudi yang sangat kaya raya dan selalu membuat keamanan umat muslim terancam. 

Dengan kekayaan yang dimilikinya, Abu Rafi' selalu murah hati dan mau membiayai siapapun yang hendak menghancurkan Islam.

Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah, Lc., M.A. atau lebih dikenal sebagai Ustadz Khalid Basalamah menyampaikan, berdasarkan HR Bukhari, Abu Rafi' menjadi salah satu musuh yang melakukan berbagai upaya untuk menyerang Rasulullah SAW dan umat muslim saat itu.

Hingga suatu ketika, setelah melaksanakan salat ashar, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, "Siapa yang bisa membunuh Abu Rafi'?,".

Salah seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Atik pun berdiri dan menyampaikan jika ia sanggup membunuh pemimpin Yahudi yang amat terkenal itu. 

Abdullah bin Atik sendiri memang dikenal sebagai salah satu sahabat yang selalu berada di depan dalam setiap peperangan yang dijalani umat muslim.

Tak lama, Abdullah bin Atik melakukan perjalanan menuju benteng Abu Rafi' yang sangat tertutup ketat dengan pasukannya. 

Dikisahkan, benteng Abu Rafi' dijaga sangat ketat, benteng tersebut dihuni oleh sekitar dua ribu orang.

Benteng tersebut sangat luas dan memiliki banyak fasilitas, mulai dari perkebunan hingga pasar. 

Sehingga aktivitas ekonomi masyarakatnya pun bisa dilakukan dalam benteng tersebut. Penjaga yang berada di pintu pun selalu hafal dengan penduduk benteng.

Kondisi itu sedikit menyulitkan Abdullah bin Atik. Abdullah kemudian menunggu bersama pasukannya di sekitar benteng. 

Singkat cerita, penduduk benteng Abu Rafi' keluar lantaran unta milik Abu Rafi' hilang. Seluruh penghuni benteng pun mencarinya hingga keluar benteng.

Melihat ada celah, Abu Rafi' memasuki benteng dan bersembunyi di kandang keledai. 

Saat itu, keledai yang ada di dalam kandang pun terdiam dan tak memberontak. 

Ketika kondisi sudah dinilai aman, Abdullah bin Atik pun keluar dari kandang keledai dan menuju kediaman Abu Rafi'.

Saat itu, Abu Rafi' tengah berada di lantai dua rumahnya. Kondisi di benteng pun sangat gelap, dan Abu Rafi' masih terjaga dengan sebuah lilin. 

Abdullah kemudian menghampiri Abu Rafi' dalam kondisi sangat gelap.

Baca Juga : Bulan Terbelah Jadi Dua, Kisah "Sihir" Terbesar Rasulullah SAW dan Bebalnya Kafir Quraisy

Lantaran gelap, maka Abdullah mencari Abu Rafi' dengan meneriakkan namanya. 

Ketika Abu Rafi' menjawab, maka dicarilah sumber suara itu dan Abdullah langsung menebaskan pedangnya kepada Abu Rafi'. Saat itu, Abi Rafi' masih mengerang kesakitan.

Kemudian Abdullah kembali berteriak dengan nada suara yang berbeda. Abdullah bertanya kepada Abu Rafi' kenapa dia mengerang. 

Abu Rafi' pun menjawab, dan pedang Abdullah kembali didaratkan pada tubuh Abu Rafi'.

Lagi-lagi, Abu Rafi' masih kembali mengerang. Maka Abdullah bin Atik pun membuat suara baru yang ke tiga dan kembali bertanya. 

Saat Abu Rafi' menjawab, maka Abdullah kembali menghampiri sumber suara dan menancapkan pedangnya pada dada Abu Rafi'.

Usai membunuh Abu Rafi', Abdullah pun lari keluar kamar dan lupa jika di depannya terdapat tangga. 

Abdullah terjatuh dan membuat tulang betisnya patah. 

Abdullah keluar dengan kakinya yang patah dan diikat dengan imamah (kain sorban) miliknya. 

Kemudian dia keluar benteng dan menyampaikan pada pasukannya jika ia berhasil membunuh Abu Rafi'.

Kabat itu kemudian disampaikan kepada Rasulullah SAW. Saat menyampaikan kabar tersebut, Abdullah bin Atik menunjukkan kakinya yang patah saat usai membunuh Abu Rafi'. 

Kemudian Rasulullah SAW mengusap kaki Abdullah dan Abdullah pun merasa tak ada sakit pada kakinya, dan Abdullah langsung bisa meloncat.