Kades Kendalbulur Anang Mustofa (kiri) dan Waka Bulog Yudhistira Askar / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Kades Kendalbulur Anang Mustofa (kiri) dan Waka Bulog Yudhistira Askar / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Setelah beberapa bulan warga miskin di Tulungagung menerima beras dengan kualitas premium, kini terancam kembali harus menikmati beras medium. 

Hal itu terjadi setelah suplayer Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Kecamatan Boyolangu mengirim beras jenis medium ke agen untuk disalurkan ke Keluarga Penerima Manfaat (KPM) program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Minggu (18/05/2020) kemarin.

Baca Juga : Jam Operasional Pertokoan Diperpanjang, Dengan Sejumlah Syarat dan Ketentuan

Yang menarik, alasan BUMDes mengirim beras medium ke KPM selain kuantitasnya dinaikkan dari 12,5 kilogram (Kg)(premium) dari suplayer lama, kini menjadi 15 Kg.

"Kita tambahkan beras jenis medium sebanyak 2,5 Kg dan telur enam butir serta ikan segar siap masak," kata Kepala Desa Kendalbulur, Anang Mustofa saat bersama AKD (Asosiasi Kepala Desa) melakukan launching di salah satu agen di desa Ngranti.

Alasan Anang mensuplai beras medium ke agen diantaranya karena banyak temuan di lapanhan. Selama ini KPM menerima beras premium namun kondisi beras setara dengan medium.

"Beras yang katanya dari Bulog dengan jenis premium ini sebenarnya beras medium yang dipoles. Saya bisa menunjukkan perbandingannya," ujar Anang sambil membandingkan beras dari pihak BUMDesa dan beras dari Bulog.

Karena sering ditemukan beras yang dianggap tidak sesuai dengan kriteria premium, pemerintahan desa sering mendapat komplain dari warga sehingga merespon dengan melakukan suplai BPNT ke agen agar KPM punya pilihan lain dan dapat membandingkannya.

"Kita serahkan ke KPM mau pilih mana. Intinya kita berpihak pada kepentingan KPM," tegasnya.

Menanggapi hal itu, manajer suplayer beras yakni Bulog Sub Divre V Tulungagung melalui Waka Yudhistira Askar menegaskan, jika kualitas beras premium dari Bulog dapat dipertanggungjawabkan.

"Yang premium di Bulog kita seleksi ketat sekali. Broken harus dibawah 15 persen, menir 0 dan kualitas poles kebi (kristal), mirip setara Koi," kata Yudhistira.

Bahkan untuk rasa dari beras premium produksi Bulog khusus karena beras tersebut dari padi dengan varietas bagus dan pulen.

"Dan dari segi rasa memang khusus kita pilihkan yang varietas bagus dan pulen. Beda dengan beras medium," lanjutnya.

Baca Juga : Satu Karyawan Pabrik Rokok Positif Covid 19, Total Ada 33 Pasien

Jika memang ditemukan beras premium namun setara medium, Bulog meminta agar masyarakat kritis untuk melaporkan ke pihaknya.

"Bisa jadi ada yang oplos dengan beras lain, karena beras dari bulog premium itu kemasannya 50 Kg," ujarnya.

Setelah diambil suplayer, beras 50 Kg dikemas ulang menjadi 12,5 Kg dan disalurkan ke agen dan dibagikan ke KPM.

"Bisa jadi saat pengemasan itu dicampurkan dengan beras lain," paparnya.

Dirinya akan melakukan pengecekan lebih ketat lagi agar tidak terjadi dugaan pengoplosan beras yang merugikan penerima bantuan.

Jika ditemukan beras lain yang tidak sesuai kriteria, pihak suplayer dapat melaporkan ke pihak Bulog untuk diganti dengan beras yang benar-benar premium sesuai order yang diminta.